Laksana dan Wilson Raih Habibie Award 2004

 
 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Laksana Tri Handoko, staf peneliti di Pusat Penelitian Fisika LIPI dan pengajar luar biasa di Jurusan Fisika dan Program Pasca Sarjana Fisika Universitas Indonesia, dan Wilson Walery Wenas, staf pengajar Institut Teknologi Bandung, memenangkan BJ Habibie Award 2004.

Laksono memenangkan penghargaan untuk kelompok ilmu dasar dan Wilson untuk kelompok ilmu rekayasa.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menyerahkan hadiah kepada kedua pemenang berupa uang sebesar US$ 25 ribu, sertifikat, serta medali.

Menurut Ketua Panitia Seleksi Habibie Award, Wardiman Djojonegoro, tahun ini penghargaan hanya diberikan untuk dua bidang ilmu dari lima kategori bidang ilmu yang dilombakan. "Karena hanya dari dua bidang itu saja yang nominatornya qualified, "kata Wardiman usai penganugerahan di Jakarta, Selasa kemarin (30/11).

Setiap tahunnya Habibie Award memang dibagi menjadi lima kategori bidang ilmu. Namun, tidak setiap tahun kelima kategori itu ada pemenangnya. "Contohnya untuk tahun 2002, sama sekali tidak ada pemenangnya karena calon-calon yang dinominasikan tidak ada yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan, "ujar Wardiman.

Menurut Wilson, hadiah senilai US$ 25 ribu adalah yang terbesar di Indonesia. Pemberian hadiah ini menunjukkan komitmen Habibie terhadap ilmu pengetahuan. "Saya sangat bangga dan berharap ada kompetisi sejenis di Indonesia, " katanya.

Masalah terbesar yang dihadapi peneliti di Indonesia, menurut Wilson adalah dana. Dia melakukan penelitian dengan menggunakan bantuan dana dari luar negeri.

Wilson mengkhususkan penelitiannya di bidang semikonduktor dan teknologi sel surya. Lulusan dengan riset pasca sarjana terbaik di Jepang itu kini sedang mempersiapkan pengembangan industri manufaktur panel sel surya di dalam negeri. Industri ini untuk pembangkit listrik di daerah terpencil yang belum terjangkau listrik PLN.

Laksana adalah seorang peneliti muda yang memfokuskan penelitiannya pada fisika energi tinggi (fisika partikel), khususnya kajian gaya kuat pada peluruhan meson berat.

Laksana menghabiskan 10 tahun hidupnya untuk menimba ilmu di luar negeri, terutama di Jepang dan Jerman. Laksana juga pernah menjadi peneliti di Internasional Center for Theoritical Physics (ICTP) di Italia.

Dalam acara tersebut juga diserahkan pemberian bea siswa kepada enam orang dosen dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Juga pemberian hadiah kepada para pemenang hadiah lomba penulisan esai pendidikan tingkat SMU.

Sumber : TEMPO Interaktif (1 Desember 2004)

Diakses : 1421