Menegristek Dukung Perkembangan Fisika di Indonesia

 
 

Riset ilmu dasar sangat penting bagi kesinambungan ekonomi. CERN adalah laboratorium iptek terbesar di dunia yang senantiasa berhasil mengembangkan aplikasi teknologi vital bagi segala peradaban.

Contohnya adalah teknologi internet. CERN (the European Organization for Nuclear Research) awalnya menciptakan teknologi ini semata untuk keperluan jaringan komunikasi di antara penelitinya yang tersebar di seluruh dunia, kini seluruh masyarakat modern tak mungkin hidup tanpa internet.

Bergelut di dalam riset fisika partikel yang jadi fokus utamanya, ribuan peneliti CERN senantiasa berhasil mengembangkan berbagai pengetahuan teknik sangat berharga untuk berbagai bidang di luar fisika. Mereka terlibat pada pengembangan peralatan detektor dan terapi kanker, penciptaan teknologi superkonduktor yang menjadi inti sistem transportasi kereta api super cepat, penyempurnaan sistem pembangkit energi, dan banyak aplikasi lainnya.

Sebagai komoditas, pelbagai teknologi canggih tersebut memiliki nilai yang sangat mahal. Ini tidak mengherankan bilamana mengingat setiap peneliti yang terlibat harus bekerja ekstra keras sebelum berhasil merampungkan pengetahuan dan teknik yang diperlukan.

Tanpa riset dasar, suatu negara akhirnya akan bergantung pada impor teknologi dari negara lain.

Mengenal CERN

Pemahaman atas kiprah CERN yang erat manfaatnya dengan kemajuan dan ketangguhan perekonomian bangsa, tumbuh saat salah seorang pejabat seniornya berkunjung ke Indonesia (26-28 Juni 2012). Profesor Emmanuel Tsesmelis, penasihat internasional CERN bertandang untuk mengembangkan jaringan kerjasama dengan lembaga dan kelompok peneliti di Indonesia.

Dengan jadwal kunjungan singkat, agenda kerja Prof. Tsesmelis sangat padat, demi menyemai benih jaringan tangguh dengan Indonesia. Dalam dukungan koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Prof. Tsesmelis sukses berdialog dengan berbagai unsur dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan instansi pemerintahan, dan tak lupa, mahasiswa Indonesia.

Dalam kurang dari tiga hari, Prof. Tsesmelis memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI) (Selasa, 26/06), berkunjung ke beberapa unit kerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Puspiptek Serpong (Rabu, 27/06), serta bertemu dengan peneliti/akademisi dari berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi Indonesia (Rabu, 27/06). Tidak berhenti di situ, Prof. Tsesmelis juga mengadakan pertemuan kehormatan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek) (Kamis, 28/06), Kepala LIPI (Kamis, 28/06), serta Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Kerjasama Internasional (Kamis, 28/06).

Tak hanya mengelola sebuah laboratorium berukuran luar biasa, yang bangunan fisiknya memiliki lingkar luar panjang 27 kilometer, CERN juga menggalang jaringan kerja internasional berdimensi raksasa. Prof. Tsesmelis mengungkapkan sekitar 13.300 peneliti dan pengembang teknologi mancanegara terlibat langsung dalam riset CERN lima orang di antaranya berasal dari negara tetangga, Thailand.

Yang menarik, di samping urusan riset, CERN juga sangat memperhatikan masalah pendidikan fisika bagi mahasiswa, serta isu kapasitas dan wawasan guru sekolah menengah. Lembaga ini terus-menerus bekerjasama dengan berbagai negara, para ilmuwan kelas atas CERN telah sukses mendidik secara langsung lebih dari 5000 guru fisika (1998-2011).

Bila CERN memperlakukan guru sekolah menengah sebagai kelompok strategis untuk menyebarluaskan ilmu fisika, lembaga ini berupaya keras menyiapkan para mahasiswa/i sebagai calon pekerja penelitian dan pengembang teknologi berkualitas memadai. Di tahun 2011 saja, CERN mengadakan kursus singkat (summer school) bagi 242 mahasiswa yang berasal dari 69 negara di dunia.

Ilmuwan Muda

Saat menemui Prof. Tsesmelis (Kamis, 28/06), Menegristek Gusti Muhammad Hatta menyatakan kerjasama dengan CERN berpotensi besar dalam upaya mendorong munculnya ilmuwan muda. Tanpa kelompok ilmuwan muda, tak ada harapan dunia riset Indonesia akan tumbuh berkelanjutan, bahkan akan membahayakan daya saing bangsa.

Paradigma kolaborasi CERN kian terbuka lebar, mereka makin gencar menyebar kolaborasi pendidikan dengan negara di belahan Asia. Negara tetangga Indonesia -- Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam -- telah menangkap cepat kesan tersebut dan menggalang kolaborasi pendidikan bagi guru/mahasiswa dengan CERN.

Thailand memberikan contoh optimalisasi kerjasama dengan CERN, dengan membentang jaringan domestik untuk menyebarluaskan pengetahuan dari lembaga bergengsi tersebut. Seperti di Thailand, diproyeksikan, jangkauan jaringan CERN tidak akan berhenti di perguruan tinggi tertentu, namun disebar hingga di seluruh Indonesia.

Tentu saja ilmuwan Indonesia tidak akan berpangku tangan. Bermitra CERN, pemerintah akan merangkul para peneliti terkait bidang fisika dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi nasional, untuk saling bahu-membahu membimbing mahasiswa/i dari seluruh Nusantara.

Kelak, mahasiswa/i akan didorong untuk mengembangkan wawasan dan jaringannya secara langsung di markas CERN yang terletak di perbatasan Swiss dan Perancis.

Konsorsium Riset Fisika

Besarnya jumlah ilmuwan pada jaringannya, cakupan bidang penelitian, dan asal negara, menggembungkan kapasitas CERN untuk menjalankan kolaborasi riset dengan Indonesia. Menyikapi hal ini, Menegristek mengarahkan agar jajarannya menyiapkan dokumen proyeksi (road-map) agar Indonesia dapat memaksimalkan kerjasama bidang fisika dengan CERN.

Menyambut arahan tersebut, Anhar Antariksawan (Deputi Kepala Batan Bidang Penelitian Dasar dan Terapan) yang mendampingi Menegristek menyatakan langkah awal tersebut dapat dilaksanakan secara harmonis dengan upaya persiapan Indonesia berkolaborasi dengan lembaga riset fisika mancanegara lainnya, ICTP (the Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics). ICTP yang berbasis di Italia, lebih berfokus pada upaya pengembangan kapasitas peneliti dari negara berkembang.

Besarnya keragaman minat kerjasama lebih terkemuka saat Prof. Tsesmelis bertemu dengan akademisi, peneliti, dan pejabat dari berbagai lembaga calon mitra CERN (Rabu, 27/06). Prof. Tsesmelis sendiri membuka isyarat positif bahwa kerjasama berspektrum lebar tersebut bisa terjalin melalui unit-unit kerja CERN maupun para peneliti yang terlibat di dalamnya.

Input dari kalangan peneliti ini memperkuat pesan untuk menciptakan rencana kerjasama yang secara simultan melibatkan kontribusi dari berbagai lembaga sekaligus, membentuk konsorsium riset. Dengan demikian, pemerintah memanfaatkan jaringan dengan CERN sebagai langkah untuk mengharmonisasikan dan meratakan laju perkembangan ilmu fisika di seluruh Indonesia.

Tatap muka Prof. Tsesmelis dengan calon mitra CERN dihadiri oleh perwakilan dari kalangan pengembang bidang fisika perguruan tinggi dari ITB, UI, UGM. Sedangkan unsur lembaga riset yang hadir dari Batan, BPPT, dan LIPI.

Di ajang tersebut, Prof. Tsesmelis berkesempatan bertemu dengan tokoh kunci antara lain Amin Soebandrio (Deputi ad interim Jaringan Iptek), Dewi Kusumaastuti (Direktur Eropa Barat, Kemlu), Unggul Priyanto (Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi Energi dan Material), Totti Tjiptosumirat (Kepala Pusat Desiminasi Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional, Batan), Gunawan (Kepala Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir, Batan). Dari kalangan perguruan tinggi, fisikawan terkemuka yang hadir antara lain Terry Mart (UI), Mirza Satriawan (UGM), dan Zaki Su ud (ITB).

Untuk kunjungan kehormatan dengan Menegristek (Kamis, 28/06), selain didampingi oleh Anhar Antariksawan, staf kunci yang ikut menerima adalah Agus R Hoetman (Staf Ahli Menegristek bid. Energi dan Material Maju, Ristek), Nada Marsudi (Asdep Bidang Jaringan Iptek Internasional, Ristek), Wawas Swathatafrijiah (Kepala Pusat Teknologi Material BPPT), serta Nyoman Y. Pravita Dewi (staf Direktorat Eropa Barat, Kemlu).

Di Indonesia, Prof. Tsesmelis didampingi oleh Suharyo Sumowidagdo, fisikawan asal Indonesia yang tengah bekerja di CERN. Selain Suharyo, turut mendampingi Prof. Tsesmelis adalah L.T. Handoko, fisikawan kenamaan dari LIPI yang menjadi penghubung CERN di Indonesia.

Kunjungan Prof. Emmanuel Tsesmelis di Indonesia dikoordinasikan dan tindaklanjutkan oleh Asisten Deputi Bidang Jaringan Iptek Internasional, Kementerian Riset dan Teknologi.
Sumber : Ristek, 4 July 2012

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 2957