Minyak Gerogoti Ketahanan Fiskal dan Moneter

 
 

INILAH.COM, Jakarta - Kenaikan harga minyak dunia telah menjadi virus yang menggerogoti ketahanan fiskal dan moneter RI. Emas hitam ini telah membuat defisit APBN bengkak dan inflasi melambung.

Latif Adam, Koordinator Tim Kajian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, melambungnya harga minyak mentah dunia menggerogoti fundamental ekonomi Indonesia baik fiskal maupun moneter. Menurutnya, dari sisi fiskal, harga minyak telah memicu bengkaknya defisit APBN.

Pasalnya, lanjut Latif, RI mengimpor minyak mentah sebesar 800 ribu barel per hari. RI juga masih mensubsidi BBM melalui APBN. Pemerintah harus mengalokasikan dana yang jauh lebih besar lagi untuk menetralisir kenaikan harga minyak mentah dunia di dalam negeri, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (2/3).

Hingga Rabu (2/3), harga minyak mentah dunia jenis light sweet terpantau terus meroket mencapai US$100,05 per barel, brent mencapai US$116,04, harga OPEC basket berada di level US$108.50 per barel dan Indonesia Crude Price (ICP) telah menyentuh US$111,36 per barel.

Dari sisi moneter, lanjut Latif, kenaikan harga minyak juga akan mendorong inflasi sehingga menggerogoti kesehatan moneter Indonesia. Sebab, sektor industri harus membeli BBM sesuai harga pasar yang saat ini sedang meroket.

Karena itu, harga minyak memicu kenaikan harga produksi sehingga harga jualnya pun naik dan terjadilah cost push inflation, ujarnya. Industri termasuk pihak yang tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi.

Menurut Latif, transmisi kenaikan harga minyak terhadap APBN melalui bengkaknya alokasi subsidi pemerintah. Sedangkan transmisi harga minyak terhadap moneter melalui kanal inflasi di sektor industri. Moneter dan fiskal sama-sama terdampak kenaikan harga minyak mentah dunia, ucapnya.

Ketua Asosiasi pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto mengatakan, pihaknya sudah ancang-ancang menaikan harga jual barang-barang produksi industri rata-rata 5 persen di kuartal kedua 2011. Ini dengan asumsi, harga minyak mentah dunia jenis light sweet yang dikenal sebagai West Texas Itermediate (WTI) di atas level US$100 per barel, ujarnya.

Sementara itu, Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Bank melihat hantaman kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap ketahanan APBN. Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel bisa menggerogoti anggaran sebesar US$0-0,03 miliar atau US$0-30 juta.

Jika dikonversi dengan kurs rupiah saat ini 8.800 per dolar AS, memicu defisit Rp264 miliar per barel. Itu pun, menurutnya, jika pemerintah bisa memenuhi target lifting minyak sebesar 965 ribu barel per hari.

Eric kembali menegaskan, jika lifting minyak berkurang sebesar 10 barel per hari, bisa menambah defisit anggaran hingga US$0,3-0,36 miliar atau US$300 juta. Dikonversi dengan kurs 8.800 per dolar AS, angkanya bisa mencapai Rp2,64 triliun. Dalam beberapa bulan terakhir, target lifting tidak tercapai sehingga potensi defisit APBN semakin besar, tambah Eric.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo pesimistis soal target lifting minyak. Dia mengatakan, pemerintah memperkirakan akan sangat berat untuk mencapai lifting pada 2011 sebanyak 950 ribu barrel per hari.

Padahal, angka itu berada jauh di bawah asumsi APBN 2011, yakni sebesar 970 ribu barel per hari. "Lifting kelihatannya tidak lebih dari 950.000 barrel per hari tahun ini. Target APBN 2011 kelihatannya tidak bisa tercapai, " ungkap Pengamat energi Pri Agung Rakhmanto juga sudah melakukan kalkulasi atas kenaikan harga minyak belakangan ini. Menurutnya, setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN, terjadi tambahan defisit sebesar Rp0,8 triliun atau Rp800 miliar.

Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute itu, jika rata-rata harga ICP di level US$97 per barel, sudah US$17 per barel di atas asumsi US$80. Karena itu, US$17 dikali Rp800 miliar sama dengan Rp13,6 Triliun. Artinya, APBN jebol di kisaran Rp13,6 triliun, katanya. [mdr]

Sumber: Inilah.com (2/3/2011)

Sivitas Terkait : Latif Adam

Diakses : 1012