Menjawab kontroversi penelitian Gunung Padang

 
 
Temuan-temuan para peneliti dan ahli yang tergabung dalam Tim Katastropik Purba pada 2011 mengawali semua kontroversi yang terangkat bersama dengan nama Gunung Padang yang berlokasi di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Berdasarkan citra satelit, tim ini menyimpulkan bahwa Gunung Padang seolah-olah merupakan bukit yang terpisah dari rangkaian perbukitan yang ada di bagian selatannya, dan terlalu jauh dari perbukitan di bagian utaranya. Temuan tersebut ditindaklanjuti Peneliti dari Geoteknologi (Geotek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja dengan memimpin pemindaian Gunung Padang dengan peralatan georadar dan geolistrik.

Hasilnya, citra georadar dan geolistrik menunjukkan ada batu-batu panjang yang dalam dunia geologi disebut columnar joint dengan posisi horizontal atau rebah dan juga rongga di bawah permukaan situs Gunung Padang. Dari temuan ini kegemparan mulai terjadi, berbagai pemberitaan mulai menyebutkan Gunung Padang sebagai piramida meski para peneliti sama sekali belum menyimpulkan apa pun.

Penelitian dilanjutkan oleh geolog Andang Bachtiar bersama tim dari Geotek LIPI dengan melakukan pengeboran di Teras 3 dan sebelah selatan Teras 5. Hasil penelitian tersebut menguatkan hasil penelitian georadar dan geolistrik.

Temuan kolom andesit yang sama dengan yang ada di permukaan, lapisan pasir--kerakal sungai berbutir "very well rounded " setebal satu meter, lapisan kolom andesit diselingi tanah--lanau, serpihan karbon yang menguatkan lapisan di Gunung Padang yang menunjukkan bukan endapan gunung api alami diperoleh dari Bor 1 di Teras 3.

Temuan-temuan ini terus berlanjut dan diperkuat lagi dengan penelitian-penelitian ditambah hasil laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mau pun laboratorium Miami di Amerika Serikat terhadap sisa arang dan tumbuhan organik pada sampel hasil Bor 1 dan Bor 2 di Teras 3 dan selatan Teras 5 Situs Gunung Padang.

Semua hasil penelitian secara ilmiah terhadap Gunung Padang yang dilakukan dalam berbagai disiplin ilmu dijabarkan secara gamblang dalam buku Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi yang ditulis Arkeolog dari Universitas Indonesia Ali Akbar.

Buku setebal 266 halaman terbitan Change Publication yang diluncurkan pada 28 Januari 2014 tersebut memberikan jawaban keragu-raguan yang menimbulkan kontroversi dan penolakan sejumlah pihak, baik para peneliti, ahli, ilmuwan lain, dan masyarakat terhadap hasil penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang yang menyebutkan terdapat struktur prasejarah yang jauh lebih besar dari Candi Borobudur dan berusia jauh lebih tua dari Piramida di Giza, Mesir.

Ali Akbar yang memimpin penelitian arkeologi menindaklanjuti hasil penelitian lain dengan ekskavasi di sejumlah titik di situs Gunung Padang mau pun diluar situs dengan mempertimbangkan rekomendasi ahli geohidrologi guna menghindari longsor.

Hasilnya, ia berani mengkonfirmasi bahwa terdapat beberapa peradaban manusia yang telah membangun Situs Gunung Padang, yang ditunjukkan dari hasil penelitian pada di Lapisan 1 Gunung Padang yang berusia sekitar 500 Sebelum Masehi (SM), dan Lapisan 2 yang berusia sekitar 5200 SM.

Yang tidak terungkap

Pemberitaan media massa terkait hasil penelitian Gunung Padang oleh TTRM memang "membanjiri " masyarakat, namun tidak semua informasi dari para peneliti dan ahli sampai secara utuh kepada masyarakat.

Beberapa hasil penelitian tidak secara detil tersampaikan melalui media massa. Dalam buku ini penulis menyajikannya melalui catatan-catatan komunikasi pribadi dengan para peneliti lain dalam TTRM Gunung Padang mau pun dengan para ahli senior dari dalam dan luar negeri.

Sepenggal catatan komunikasi penulis dengan geolog Andang Bachtiar yang pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pengeboran di beberapa lokasi di Gunung Padang pada Juli 2013 menyebutkan 32.000 liter air yang amblas begitu saja ( "total loss " bukan meresap) ke dalam lubang yang di bawahnya ekivalen dengan 32 meter kubik ruang kosong di kedalaman delapan meter di Teras 5 Gunung Padang.

Pada kesempatan lain catatan dari komunikasi penulis dengan Andang membahas tentang celah pada masing-masing columnar joint pada posisi rebah atau horizontal pada kedalaman dua meter yang berisi material pengisi setebal dua sentimeter.

Hasil analisis kimia pada material pengisi tersebut cukup mencengangkan karena didapatkan kadar mineral besi yang jauh dari kadar besi alamiah yang pada umumnya hanya lima persen pada pertambangan bijih besi alami. Komposisi mineral besi tersebut ternyata terak logam yang dihasilkan dari sisa-sisa pembakaran oleh masyarakat masa lalu dengan temperatur minimal 600 derajat selsius yang berdasar hasil analisis C14 di laboratorium BATAN berusia 5900 SM.

Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pembuat Gunung Padang besar kemungkinan telah menguasai metalurgi berupa teknik peleburan logam.

Penulis juga menyampaikan 33 metode penyusunan batu kekar kolom atau columnar joint yang diperoleh dari hasil penelitiannya di Gunung Padang. Pengungkapan tangga sebelah utara Situs Gunung Padang yang memanjang hingga mendekati Sungai Cimanggu dari hasil wawancara dengan warga di sekitar situs juga disebutkan.

Penelitian lanjutan

Ali Akbar menyodorkan hasil-hasil temuan penting dari berbagai peneliti dan ahli dari berbagai bidang ilmu di Gunung Padang secara lengkap. Tidak hanya menyampaikan hasil penelitian terkini yang dilakukan TTRM Gunung Padang, tetapi juga menyajikan kembali hasil penelitian terdahulu.

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari masa lalu dan berusaha merekonstruksi kebudayaan masyarakat masa lalu berdasarkan peninggalan-peninggalannya. Namun hasil ilmu ini diharapkan dapat mengkonstruksi masa depan.

Ali Akbar secara mengungkapkan hasil temuan secara transparan dengan harapan mendapat reaksi yang memunculkan hasrat bersama untuk melanjutkan penelitian terhadap Gunung Padang. Misteri yang menyelimuti situs yang berlokasi di Cianjur ini sedikit demi sedikit terungkap, namun penulis menyadari penelitian TTRM masih menyisakan tanda tanya yang harus dipecahkan dengan penelitian lebih lanjut.

Dalam buku ini Ali Akbar membuka diri untuk kritik dan masukan dari pihak lain, yang sekiranya dapat semakin mendukung pengungkapan misteri yang masih menyelimuti Gunung Padang. Ia sadar kebenaran yang ada dan mungkin masih belum terungkap dalam penelitian TTRM sejauh ini dapat terungkap dalam penelitian-penelitian lain yang dapat dilakukan pihak lain yang menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju di masa depan.
Sumber : Antarasumsel.com

Sivitas Terkait : Danny Hilman Natawidjaja

Diakses : 4686