Penduduk dan Perubahan Lingkungan, Tantangan Pemangku Kepentingan

 
 
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan besar yang terjadi hampir setiap tahun di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan, tahun 2019 menjadi salah satu kejadian terburuk dalam sejarah karhutla di Kabupaten Ketapang, setelah 2015. Kejadian tersebut dapat dijadikan pemicu masyarakat akan pentingnya pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan mendorong kesadaran penduduk dalam menjaga dan membangun lingkungan yang asri.  Untuk membahas lebih dalam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Yayasan Konservasi RASI (YKRASI) akan menyelenggarakan Webinar ‘Penduduk dan Lingkungan: Antara Subsistensi dan Keberlanjutan’, pada Senin, 22 Februari 2021, melalui kanal virtual.

Jakarta, 20 Februari 2021. Pengelolaan lingkungan idealnya tidak hanya berorientasi kepada kebutuhan penduduk semata, tetapi harus mengutamakan konservasi untuk menjaga ketahanan dan fungsi lingkungan hidup. Sampai saat ini, berbagai kerusakan, pencemaran, dan bencana alam terjadi di berbagai belahan dunia, akibat   pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang mengesampingkan  keberlanjutan  fungsi  lingkungan  hidup. 

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara, menyatakan bahwa sejak 2001, penelitian terkait penduduk dan lingkungan telah dilaksanakan untuk menjawab tantangan paradigma baru kependudukan. “Lingkungan sebagai salah satu perspektif dalam isu kependudukan, khususnya isu penduduk dan perubahan lingkungan,” ungkapnya. Menurut Herry, hal  ini  menjadi tantangan bagi semua pemangku kepentingan dalam pengelolaan  lingkungan hidup  yang berfungsi sebagai penyedia sumber daya alam secara lestari.  

Herry mengatakan, keterlibatan LIPI selama ini dalam melakukan penelitian dan pengembangan telah bermitra dengan berbagai stakeholder, baik dengan Kementerian, Lembaga, Perguruan Tinggi, Organisasi Kepakaran dan Profesi terkait termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat. Kali ini, Ia menyebutkan, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bermitra dengan YKRASI. “Kolaborasi melalui program sosialisasi konservasi ini bertujuan menggali berbagai potensi yang sesuai dengan kondisi dan aktivitas dalam membangun kesadaran dan kecintaan penduduk terhadap SDA setempat,” jelasnya.

Sebagai langkah mengkomunikasikan hasil riset, diskusi publik akan menyoroti penurunan keragaman keanekaragamanhayati beserta penyebabnya seperti degradasi lahan akibat kebakaran hutan dan lahan.  Menurut Herry, acara ini merupakan hal yang penting bagi lembaga riset untuk mempelajari bagaimana seharusnya kebijakan pemerintah pusat dan daerah, dalam mengatur terciptanya keberlanjutan dan keseimbangan antara pola pemanfaatan SDA dan kelestariaannya.

Dalam hal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Ali Yansyah Abdurrahim, dalam penelitiannya mencatat, Sub-Lanskap Pematang Gadung di Kecamatan Matan Hilir Selatan menjadi salah satu lokasi karhutla terparah. “Kejadian tersebut tentunya berdampak buruk pada keberlanjutan pengelolaan Sub-Lanskap Pematang Gadung, baik aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi,” tegasnya.

Dikatakan Ali, kerusakan ekologi akibat karhutla telah mengancam keberlanjutan penghidupan (livelihood) masyarakat lokal yang sangat tergantung pada kondisi SDA di Sub-Lanskap Pematang Gadung. Kajian-kajian serupa yang dilakukan oleh Ali dilaksanakan sebagai upaya mencegah Karhutla dan memetakan pihak-pihak yang menjadi pemangku kepentingan. “Aksi-aksi kolaboratif sangat diperlukan dalam berbagai Langkah dan Kebijakan yang berbasis kepada pengelolaan alam beserta sumber daya yang berada di dalamnya,” imbuhnya.

Webinar ini juga menghadirkan pembicara dari YKRASI: Budiono, Ketua Yayasan Konservasi RASI dan Danielle Kreb, Scientific Program Advisor  di YKRASI
 
 
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Ali Yansyah Abdurrahim S.P., M.Si
Diakses : 1027