Pengelolaan Kehati belum Optimal

 
 
Di masa depan, pengarusutamaan keanekaragaman hayati dalam pembangunan akan digencarkan.

Melati Yuniasari Fauziah

INDONESIA kaya akan sumber daya keanekaragaman hayati (kehati). Diperkirakan, 30 persen fauna dan 50 persen flora dunia ada di Indonesia. Namun, banyak informasi tentang kehati yang belum diketahui, apalagi didokumentasikan.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain mengungkapkan baru sekitar 25 persen kehati Indonesia yang terdentifikasi dan baru 50 persen dari jumlah itu yang terdokumentasi.

Kurangnya data dan informasi itu menyebabkan pemanfaatan kehati untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat belum optimal. Di sisi lain, ada jenis-jenis kehati yang dieksploitasi hingga punah.

"Punahnya sumber daya kehati akan menutup potensi pengembangan dan pemanfaatannya. Akibatnya, nilai tambah tidak akan pernah terjadi. " ujarnya alam acara peluncuran buku Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2015-2020. di Gedung Bappenas, Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak termasuk para peneliti, pengajar, dan masyarakat untuk aktif dalam pengelolaan kekayaan hayati. Ia juga mengungkapkan, sesuai IBSAP 2015-2020, di masa depan, ada pengarusutamaan kehati dalam pembangunan.

Pengarusutamaan kehati itu dilakukan melalui empat strategi, yaitu kehati sebagai modal dasar pembangunan nasional, peningkatan konservasi dan restorasi kehati, pengelolaan kehati melalui pengembangan iptek, kebijakan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan dan penganggaran, serta pengelolaan kehati dalam kegiatan pembangunan nasional dan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Rencana aksi

Terkait dengan IBSAP 201S-2020, dokumen rencana aksi terhadap kehati Indonesia itu merupakan penyempurnaan dan pembaharuan dari dokumensebelumnya, yakni IBSAP 2003-2020 yang juga perubahan dari buku panduan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversity Action Plan for Indonesia/BAPI) 1993.

IBSAP 2015-2020 mencakup delapan bab yang memuat antara lain tentang status kehati terkini, baik ekosistem, jenis, maupun genetika yang dilengkapi ulasan flora fauna endemis beserta tantangannya, pemanfaatan, dan kontribusi ekonomi kehati yang menguraikan nilai penting, koniribusi ekonomi, dan peran kearifan lokal pengelolaan kehati sena kebijakan, strategi, dan rencana aksi pengelolaan kehati.

Dokumen itu bertujuan membangun pemahaman pentingnya pengelolaan kehati sebagai potensi ekonomi daerahdan nasional. "Keanekaragaman hayati sangat erat dengan perkembangan ekonomi daerah dan nasional, tetapi juga perlu dilindungi keberadaannya. Oleh karenanya, kami meminta dokumen IBSAP dapat dilaksanakan sampai ke tingkat daerah. " kata Sekretaris Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Imron Bulkin pada peluncuran dokumen itu.

Sejumlah penyempurnaan yang tercakup dalam dokumen itu, antara lain pemutakhiran data status kehati, sena rumusan kebijakan dan rencana aksi agar pengelolaan kehati dapat diutamakan dalam sistem perencanaan pembangunan. Juga ada unsur baru yang dimasukkan, seperti pemanfaatan ekonomi kehati untuk kesejahteraan masyarakat.

IBSAP 2015-2020 diharapkan dapat disinergikan dalam perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah. (Ant/H-3)melati.yuniasan @mediaindonesia.com
Sumber : Media Indonesia, edisi 22 Januari 2016. Hal: 13

Sivitas Terkait : Iskandar Zulkarnain

Diakses : 1922