Lithium LIPI yang Tipis

 
 

PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan cara pembuatan baterai elektronik dari bahan lithium. Penemuan teknologi ini adalah sebuah terobosan baru yang memungkinkan bangsa ini mampu menyuplai kebutuhan baterai lithium yang saat ini banyak tergantung dari produksi lokal. Hasil dari pengujian dikatakan, penemuan ini cukup stabil dan sudah sesuai dengan standar internasional.

Bambang Prihandoko, Peneliti Utama Pusat Penelitian Fisika LIPI menyampaikan bahwa temuan yang berhasil diracik di laboratoriumnya tersebut sebenarnya sudah sejak lama ditemukan. Namuan karena lamanya proses paten, baru pada tahun ini publikasi penemuan tersebut dilakukan.

Menurutnya bahan baterai lithium yang ditemukan kini sudah mencapai tahap penyempurnaan. Saat ini lembaran-lembaran dasar baterai yang terdiri dari katoda, anoda dan elektrolit sudah siap untuk dibuat menjadi satu sel baterai. Energi yang diciptakannya cukup untuk mengaliri sebuah ponsel atau barang elektronik lain seperti mp3, UPS, atau bahkan laptop.

"Perangkat baterai ini semuanya berbahan dasar padat, " kata Bambang. Berbeda dengan perangkat baterai lithium yang beredar di pasaran saat ini, bahan elektrolit yang digunakan adalah bahan cair. Senyawa yang digunakan biasanya jenis perklorat (LiF atau LiClO4).

Elekrolit berbahan cair kelemahannya lebih tidak stabil dibandingkan materi padat. Untuk itu beberapa jenis baterai lithium saat ini termasuk yang ditemukannya sudah menggunakan bahan materi padat. Materi yang ia gunakan sebagai elektrolit tersebut adalah LiTAlP (Lithium Titanium Aluminium Fosfat). Ia menyebutkan bahan yang digunakannya tersebut lebih stabil dan memiliki nilai hambatan hanya 400 ohm.

Pada model baterai lithium, produksi luaran nilai hambatan baterai, biasanya berada di kisaran 1.000 ohm. Keuntungan untuk jenis baterai buatan Bambang adalah dengan semakin kecilnya nilai hambatan yang diperoleh, maka aliran arus atau yang Ia sebut konduktivitas lebih besar dibandingkan baterai-baterai lain.

Baterai lithium yang diproduksi oleh tim LIPI di Puslit Fisika, hingga berhasil dipatenkan pada Juni lalu, total energi yang mampu disuplai mencapai 3,6 volt untuk satu sel. Rencananya dalam waktu dekat, beberapa percobaan akan dibuat untuk membuat energi suplai ini mampu memenuhi kebutuhan sebuah perangkat elektronik dengan total daya hingga 50 watt.

"Kami sangat bangga dengan penemuan ini, dan rencananya ke depan, tim LIPI akan menjaring beberapa perusahaan dan investor untuk memproduksi baterai tersebut secara massal, " katanya.

Keunggulan lain baterai lithium yang berhasil ditemukan oleh Bambang, adalah jumlah lithium yang menghantarkan arus di dalam setiap sel angkanya lebih besar 0,3 kali dibandingkan jenis lithium pada umumnya. Hasil perhitungan yang diperoleh diketahui bahwa perpaduan materi tersebut mampu menambahkan jumlah lithium pada angka 1,33-1,37.

Peran lithium pada angka yang lebih besar dari satu ini, kata Bambang, mengindikasikan bahwa jumlah arus yang mampu disuplai lebih banyak 0,3 dibandingkan biasanya yang hanya bernilai satu. Tentu saja hal ini akan meningkatkan kemampuan baterai sebagai media penyimpan energi listrik.

Kelebihan lain baterai produksi LIPI ini adalah cukup ringan dan elastis seperti kertas. Untuk membuat lithium dan unsur lainnya bisa lengket menjadi satu dan bisa digunakan sebagai baterai tim menggunakan eva (etilen venil asetat). Eva ini berfungsi seperti lem perekat setiap unsur. Dalam bahasa kompositnya disebut sebagai bahan berbasis polimer.

Dari segi ukuran, baterai yang berhasil dibuat cukup tipis. Ukurannya menyentuh bilangan mikron. Saat ini kisaran persatu lembarnya berada antara 6 sampai 100 mikron. Bambang belum dapat memberikan standar ketebalan tersebut karena belum melakukan penentuan kekentalan larutan yang dibuat.

Ukuran ketebalan lembaran tersebut, ujar Bambang, terkait dengan kebebasan pertukaran elektron. Semakin tipis maka lembaran akan cepat rusak sedangkan semakin tebal, pergerakan elektron tidak bebas. Sehingga akan mengurangi jumlah energinya.

Penulis : Agus Dwi Darmawan

Sumber : Jurnal Nasional (31 Agustus 2007)

Diakses : 1270