Mangga Kasturi, si Manis yang Terancam Punah : Hanya Ada di KRB, Buah Manis dan Harum

 
 

Mangga kasturi yang bernama latin Mangifera casturi Kosterm, pertama kali dideskripsikan oleh Kostermans warga negara asing sekitar 1993. Ketika itu, dia meneliti spesimen mangga kasturi di Herbarium Bogor Rience, Pusat Penelitian Biologi Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor.

Namun, saat itu bukanlah pertama kalinya ditemukan mangga ini. Sebab, jauh sebelumnya, yakni 1978, seorang peneliti bernama Ding Hou, sudah terlebih dahulu menemukan pohon mangga ini di habitat asilnya wilayah Martapura, Kalsel. Ketika itu, Hou menganggap bahwa Mangga Kasturi merupakan satu jenis dengan Mangifera quadrifida. Sampai pada akhirnya, seorang bernama Dilmy membawa spesimen tanaman ini ke Herbarium Rience. Tak diketahui jelas kapan Dilmy membawa spesimen itu.

Sampailah pada 1993, Kostermans menyatakan bahwa mangga ini adalah jenis yang berbeda dengan Mangifera quadrifida, melainkan jenis tersendiri, yakni Mangifera casturi. Saat ini, mangga kasturi sudah tidak ditemukan lagi di habitat aslinya, begitu pula di hutan wilayah Indonesia lain. Di negara- negara lain pun, tak ada jenis mangga ini. Sehingga, bisa dipastikan bahwa mangga kasturi merupakan jenis mangga asli Indonesia. Di Kalsel sendiri, saat ini hanya ditemui mangga kasturi hasil budidaya masyarakat. Tumbuh di pemukiman dan perkebunan warga, bukan di hutan liar seperti aslinya.

Kini, KRB memiliki lima pohon mangga kasturi yang baru berusia sekitar enam tahun. Berbeda dengan mangga-mangga lain, pohon mangga kasturi baru bisa berbuah setelah usianya sepuluh tahun. Lima pohon itu berasal dari pembibitan satu pohon mangga kasturi yang diperkirakan sudah ada di KRB sejak 1970-an.

Pohon ini berada di belakang Garden Shop KRB. Belum ada literatur pasti mengenai tahun ditanamnya pohon ini. Menurut informasi para karyawan KRB yang sudah lama bekerja, pohon ini ditanam oleh Kosterm sekitar 1970- an. Jauh sebelum dia meneliti mangga kasturi secara mendalam.

Kemungkinan dia membawa bibitnya langsung dari Kalimantan, kata Yayan Wahyu C Kusuma, pengawas perbanyakan tumbuhan langka di Subbid Reintruduksi Tumbuhan Langka, KRB LIPI kepada Radar Bogor, Selasa (10/7).

Kendati usianya sudah sangat tua, pohon yang tingginya 15 meter dengan diameter lingkaran tangan dua orang dewasa ini masih produktif berbuah. Jika masih mentah buahnya berwarna hijau, namun saat matang berubah menjadi ungu kehitaman dengan ukuran yang lebih kecil dibanding mangga lain, sekitar 50-84 gram. Rasanya sangat manis dan harum. Itu sebabnya dinamakan mangga kasturi.

Yayan mengatakan, pihaknya berharap ada banyak orang atau lembaga yang melestarikan mangga ini. Sebab, dengan rasanya yang sangat manis dan harum, mangga kasturi bisa dijadikan komoditi buah unggulan Indonesia. Selain itu, manfaat utamanya adalah mempertahankan jenis buah asli Indonesia hingga tak tinggal nama.(nad)
Sumber : Radar Bogor, 11 Juli 2012

Sivitas Terkait : Yayan Wahyu Candra Kusuma

Diakses : 4927