Masih Layak Jadi Ibukota, Jakarta Harus Berubah

 
 
TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Dibalik gegap gempita pemilihan gubernur DKI Jakarta, warga ibukota tetap dihantui berbagai macam masalah. Persoalan sosial, kerusakan lingkungan, kemacetan dan banjir merupakan sebagian masalah krusial di kota metropolitan ini.

Center for Interdiciplinary and Advanced Research (ICIAR)-LIPI dan Institute for Environment and Human Security-United Nation University (UNU-EHS) pun kemudian menarik berbagai macam masalah itu ke dalam sebuah diskusi. Mereka membahas pembangunan di kawasan yang menghubungkan daerah perkotaan dan pesisir ini.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI), Lukman Hakim mengatakan dalam melihat wajah Jakarta, harus dibicarakan pula sebuah peluang, dimana kesempatan untuk berubah pasti ada.

"Kita mencari peluang dalam perubahan iklim yang terjadi. Melihat bencana bukan hanya sebagai bencana, melainkan juga melihat peluang yang ada. Kita lihat Jakarta dan Semarang mempunyai masalah yang serupa. Hari ini kita bahas kerawanan dan ketahanan wilayah pesisir, " kata Lukman di Bogor, Kamis(12/7/2012).

Direktur ICIAR-LIPI Jan Sopaheluwakan menambahkan Jakarta masih layak untuk menjadi ibu kota negara, selama memiliki keadilan antara lingkungan dan kehidupan sosial, pembenahan tata ruang, pemenuhan kebutuhan pangan, air, dan energi, serta yang terakhir adalah adanya konstruksi sosial dan ekonomi yang sehat.

Dalam acara ini, Jakarta dibandingan dengan beberapa kota besar lain di Indonesia dan di wilayah lain di dunia yang juga berada di daerah pesisir.

Sebelum terlambat, kata Jan Jakarta harus segera berubah. Jika tidak, maka kondisi alam Jakarta akan terus memburuk, penduduk bertambah padat, dan bukan hanya tidak layak menjadi ibu kota negara ini, tetapi bahkan tidak layak untuk dihuni.
Sumber : Tribunnews.com (Jumat, 13 Juli 2012)

Sivitas Terkait : Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono

Diakses : 1128