Penelitian Sosial dan Kemanusiaan Masih Sangat Dibutuhkan

 
 
(Jakarta Humas LIPI). Indonesia merupakan negara ekonomi moderat dengan pertumbuhan ekonomi berkisar 4 hingga 7 persen per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak pernah mencapai double digit, tingkat kesejahteraan masyarakat nyaris tidak pernah membaik, ujar Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Dr. Rizal Ramli saat berbicara dalam persiapan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) XI bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan (IPSK) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Selasa (15/9). Untuk itu, peran penelitian sosial dan kemanusiaan masih sangat diperlukan dalam memecahkan permasalahan kesejahteraan, sambungnya.

Menurutnya, dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia berada pada posisi terbawah di antara five ASEAN country secara beruturut-turut Singapura, Malaysia, Thailand, Filiphina, Indonesia. Ini membuktikan 80 persen masyarakat Indonesia belum menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya, tuturnya. China bahkan berhasil memacu pertumbuhan ekonomi di angka 14 persen selama 20 tahun terakhir yang menaikkan kesejahteraan masyarakatnya. Selama ini, Indonesia terlalu fokus dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Berbeda dengan IPM, PDB sama sekali tidak menjelaskan tingkat kesejahteraan rakyat.

Dirinya mengatakan, adapun yang membuat tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia rendah adalah penerapan sistem ekonomi neoliberal. Tidak ada sejarahnya negara-negara di dunia berhasil meningkatkan kesejahteraan dengan sistem tersebut. Apalagi hanya diterapkan pada perdagangan, keuangan, investasi, namun tidak diikuti dengan liberalisasi tenaga kerja, ujarnya.Neoliberal hanya akan membuat kekuatan multinasional semakin berkuasa, yang artinya memberi kesempatan terjadinya neokolonial, tegasnya.

Kajian sosial dan kemanusiaan harus bisa memberi kontribusi nyata dalam hal kebijakan. Selama ini kita terlalu terpaku untuk menggunakan uang dalam mengatasi krisis. Padahal strategi dan kebijakan justru jauh lebih penting dan lebih nyata hasilnya, sambungnya. Menurutnya, setiap permasalahan memerlukan pendekatan out of the box untuk mencari solusinya.

Wakil Kepala LIPI, Dr. Akmadi Abbas mengatakan bahwa adapun urgensi penyelenggaraan KIPNAS XI yaitu sebagai wadah bagi para ilmuwan untuk berdiskusi dan bertukar informasi dan pikiran tentang kemajuan-kemajuan karya ilmiah terkini. Tentu akan ada sumbangsih positif kepada pemerintahan baru berupa pemikiran-pemikiran para ilmuan sosial dan eksakta serta interdispliner, ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IPSK KIPNAS XI, Prof. Siti Zuhro sepakat bahwa penelitian sosial dan kemanusiaan tidak boleh diabaikan. Perubahan sosial masyarakat berjalan sangat cepat, dinamis dan kompleks. Ini menjadi tantangan bagi penelitian sosial untuk menjelaskan bagaimana perubahan sosial tersebut, serta memberikan solusi atas fenomena-fenomena sosial yang terjadi, pungkasnya. (msa/ed:-)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Akmadi Abbas

Diakses : 4662