Miliki 25.742 Hektare Padang Lamun, Indonesia Harus Jaga dan Optimalkan

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Bagi sebagian kalangan masyarakat tentu masih kurang paham tentang Padang Lamun di perairan laut. Padang Lamun (seagrass bed) merupakan hamparan lamun atau tetumbuhan laut yang menutupi suatu area perairan/laut dangkal yang terbentuk oleh satu jenis lamun atau lebih dengan kerapatan mulai dari yang jarang hingga padat.
 
Data terkini yang dirilis oleh Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa Indonesia ternyata memiliki luas Padang Lamun sekitar 25.742 hektare.
 
“Bukan 3 Juta hektare seperti yang selama ini berkembang, kami telah memvalidasi ternyata luasnya 25.742 hektare dari 29 lokasi yang tervalidasi,” ungkap Indarto Happy Supriyadi, peneliti Puslit Oseanografi LIPI dalam kegiatan Pemaparan Status Terumbu Karang dan Padang Lamun Indonesia Tahun 2015 di LIPI Jakarta, Kamis (11/2) lalu.
 
Indarto berharap keberadaan ekosistem Padang Lamun bisa lebih dijaga lagi oleh pemerintah dan dioptimalkan pemanfaatannya bagi kehidupan ekosistem laut dan juga masyarakat. “Padang lamun merupakan salah satu ekosistem perairan laut yang paling produktif dan memiliki peran penting,” tukasnya.
 
Peran ini adalah sebagai area asuhan (nursery) jenis ikan kecil, penyedia makanan dugong dan penyu hijau, area berlindung biota laut, produsen primer makanan bagi ikan dan biota lainnya, perangkap suspensi sedimen, memperlambat arus sepanjang pantai, dan juga penyimpan karbon, jelas Indarto.
 
Dominan Kurang Sehat
 
Sementara itu, Indarto melihat kondisi Padang Lamun di Indonesia berdasarkan pada persentase tutupan lamun dari 37 lokasi sampling, yaitu lima lokasi berada dalam kondisi tidak sehat atau buruk, 27 dalam kondisi kurang sehat, dan lima lokasi dalam kondisi sehat.
 
“Masih cukup dominan untuk yang kurang sehat. Ini tentu perlu mendapatkan perhatian bagi pemulihannya ke depan,” tekannya.
 
Secara rinci, Indarto menyebutkan kondisi Padang Lamun berbeda-beda untuk setiap bagian wilayah Indonesia. Di Indonesia bagian barat, Padang Lamun yang tidak sehat tiga lokasi, kurang sehat tujuh lokasi, dan sehat satu lokasi.
 
“Kemudian, Indonesia bagian tengah terdapat Padang Lamun yang tidak sehat sebanyak dua lokasi dan kurang sehat 11 lokasi. Sayangnya, tidak ada wilayah yang statusnya sehat di sini,” jelasnya.
 
Sedangkan kawasan Indonesia bagian timur, jumlah lokasi yang Padang Lamunnya tidak sehat tidak ada, kurang sehat Sembilan lokasi, dan sehat sebanyak empat lokasi, sambungnya.
Dari segi kekayaan jenis, Indonesia tercatat memiliki 15 jenis Lamun dari 70 jenis Lamun dunia sehingga validasi data luasan dan status Padang Lamun di Indonesia akan selalui diperbarui dengan penambahan lokasi.
 
Sayangnya, kondisi Padang Lamun di dunia diperkirakan saat ini mengalami penurunan sekitar 58 persen ketimbang kondisi tahun-tahun sebelumnya. “Oleh karena itu, pemulihan seperti melakukan transplantasi diperlukan. Tujuannya untuk memulihkan kembali Padang Lamun dan juga menciptakan areal baru,” imbuhnya.
 
Wali Data
 
Di sisi lain, Indarto sendiri secara pribadi merasa gembira atas penetapan LIPI sebagai Wali Data Terumbu Karang dan Padang Lamun. Dengan penetapan ini, ia mengharapkan ke depan status Terumbu Karang dan Padang Lamun dapat menjadi acuan dalam pembangunan di sektor maritim.
 
Dr. Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menambahkan, penetapan itu juga menjadi bentuk apresiasi bagi pusat penelitian yang dipimpinnya, namun juga menjadi beban tersendiri bagi timnya untuk mewujudkan data yang bermanfaat bagi mayarakat luas nantinya.
Dikatakannya, penetapan tersebut merupakan bentuk apresiasi. Penetapan LIPI ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab LIPI sebagai otoritas keilmuan. LIPI berperan cukup penting dalam proses pemaparan data.
 
“Hak informasi mengenai biota dan ekosistem laut merupakan hak individu, yang harus diselenggarakan oleh negara agar masyarakat dapat memanfaatkan untuk hal yang positif nantinya," tutupnya. (pwd/ed: - )
 
Sumber foto: Puslit Oseanografi LIPI
 

Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Drs. Indarto Happy Supriyadi M.Si.
Diakses : 3315