Mereka Bisa Mengubah Dunia

 
 

Lewat ajang tahunan sains yang diadakan sejumlah industri teknologi, sejumlah anak muda menunjukkan kemampuan mereka menciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Mereka berpotensi mengubah dunia lewat ilmu pengetahuan.

Keseriusan dan keuletan, plus terbukanya kesempatan untuk meneliti melahirkan ilmuanilmuan belia. Hal ini terlihat pada Jack Andraka, 15. Pada usia yang masih belia, dia bisa menemukan teknologi untuk mendiagnosis kanker pankreas. Karya Andraka 28 kali lebih murah dan lebih cepat dari tes kanker pankreas yang ada saat ini. Mencengangkan lagi, urine, dan tes darah yang dia kembangkan dapat mendeteksi jenis kanker dengan akurasi 90 persen.

Atas karyanya itu, dia menerima penghargaan Gordan E Moore pada Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2012 untuk penelitian inovatifnya sekaligus mendapatkan hadiah USD75.000. Dia mengalahkan lebih dari 1.500 siswa dari 70 negara yang mengikuti ajang tahunan ini. Karya Andraka berupa sensor dip-stick sederhana untuk menguji darah atau urine untuk menentukan apakah pasien memiliki stadium awal kanker pankreas.

Sensor dipstick milik Andraka bisa menguji air seni atau darah untuk protein tertentu (mesothelin) yang menunjukkan adanya kanker tertentu. Perubahan konduktivitas strip kertas berdasarkan berapa banyak protein dalam darah. Pada dasarnya,ada antibodi yang menangkap protein tertentu yang ditemukan dalam darah, karena menjadi tinggi ketika orang memiliki kanker. Ketika darah memiliki level tinggi,itu akan mengubah konduktivitas sensor kertas.

Saya sangat bersemangat. Ini seperti olimpiade pameran ilmu pengetahuan. Benar-benar menakjubkan berada di sini, meskipun misalnya saya tidak mendapatkan hadiah, kata Andraka sebagaimana dilansir Huffingtonpost. Siswa North County High School ini mulai sangat bersemangat untuk meneliti kanker pankreas,setelah salah seorang kerabatnya meninggal karena penyakit tersebut.

Dia lebih tertarik untuk mencari tes diagnostik yang bisa mendeteksi kanker jauh lebih awal. Saya mulai tertarik dengan deteksi dini itulah kesempatan terbaik untuk mengobati kanker, kata Andraka sebagaimana dilansir majalah Time(24/5). Menurut dia, satu-satunya cara praktis untuk mendeteksi dini adalah melalui tes darah rutin. Hal inilah yang dikembangkan Andraka.

Setelah itu,dia membuat perencanaan dan anggaran serta menghubungi sekitar 200 orang di Universitas Johns Hopkins dan National Institutes of Health. Langkah Andraka tidak mudah. Dia pun menerima 197 surat penolakan sebelum akhirnya mendapat persetujuan dari Dr Anirban Maitra, Profesor Patologi, Onkologi,dan Teknik Kimia dan Biomolekuler di Johns Hopkins School of Medicine. Di laboratorium Maitra inilah, Andraka mengembangkan tesnya.

Dia mempunyai ide ini, dan saya pikir fakta bahwa dia berusia 15 tahun membuat seluruh cerita ini menjadi lebih luar biasa, kata Maitra. Sulit dibayangkan, seorang anak berusia 15 tahun diberikan kesempatan penelitian dengan dana yang tidak kecil.Terbukti, Andraka berhasil membayar kepercayaan tersebut. Hasil tes diagnostik Andraka dipublikasikan di website Society for Sains and the Public. Andraka berharap produknya sudah bisa diwujudkan dalam beberapa tahun ke depan.

Setelah Andraka, dua anak muda lain yakni Nicholas Schiefer asal Ontario, Kanada dan Ari Dyckovsky asal Virginia,AS,berada diposisi runner- up dengan hadiah USD50.000.Schiefer menciptakan microsearch , sebuah penelitian yang menggunakan informasi dari jejaring sosial seperti Twitter dan update status Facebook untuk meningkatkan kemampuan mesin pencari.Sementara Dyckovsky memilih dasar atom untuk penelitiannya, teleportasi kuantum.

Sementara dari enam peserta yang dikirimkan ke ajang internasional ini, Indonesia berhasil menempati urutan ketiga dalam kategori teknik (elektris dan mekanis) yang diraih Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa SMA Negeri 1 Bogor (baca: Ilmuwan Muda Kota Hujan). Ilmuwan remaja lain mampu mengembangkan suatu perkembangan biaya rendah dan akurasi tinggi dalam penelitian kesehatan.

Hal inilah yang dilakukan Angela Zhang, 17 yang memenangkan USD100.000 pada ajang Kompetisi Sains Siemens awal tahun ini. Dia merancang obat yang potensial untuk kanker. Saya senang untuk belajar segala sesuatu yang mungkin. Semuanya dalam ilmu untuk membuat inovasi baru, kata Zhang,seperti dilansir CBS News. islahuddin/yani a
Sumber : Seputar Indonesia, 17 Juni 2012

Diakses : 1805