Mengenal Lebih Dekat Ubur-Ubur, Si Jeli Hidup yang Elegan

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Kemunculan ubur-ubur di pantai Ancol, Jakarta Utara beberapa waktu lalu mengundang perhatian masyarakat. Spesies laut ini mempunyai bentuk tubuh unik seperti jelly dan melayang-layang dalam arus air laut. “Kemunculan ubur-ubur di pantai Ancol sebetulnya adalah hal yang menarik untuk mempelajari kekayaan laut Indonesia,” jelas peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Arief Rachman di Jakarta pada Sabut (20/10) lalu.

Menurut Arief, ada sekitar 1700 jenis ubur-ubur di dunia dengan ukuran tubuh mulai berdiameter 1 milimeter sampai 1,5 meter. “Ubur-ubur adalah salah satu spesies laut tertua yang sudah melayang-layang di lautan sejak 500 juta tahun lalu,” jelasnya.

Meski terlihat cantik, namun ubur-ubur punya sel penyengat yang berada di tentakel. “Ubur-ubur memiliki mekanisme pertahanan tubuh dan alat berburu makanan berupa  Nematocyst yang  berbentuk busur panah dengan ukuran sangat kecil,” jelasnya. Menurut Arief, sel penyengat ini aktif dengan sentuhan dan tetap aktif meski ubur-ubur sudah mati. “Jangan menyentuh ubur-ubur yang mati. Jika melihat ubur-ubur laporkan ke penjaga pantai untuk ditangani lebih lanjut.”

Ubur-ubur di perairan Ancol
Sejauh ini dari temuan sementara LIPI, ada dua jenis ubur-ubur yang terlihat di perairan pantai Ancol. Kedua jenis itu adalah Phyllorhyza sp. atau Spotted Jelly dan Catostylus sp. atau jelly blubber. “Dua jenis ini masuk kategori mild stinger  dengan efek sengatan lemah dan umumnya tidak menimbulkan efek samping selain kulit merah dan gatal,” ungkap Arief.






Selain dua jenis tersebut, Arief menyebut masih ada dua jenis ubur-ubur lainnya yang berada di Teluk Jakarta, yakniAurelia aurita (moon jellyfish) dan Chrysaora sp. (sea nettle). Menurut Arief, Aurelia aurita memiliki efek sengatan ringan sementara Chrysaora tergolong  High Stinger yang memilki efek sengatan sangat menyakitkan, diikuti sensasi seperti terbakar, bengkak dan merah pada bagian yang tersengat. “Kedua jenis tersebut keberadaannya masih jauh di luar tembok pemecah ombak Ancol namun masyarakat harus waspada. Pada kasus langka, jika seseorang memiliki alergi berat atau hipersensivitas terhadap racun dari ubur-ubur, sengatannya berpotensi menyebabkan kram, sesak nafas, atau kehilangan kesadaran,” ujar Arief.

Pihaknya sampai saat ini masih melakukan analisis untuk mengetahui kemunculan ubur-ubur di pantai Ancol. “Analisis masih terus dilakukan dengan melihat simulasi dari sampel dengan citra satelit pergerakan arus di laut Jawa dari NASA dan NOAA agar hasilnya valid,” terang Arief.

Pertolongan pertama
Terkait penanganan sengatan ubur-ubur, Tri Maharani yang merupakan dokter spesialis biomedik, mengungkapkan prosedur penting yang harus diketahui dalam penanganan sengatan ubur-ubur. “Sengatan hewan akan menimbulkan inflamasi atau peradangan  karena ada proses masuknya protein asing ke tubuh.

Tri menjelaskan,  pemberian cuka adalah langkah penting penanganan awal. “Tuangkan cuka makan yang sudah diencerkan dengan air pada area tersengat dan biarkan selama 30 detik," ujar Tri.Setelah itu, kata dia, baru lepaskan tentakel yang menempel pada kulit lalu segera bawa ke instalasi darurat.

Menurut Tri, kesalahan penanganan menimbulkan akibat yang lebih fatal. Ia meminta masyarakat agar tidak  bertindak sembrono. "Jangan cuci dengan air tawar, jangan berikan salep, jangan digosok dengan tanah atau batu, dan jangan tuangkan alkohol atau urin,” tutupnya. (fza/ed: dig)

Sivitas Terkait : Arief Rachman S.Si.