Laksana Tri Handoko Fisika Mengeliminasi Pandangan Supranatural

 
 

Menyebut fisika, langsung terbayang ilmu yang susah dipelajari. Apalagi jika guru fisika mengajar dengan cara tidak menarik. Kalau kebanyakan orang menganggap fisika susah, artinya ya itulah alasan utamanya. Secara substantif memang susah, kata Laksana Tri Handoko (42).

Ia ahli fisika teori dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia menekuni penelitian teoretik di bidang fisika partikel elementer dengan fokus tema pemodelan interaksi elementer, biofisika dengan fokus tema dinamika biomateri elementer (DNA/protein), dan sains komputasi dengan fokus pemodelan nanomaterial serta data-mining. Dalam banyak kesempatan, ia tak pernah lelah menyuarakan dan mempromosikan bahwa ilmu pengetahuan, termasuk fisika, itu bukanlah ilmu yang menakutkan. Ilmu pengetahuan bisa diterapkan dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber kesusahan fisika, menurut Handoko, sebenarnya sama seperti ilmu eksakta lain, khususnya matematika. Fisika merupakan ilmu logika yang berjenjang. Membutuhkan tahapan-tahapan untuk mencapai pemahaman pada level tertentu. Orang harus mulai belajar dari dasar, dan secara bertahap terus naik. Itu yang membedakannya secara kontras dengan ilmu sosial pada umumnya, di mana orang bisa mencapai pemahaman tanpa harus memahami secara bertahap dari dasar.

Memang, ada aspek lain yang memperburuk kesan umum fisika sebagai ilmu sulit. Munculnya bukan dari muatan kurikulum, namun dari tuntutan berlebihan dalam bentuk soal yang sulit, akibat sistem seleksi masuk perguruan tinggi (PT) yang sangat kompetitif. Karena kompetisi itu pula sekolah dan guru dipacu, khususnya oleh tuntutan orangtua dan juga siswa, untuk memberikan yang terbaik sebagai bekal persiapan ujian masuk PT.

Koko, panggilan akrabnya, tidak terusik dengan kesan umum itu. Karena memang susah. Jadi, kalau ada kecenderungan lebih sedikit peminat fisika dibandingkan dengan ilmu sosial, itu bukan masalah. Itu fenomena jamak di negara mana pun, ujarnya.

Kesan itu pun tidak perlu direduksi. Yang penting, kesan umum itu harus dibedakan dengan masalah bagaimana memberikan bekal pemahaman kepada siswa akan alam dan lingkungan sekitarnya berbasis hukum fisika di sekolah-sekolah.

Untuk level pendidikan dasar dan menengah, seharusnya pendidikan ilmu fisika diarahkan untuk memahami aneka fenomena di sekitar. Cara itu ditujukan untuk memberikan bekal pola pikir dan pemahaman secara logis berbasis ilmu pengetahuan.

Kalau itu berhasil dilakukan, akan sangat sedikit masyarakat, termasuk yang tidak mengenyam pendidikan tinggi sekali pun, untuk berpikir supranatural saat menemui fenomena aneh di sekitarnya, seperti sering terjadi sampai saat ini, ujar Koko yang juga mengajar di Universitas Indonesia ini.

Lintas Disiplin

Koko, yang dilahirkan di Lawang, Jawa Timur, acap ditampilkan sebagai peneliti yang diharapkan mampu menginspirasi siswa SMA untuk mencintai ilmu pengetahuan, termasuk fisika. Namanya mulai dikenal di dunia penelitian ketika menyabet gelar juara tiga Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang matematika yang diadakan LIPI, pada 1985.

Lulus SMA pada 1987, ia melanjutkan pendidikan ke Jepang. Koko meraih gelar doktornya di Universitas Hiroshima di bidang fisika teori pada 1998.

Pada saat awal kembali ke Indonesia dan mulai bekerja penuh waktu di LIPI pada 2002, ia tergerak mendirikan kelompok penelitian. Dua hal yang mendorongnya. LIPI belum memiliki grup penelitian sains dasar di bidang ilmu eksakta. Grup penelitian itu melakukan penelitian dengan topik mandiri, tidak sekadar sebagai subkontraktor dari grup penelitian di luar negeri, namun bisa berkolaborasi dalam bentuk kemitraan yang sejajar.

Ia memendam obsesi kelak Indonesia memiliki pusat penelitian ilmu dasar dan lanjut untuk menampung topik penelitian lintas disiplin yang mencakup fisika partikel, komputasi sains, matematika, kosmologi, biofisika, dan condensed matter. Minat Koko memang berkembang menembus lintas bidang, termasuk kutak-katik ilmu yang terkait komputer. Kalau komputer itu salah satu hobi utama saya yang kebablasan, katanya, tertawa. Namun, hobi tersebut ia akui menunjang topik utama penelitiannya di fisika teori. Itu pula sebabnya hobi tersebut banyak terkait dengan sistem terdistribusi, baik data maupun pemrograman terdistribusi. [SP/Sotyati]

Suara Pembaruan, 1 Oktober 2010

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 2080