Mengelola Keberagaman untuk Meneguhkan NKRI

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia (RI) pada tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Dengan berbagai capaian pemerintah dalam bidang ekonomi, termasuk menurunkan jumlah penduduk miskin, pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi dan investasi, masih banyak hal yang perlu dibangun dan diperbaiki oleh pemerintahan saat ini yaitu persoalan kebangsaan.
 
“Membicarakan persoalan kebangsaan, itu bukan berarti mempertanyakan apalagi menggugat kebangsaan kita, tetapi mencoba melihat dan mendialogkan secara jernih bagaimana kita merawat kebangsaan itu, bagaimana kita mengisi pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Plt. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Subiyanto dalam Dialog Kebangsaan bertema Mengelola Keberagaman, Meneguhkan Keindonesiaan di LIPI Jakarta, Selasa (15/8) yang juga merupakan rangkaian peringatan HUT ke-50 Tahun LIPI.
 
Persoalan kebangsaan menjadi salah satu dari sembilan agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK yang tertuang dalam Nawa Cita. “Bila kita cermati, isu kebangsaan adalah isu bagaimana ikatan dan solidaritas kebangsaan masyarakat Indonesia dan hubungan sinergis antara  entitas (identitas) lokal dan nasional,” tutur Bambang. Di samping problem-problem etnisitas dan identitas masyarakat, masalah kebangsaan di antaranya juga meliputi masalah-masalah yang terkait dengan jaminan sosial.
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti). Mohamad Nasir mengungkapkan, tantangan besar lainnya yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah persoalan keberagaman suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik, 1.340 suku bangsa, dan enam agama utama dengan berbagai aliran dan kelompok. “Apabila perbedaan di dalam masyarakat tidak dikelola dengan baik, maka perpecahan dapat menjadi hal yang tak terhindarkan,” ujarnya.
 
Nasir mengimbau semua pihak untuk melangkah dan bekerja sama secara nyata untuk membangun Indonesia. “Mari kita lanjutkan harapan para founding fathers (para pendiri bangsa) dan mengisi kemerdekaan ini dengan komitmen yang kuat untuk bekerja secara nyata mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi sebagai bekal bagi bangsa Indonesia agar dapat maju, mandiri, dan berdaya saing di era globalisasi ini,” imbuhnya.



Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri yang hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut menegaskan, Indonesia harus dipertahankan, mengingat betapa banyak pengorbanan para pendiri bangsa Indonesia. “Meminjam istilah Bung Karno, jika kemerdekaan Indonesia itu diibaratkan sebagai ‘jembatan emas’, maka apa yang akan kita lakukan di seberang ‘jembatan emas’ tersebut?,” tanya Megawati kepada seluruh peserta.
 
 
Arti Penting Penelitian
 
Di sisi lain, Megawati menyoroti pula arti penting penelitian bagi negara. “Penelitian sangat penting untuk pembangunan bangsa, dan yang harus menjadi prioritas saat ini adalah di bidang sandang, pangan, perumahan, industri berat, industri kimia dasar, pertambangan, penduduk, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, distribusi, komunikasi, peryahanan, keamanan negara, serta mengenai efisiensi aparatur negara,” jelasnya.
 
Sekurang-kurangnya, harus ada penguatan di penelitian dasar dan penelitian terapan terutama teknologi tepat guna. “Dengan iptek seharusnya kita dapat membangun Indonesia,” imbuhnya.
 
Sementara itu, Presiden RI ke-3 BJ Habibie menuturkan, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh generasi penerus. “Masyarakat yang bisa bekerja sama dan bertoleransi memerlukan peran pendidikan,” ujarnya. Tidak hanya manusia yang berilmu pengetahuan, namun juga harus memiliki iman dan taqwa. “Inilah manusia-manusia unggul yang akan memperjuangkan peradaban Indonesia yang berakar pada masyarakat cerdas,” imbuhnya.
 
Sementara itu, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang juga hadir dalam Dialog Kebangsaan ini mengemukakan dalam pidatonya untuk mengajak seluruh elemen bangsa agar menatap ke depan dan menjauhkan diri dari karakter negatif. "Jangan jadi bangsa yang pesimistik, cengeng, mudah mengeluh dan selalu menyalahkan orang lain. Kalau karakter negatif itu kita miliki, Indonesia tidak akan kemana-mana," tegasnya. Menurutnya, sikap optimis penting dikedepankan untuk menghadapi tantangan di masa depan.



"Mari bangun betul semangat Indonesia bisa, kalau negara lain bisa maju, dengan kerja keras Indonesia juga bisa. Tapi kita tahu, negara maju, sukses tidak datang dari langit, harus diperjuangkan bersama," tutur sosok yang akrab disapa SBY ini.
 
Menurut SBY, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara yang matang dalam berdemokrasi. Hal itu berdasarkan sejumlah indikasi seperti kemampuan keluar dari krisis dan kepemilikan sumber daya yang besar. "Kita tanpa sadari negara kita sedang mengalami transparansi. Dari Soekarno sampai Jokowi pasti ada success story," pungkas SBY. (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Tri Nuke Pudjiastuti M.A.
Diakses : 2974