Masyarakat Kurang Paham Iptek

 
 
Menjadi Salah Satu Penyebab Kurang Berkembangnya Riset

JAKARTA.(PR). Persepsi masyarakat yang masihminim terhadap ilmu pengetahuan danteknologi (iptek) menjadi salah satupenyebab sulit berkembangnya risetberbasis iptek di Indonesia. Diketahui,sebanyak 54 persen masyarakat Indonesiakurang paham terhadap isu iptek.

Hal tersebut diketahui dari hasil studi yang dilakukan Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Studi tersebut dilakukan di 10 kota besar di Indonesia terhadap masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, mulai dari Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Ambon, Balikpapan, Bandung, Batam, dan Denpasar.

Kepala Pappiptek LIPI Trina Fizzanty menuturkan, studi tersebut dilakukan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap iptek. Ini dilakukan karena pemahaman masyarakat merupakan basis yangpenting jika pemerintah ingin menumbuhkembangkan penelitian iptek untuk kemajuan ekonomi.

"Malaysia rutin melakukan kajian seperti itu. Jadi untuk menyusun strategi pengembangan iptek, perlu diketahui sejauh mana pemahaman masyarakatnya. Hasilnya pun memang masayarakat lota masih kurang paham bukan hanya terkait dengan manfaatnya tetapi juga definisi iptek itu sendiri, " ujarnya seusai acara diskusi dan peluncuran buku Persepsi Masyarakat Indonesia Terhadap Iptek di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Rabu (2/9/2015).

Dari hasil studi tersebut hanya 696 masyarakat yang benar-benar memiliki pemahaman yang baik terhadap isu iptek. Sebanyak 40 persen lainnya cukup paham, sementara 54 persen kurang paham.

Trina menuturkan, 76 persen masyarakat menilai iptek adalah suatu penemuan besar. Semetara itu, 62 persen menyatakan iptek adalah upaya perbaikan kehidupan masyarakat, dan 46 persen menyebut iptek sebagai perubahan yang cepat.

Pemahaman masyarakat tersebut menurut Trina kurang tepat karena iptek mencakup hal yang lebih luas lagi, yakni pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai aspek. Kurangnya pemahaman masyarakat tersebut disebabkan akses informasi terkait dengan iptek yang jarang dikunjungi masyarakat.

Museum iptek menempati posisi terendah sebagai tempat yang dikunjungi masyarakat atau hanya 2 persen. Hal ini berbeda jauh dengan kebun binatang yang mencapai jumlah 10 persen karena lebih diminati oleh masyarakat.

Fakta ini cukup disayangkan, karena akhirnya akses informasi mengenai iptek terhadap masyarakat menjadi sangat minim. Dibandingkan dengan Malaysia, ketertarikan masyarakat terhadap museum iptek mencapai 11 persen. Sementara itu, di Amerika Serikat minat masyarakatnya mencapai 25 persen.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menuturkan, angka 54 persen masyarakat yang kurang memahami iptek tersebut menjadi gambaran betapa besarnya upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk menumbuhkembangkan iptek. Saat ini, Indonesia memang mulai membidik industri untuk bisa bersinergi dengan peneliti dalam mengembangkan produk berbasis iptek.

LIPI SBII Award

Sebagai salah satu bentuk dorongan untuk industri memanfaatkan inovasi-inovasi berbasis riset Iskandar menjelaskan, LIPI memberikan LIPI Science-Based Industrial Award (UPI SBH Award) 2015. Ajang tersebut merupakan yang kedua kalinya digelar, setelah jang pertama kah digelar pada 2013 lalu.

Dari 10 finalis perusahaan, 2 di antaranya terpilih sebagai pemenang penghargaan yakni PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) untuk kategori Physical Science, dan PT Caprifarmindo Laboratories untuk kategori life Science.

"Mereka terpilih dari ratusan perusahaan industri yang diseleksi ketat dari berbagai aspek, terutama dalam hal konsistensi perusahaan untuk mengembangkan dan memanfaatkan inovasi berbasis iptek. Adanya penghargaan ini diharapkan dapat mendorong industri lainnya untuk membangun sinergi dengan peneliti dan juga perguruan tinggi, " ucapnya. (Siska Nirmala)


Sumber : Pikiran Rakyat, edisi 4 September 2015. Hal: 27

Sivitas Terkait : Trina Fizzanty

Diakses : 4859