Pesan dari The 19th Biennial General Conference AASSREC : Kerjasama Mengelola Globalisasi yang Menembus Batas

 
 

Provinsi Sulawesi Utara kembali menggelar even berkala Asia Pasifik. Setelah sejumlah even seperti Sail Bunaken, Gubernur Sinyo Hary Sarundajang menarik LIPI, AIPI dan AASSREC menggelar The 19th Biennial General Conference AASSREC, di Manado 17 s/d 19 Oktober.

Berbeda dengan even sosial budaya lainnya, konfrensi ini lebih serius, karena mempertemukan peneliti sosial dari 16 negara. Isunya pun tidak gampang, yakni membahas soal transnasionalisme : peluang dan tantangan.

Saya memiliki akses dalam pertemuan ini via undangan resmi. Sebagai penulis dan akademisi hadir dalam pertemuan ini, tentu saja memberikan nilai plus. Paling tidak, dengan tema yang rumit seperti transnasionalisme, membantu meretasnya gagasan tentang dunia yang sedang berubah. Tentunya pada banyak aspek, yang juga kompleks. Apalagi mereka yang hadir para pakar--- punya kapasitas untuk bertukar pengalaman dari banyak negara.

Mereka membahas isu-isu yang berhubungan dengan traficking, kejahatan transnasional, terorisme, narkoba dan penyelundupan senjata, siklus kerja, kesempatan pendidikan, sirkulasi otak, dan pengungsi. Isu-isu ini menggelitik ilmuan sosial dan pengambil kebijakan dari banyak negara. Negara-negara di Asia, terutama Asean memiliki beban yang tidak serupa, terutama karena stabilitas nasional, serta masalah kesejahteraan berbeda satu dengan yang lain.

Gubenur Sulawesi Utara Sinyo Hary Sarundajang mengakui pentingnya membahas isu transnasionalisme ini, karena daerah tidak lagi bebas dari kemajuan globalisasi. Sulut, lanjut dia, kini semakin terbuka dengan gesitnya pembangunan dan even berskala internasional. Ini artinya daerah sudah harus semakin siap. Karena itu Sulut siap menjadi tuan rumah saat ini, tegas Sarundajang. Dia berharap pertemuan ini bisa menghasilkan rekomendasi yang di tuangkan dalam Manado Declaration .

Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr Lukman Hakim, dalam sambutan pembukaannya, menegaskan ilmuan sosial memiliki kontribusi yang sangat penting dalam mengurai peliknya masalah dan dampak transnasionalisme bagi masa depan masyarakat dunia. Dengan rekomendasi akademik yang baik, data-data tersebut bisa menjadi rujukan pengambil kebijakan. Perkembangan isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan transnasionalisme memiliki tantangan dan peluang. Ini yang semestinya kita kawal bersama, tegas dia.

Para pembicara pada pertemuan ini melibatkan banyak sekali pakar. Keynote speaker-nya adalah Sinyo Sarundajang yang dengan apik membawakan materi dengan judul : Transnational Co-Operations : Chalenges and Opportunities. Sedangkan pada sesi hari kedua keynote lecture-nya oleh Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, dengan mengupas, Rethinking human security in Transnational Context . Sedangkan pembicara uttama lainnya Prof. Dr. Neil Smith dari City University of New York. Selanjutnya panelis berbagai pengalaman pada sesi berikutnya dengan fokus pada isu human traficking, pemerintahan lokal, dan gerakan masyarakat sipil.

Pada sesi materi pemetaan gagasan panelis merujuk pada beberapa hal. Konflik dan kekerasan telah mengakibatkan banyaknya pengungsi di banyak tempat. Indonesia setelah reformasi mengalami masa-masa sulit menangani pengungsi domestik, karena konflik etnik di Ambon, Posso dan bencana alam yang datang bertubi-tubi. Soal pengungsi menjadi isu penting, karena memiliki karakter berbeda antara pengungsi karena konflik dan bencana alam.

Filipina mengalami masa-masa politik yang tajam. Hal ini berpengaruh pada proses demokratisasi dan gerakan sipil di negara itu. Kami terus belajar dengan gejala ini, karena kami yakin perubahan senantiasa menimbulkan ekses, tegas Dr Maria Elissa Lao ilmuan wakil dari Filipina.

Salah satu hal yang juga krusial, tingginya angkatan kerja ke luar negeri. Tenaga kerja Indonesia yang keluar negeri, di satu sisi mengurangi pengangguran, namun pada sisi lain, menjelaskan minimnya kesempatan kerja di dalam negeri. Akses TKI ke lapangan kerja tanpa skill ( labour unskill) tentu saja menempatkan mereka sebagai babu. Padahal TKI adalah duta bangsa, yang tidak hanya menjadi pekerja namun juga melakukan misi diplomasi kebudayaan di negara lain.

Malaysia, jiran kita, memiliki problem dengan suplai TKI dari negara Asean lain, seperti Indonesia. Angkatan kerja yang datang ke Malaysia dari sisi kultural tidak menimbulkan masalah serius. Hanya yang perlu diperhatikan standar dan skill mereka. Masalah TKI telah menjadi isu penting antara Malaysia dan negara lainnya, kata Prof Abdurahman Embong ilmuan dari Malaysia.

Terorisme dan narkoba menjadi ancaman serius bagi generasi mendatang. Terorisme sebagaimana wataknya, merupakan reaksi yang keliru dalam menangani beban kompetisi yang semakin terbuka, terutama dikaitkan dengan revivalisme ideologi. Sedangkan narkoba meng-infeksi kesadaran generasi muda secara destruktif, sehingga tidak bertanggungjawab pada tindakannya di masa depan. Dua isu ini bukan lagi masalah domestik yang sederhana, namun sudah berkembang sangat kompleks dengan pengalaman yang hampir serupa di banyak negara.

Trans-nasionalisme adalah paham yang berusaha menanggalkan sisi partikular-lokalistik menjadi lokalitas yang besar. Seringkali kita disuguhkan istilah global village kampung global karena merasuknya budaya mainstream di jantung model masyarakat dan budaya kita. Iklan, trendseter dan ikon tertentu telah membawa model ini begitu invasif mereduksi defenisi kampung yang sesungguhnya.

Local wisdom kearifan lokal digantikan dengan ekspresi gengsi, prestise dan prestasi. Sementara pada sisi lain, menanggalkan komunalisme dan filosofi sosial yang kuat pada ritual dan etos budaya lokal. Lokalitas dalam tampakan yang hadir saat ini seperti kertas plastik kemasan. Hidup tanpa jati diri dan daya hidup yang sejati.

Salut bagi Sarundajang yang mampu menggalang even ini di Manado, dengan melibatkan 16 lembaga ilmuan sosial dari 16 negara. Diantaranya Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial di Australia (ASSA), Ilmu Sosial Dewan Riset Bangladesh (SSRCB), Cina Akademi Ilmu Sosial (CASS), India Dewan Penelitian Ilmu Sosial (ICSSR), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iran Asosiasi Sosiologi, Dewan Ilmu Pengetahuan Jepang (SCJ), Royal Society Selandia Baru (RSNZ), Asosiasi Ilmu Sosial Malaysia (MSSA), Dewan Riset Nasional Thailand (NRCT), Filipina Sosial Science Council (PSSC), Ilmu Sosial Korea Research Council (KOSSREC), Korea Asosiasi Ilmuwan Sosial (Kass), National Science Foundation Sri Lanka (NSFSL), Dewan Riset Nasional Thailand (NRCT), dan Vietnam Akademi Ilmu Sosial (VASS).

Suguhan seni yang dipentaskan selama even menunjukan kelas Sulut sangat tinggi. Even ini menyediakan peluang yang bagus bagi kerjasama ilmuan dan pengambil kebijakan di banyak negara di Asia Pasifik.

Sedangkan bagi Sarundajang, even ini mampu mengakses banyak kesempatan untuk menjaring kerjasama yang luas di bidang keilmuan, budaya dan pariwisata. Sesuatu yang semestinya dapat dilakukan daerah lain, termasuk Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu.

Ambon Ekspres, 19 Oktober 2011

Diakses : 493