Laksana Tri Handoko, Menggabungkan Ilmu Agar Maju !

 
 

Mengabdikan hidup dan menumpuk prestasi di dunia yang digeluti segelintir orang.

Anda sakit perut, tetapi dokter salah mendiagnosa Kini kemungkinan salah penanganan tersebut bisa diminimalisir, karena teknologi telah memungkinkan dokter mengetahui metode penyembuhan secara pasti dan akurat !

Tunggu, paragraf diatas bukanlah breaking news dari dunia kedokteran. Namun itulah salah satu impian yang bergelantung di pikiran Laksana Tri Handoko, peneliti di bidang fisika dan komputasi yang namanya semakin diperhitungkan di jagad ilmiah Indonesia. Saat ini, dirinya memang sedang sibuk melakukan penelitian bertajuk Pemodelan Dinamika DNA.

Namun sebelum mengerti apa dan bagaimana penelitian tersebut, terlebih dahulu kita bisa perlihatkan mengapa Koko, begitu ia akrab dipanggil, dapat menjadi permata dalam dunia penelitian di Indonesia. Namanya mulai diperbincangkan ketika terpilih menjadi salah satu dari empat peneliti terbaik dalam ajang Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) ke-10 tahun 2002 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Upaya kerasnya mencari partikel Higgs, satu-satunya partikel yang belum dibuktikan secara praktik, diapresiasi LIPI sehingga memilihnya sebagai peneliti terbaik saat ia berusia 34 tahun. Ditahun yang sama, Koko bersama dua rekannya saat itu mendirikan Grup Fisika Teoritik dan Komputasi (GFTK) LIPI, sebuah komunitas ilmiah yang masih langka di Indonesia.

Laksana semakin diperhitungkan ketika meraih BJ Habibie Award dari The Habibie Center pada tahun 2004. Ia dianggap berjasa dalam mengembangkan ilmu fisika teoritis di Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapat penghargaan International Basic Sciences Programme (IBSP) dari badan dunia PBB, UNESCO.

Seperti sudah mendarah daging, pria kelahiran Lawang, 7 Mei 1968 ini terus berkiprah dalam dunia fisika. Pemodelan Dinamika DNA yang disebutkan diatas, telah ia utak-atik bersama koleganya di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) LIPI sejak 2005 hingga sekarang. Terjadinya atau rusaknya DNA (Deoxyribonucleic Acid) sebagai cetak biru bagi segala aktifitas sel memang masih misterius hingga sekarang. Penelitian yang secara jelas menggambarkan fenomena itu relatif belum ada yang memuaskan. Koko pun tengah mengembangkan Teori Fluida untuk menjelaskan DNA.

Ada alasan kuat mengapa Koko bersikeras meneliti DNA. Jika bisa memahami dinamika DNA, maka manusia akan lebih mudah menjelaskan bagaimana sesuatu hal dapat terjadi. Misalnya dalam soal memberi obat pada manusia, yang menurutnya selama ini masih bersifat trial and error. "Kalau 80 persen penderita hidup, sementara sisanya akhirnya meninggal, berarti obat itu relatif efektif untuk diberikan, " ujarnya memberi contoh. Sifat seperti itu masih bisa terjadi karena manusia tidak tahu mekanisme proses biomateri. "Kalau tahu mekanisme, maka kita bisa tahu bagaimana DNA terdeformasi, apakah rusak atau terpengaruh luar sehingga berubah dan menyebabkan manusia menderita sakit, " lanjutnya.

Makanya, saat ini dokter selalu bilang kemungkinan , bukan pasti setiap mendiagnosa penyakit, karena dasar mekanismenya belum diketahui. Sulitnya dunia kedokteran menuntaskan masalah klasik ini menurut Koko karena ilmu kedokteran, biologi maupun fisika selama ini seperti berjalan sendiri-sendiri. "Fisika berbasis logika, sementara hayati berbasis trial and error sehingga lambat kemajuannya, " jelasnya. Namun berkembangnya tren penelitian biofisika, bidang yang ia tekuni sekarang mulai menggabungkan berbagai dunia tersebut. Berbagai rencana jangka panjangpun sudah dimantapkan. Penelitian DNA ini akan ia publikasikan ke jurnal biological physics international. "Di masa depan, ketika kita sakit, kita akan tahu pasti metode penyembuhannya. Karena kita tahu masalah di level terkecil, yaitu DNA, " ungkap Koko.

Kehandalan Koko tidak hanya dalam bidang fisika. Urusan komputasi pun mumpuni. Sejak tahun 2004 ia telah membuat proyek public cluster, semacam mesin paralel yang memungkinkan banyak komputer dijadikan satu untuk digunakan memecahkan masalah-masalah di bidang matematika, fisika teori hingga bioinformatika. Koko mencontohkan masalah pemetaan antara DNA manusia dan hewan. Karena DNA jumlahnya milyaran, maka perlu waktu untuk membandingkan sehingga dibutuhkan banyak otak dalam hal ini komputer yang dihubungkan secara paralel sehingga pembandingan dapat simultan dilakukan. "Untuk menemukan jawaban dari sebuah masalah komputasi (penghitungan) yang rumit bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, maka sistem komputasi ini mengeroyok sebuah pertanyaan dengan banyak personal computer sekaligus, sehingga yang tadinya bisa berbulan bisa jadi harian, " jelas Koko.

Berbagai prestasi ilmiah yang Koko raih tentu tidak ia dapat dengan mulus. Berbagai tantangan tetap ia temukan. Koko mengaku kerap tidak mendapat hasil pada taraf kalkulasi dan membuat rumus yang belum tentu mendapatkan hasilnya. Diskusi rutin dua kali dalam seminggu, mencari literatur-literatur yang sesuai, mencari ide-ide baru atau pengembangan metode alternatif terus ia lancarkan. "Kalau membuat sesuatu, memang tidak ada yang langsung sempurna, " ungkapnya.

Sifat tahan banting yang dimiliki Koko memang tidak didapat secara instan. Ia sudah mencicipi beratnya beratnya medan ilmiah di Jepang selepas lulus SMA. Ia menerima beasiswa dari Overseas Fellowship Programme untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Jurusan Fisika Universitas Kumamoto pun menjadi pilihannya.

Setelah lulus dari Kumamoto pada tahun 1993, kembali Koko mendapat beasiswa. Kali ini dari pemerintah Jepang untuk kuliah S2 di Universitas Hiroshima jurusan Fisika Teoritik. Usai mengambil master pada 1995, ia melanjutkan studi doktor bidang Fisika Teoritik di almamater yang sama dan selesai tahun 1998. Otaknya semakin matang ketika berturut-turut menjalani program Postdoctoral Researcher di Trieste, Italia, menjadi peneliti di The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics hingga Postdoctoral researcher di Hamburg, Jerman.

Berlatar belakang pendidikannya itu, tak aneh bila orangpun mengapresiasi kehebatan Koko dengan ganjaran berbagai penghargaan. Menyinggung berbegai penghargaan tersebut, Koko hanya menyebutnya sebagai sampingan . "Penghargaan memang memacu kita untuk lebih berkarya. Tetapi apa yang kita lakukan bukan untuk mendapat pengakuan, apalagi dunia seperti ini jarang dipahami oleh publik dan mendapat apresiasi, " jelasnya.

Rumus Koko

  • Masalah klasik dunia penelitian di Indonesia sebenarnya bukan dana yang minim, namun komunitas dan budaya ilmiah yang masih sedikit. Hal yang biasa terjadi di negara berkembang, tetapi bukan menjadi alasan karena India yang notabene negara berkembang tetap bisa mempunyai komunitas ilmiah yang kuat.
  • Agar peneliti menjadi handal, jangan langsung pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan S3 di luar negeri. Coba mendapatkan banyak pengalaman dengan menjadi asisten maupun magang sehingga bisa mantap secara kemampuan maupun keuangan. "Walaupun tidak jadi kaya raya, tetapi juga tidak kere ketika pulang ke Indonesia, karena mengawali penelitian sendiri membutuhkan banyak biaya, " ujar Koko.

Penulis : Ramzy Hasibuan
Sumber : Esquire Indonesia (Desember 2007)

Diakses : 1385