Peneliti Muda Unjuk Gigi di Ajang PPRI

 
 

Salmonella typhimurium memang dapat menyebabkan salmonellosis, diare, demam, hingga kram perut, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Namun, bagi Mirza Zaka Pratama, bakteri yang berbahaya itu ternyata bermanfaat sebagai vaksin untuk mencegah penyempitan pembuluh darah.

Berkat bakteri itu pula, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut menjadi pemenang kedua Pemilihan Penelitian Remaja Indonesia Bidang Ilmu Pengetahuan Alam, yang diadakan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia di Widya Graha, Jakarta, pada 4 Oktober 2011. Selain piala, Mirza memperoleh hadiah uang Rp 10 juta.

Lima bulan sebelum pengumuman tersebut, Mirza hanyalah seorang mahasiswa tingkat II yang serba ingin tahu. Berlembar-lembar jurnal ilmiah dilahap sampai ia terhenti pada sebuah makalah mengenai bakteri Salmonella typhimurium yang mampu menghasilkan senyawa phosphorylcholine. Dari situ ide besarnya muncul.

"Senyawa pada bakteri memancing respons antibodi bernama antiphosphorylcholine yang mampu memberikan efek protektif terhadap penyempitan pembuluh darah, " ujarnya kepada Tempo.

Untuk membuktikan teori itu, selama dua bulan Mirza mendekam bersama puluhan tikus percobaan di Laboratorium Biomedik universitasnya. Laboratorium ini dikenal sebagai salah satu yang terlengkap dan tercanggih di Indonesia. Terbukti dengan lahirnya temuan berkaliber internasional, seperti obat pencegah malaria hingga penawar rematik.

Mirza kerap harus merelakan waktu tidur malamnya untuk memberi makanan ekstra pada tikus-tikus itu. Pria kelahiran Malang yang berusia 20 tahun itu juga harus mengeluarkan biaya eksperimen Rp 6 juta dari kantongnya sendiri.

"Saya seperti punya peliharaan sendiri di laboratorium, mulai mengganti sekam, membersihkan kandang, memberi makan, sampai menyuntikkan vaksinnya, " kata Mirza. "Sampai akhir percobaan, tak ada tikus yang mati. "

Eksperimen dimulai dengan menerapkan diet lemak tinggi pada 25 tikus percobaan. Asupan makanan ini membuat pembuluh darah koroner tikus menyempit. Peristiwa ini disebut sebagai atherosclerosis, yaitu penyakit kronis pada pembuluh darah yang diakibatkan oleh penumpukan materi lemak pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Umumnya tikus-tikus tersebut mengalami penebalan pembuluh darah hingga 400 mikrometer.

Tikus yang telah mengidap penyakit jantung koroner itu dibagi menjadi dua kelompok. Terhadap kelompok pertama terus diterapkan diet lemak tinggi sehingga penyakit terus bercokol. Sementara itu, kelompok kedua diberi vaksin berbahan bakteri Salmonella typhimurium. Vaksinasi dilakukan selama empat kali setiap selang dua pekan selama 50 hari.

Pada hari terakhir eksperimen, Mirza membedah tubuh tikus. Bisa ditebak, penebalan pembuluh darah pada kelompok tikus yang terus diberi asupan makanan berlemak tinggi tak mengalami penurunan. Hasil signifikan justru terjadi pada kelompok kedua yang memperoleh vaksinasi. Antibodi yang dipancing vaksin Salmonella typhimurium terbukti mampu meluruhkan lemak yang menumpuk di pembuluh darah.

"Ketebalan dinding pembuluh darah turun menjadi 40 mikrometer, sama dengan kondisi normal. Tikus-tikus ini sembuh total, " ujar Mirza.

Vaksin itu juga aman, tanpa menyebabkan efek samping. Buktinya, tak satu pun tikus terserang demam ataupun alergi selama pengobatan.

Mirza memiliki penjelasan tersendiri kenapa vaksin temuannya begitu mangkus. Pada vaksinasi konvensional, antibodi diberikan langsung ke dalam tubuh sehingga proses penyembuhan berasal dari senyawa asing dari luar tubuh. Vaksin Salmonella sendiri bersifat sebagai pemicu agar tubuh menghasilkan antibodi pemusnah lemak. Stimulasi ini membuat tubuh bekerja aktif, yang nantinya menghancurkan tumpukan lemak di dinding pembuluh jantung.

Melihat potensi pengobatan ini, Mirza yakin vaksin juga bisa diterapkan untuk mengobati jantung koroner. Namun, sebelum masuk ke tahap komersial, ia harus melakukan penelitian lebih jauh mengenai efek samping vaksin pada manusia.

Keampuhan vaksin ini menyembuhkan penyakit jantung koroner pada tikus mendapat pujian dari tim juri penguji pada Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI. Tim juri berharap hasil penelitian Mirza dapat dicobakan kepada manusia agar kemudian bisa diproduksi massal oleh perusahaan obat.

Mirza mengatakan penggunaan vaksin sebagai pencegah penyakit jantung koroner merupakan hal baru dalam dunia kedokteran. Bahkan penelitian vaksin ini umumnya masih berada pada tahap pengujian terhadap binatang percobaan.

Salah satu teknik pengobatan yang sedang diteliti adalah pemberian antigen phosphorylcholine secara langsung. Teknik ini membutuhkan antigen murni yang membutuhkan banyak pemrosesan. Hal ini otomatis mendongkrak biaya produksi, sehingga harga vaksin menjadi sangat mahal.

Teknik yang ia kembangkan ini relatif lebih murah karena hanya memanfaatkan bakteri yang secara alami membangkitkan antigen phosphorylcholine. Bakteri ini bisa dikembangbiakkan sendiri. "Lagi pula bakteri Salmonella ini banyak terdapat di Indonesia, " dia menambahkan.l ANTON WILLIAM

Tahapan eksperimen

  1. Tikus percobaan diberi diet tinggi lemak agar mengidap penyakit jantung koroner.
  2. Tikus dipisahkan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol, dan kelompok kedua diberi vaksin dari bakteri Salmonella typhimurium.
  3. Tikus kelompok kedua disuntik vaksin S. typhimurium bercampur adjuvant CFA-IFA (senyawa untuk meningkatkan respons kekebalan vaksin) setiap dua minggu sebanyak empat kali selama 50 hari.
  4. Hari ke-50, semua tikus dibedah untuk diukur ketebalan pembuluh darahnya.
  5. Tikus kontrol mengalami penebalan dinding aorta 234 mikrometer, sedangkan ketebalan pembuluh darah tikus dengan vaksin 72 mikrometer. Ketebalan pembuluh darah tikus normal 52 mikrometer.

Koran Tempo, 13 Oktober 2011

Diakses : 712