Pewarna Bunga Dikembangkan untuk Sel Surya

 
 
SOLO, (PRLM).- Zat pewarna alami, di antaranya yang berasal dari bunga rosella, bunga mawar dan lain-lain, kini menjadi objek penelitian serius para ahli berbagai perguruan tinggi untuk dikembangkan sebagai salah satu sel surya sumber energi listrik.

Para peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Ma Chung Malang dan lain-lain, serta dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah membentuk konsorsium pengembangan sel surya berbasis pewarna (dye sensitized solar cell/DSSC), yang diklaim jauh lebih murah dari sel surya berbahan silikon.

Dr. Agus Supriyanto, salah seorang peneliti Fakultas MIPA UNS mengungkapkan, pengembangan DSSC kini didorong akibat semakin menipisnya cadangan minyak bumi. Pemanfaatan teknologi DSSC merupakan salah satu solusi sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan energi alternatif yang tersedia melimpah.

Sebagai negara tropis kita memiliki energi matahari yang melimpah. Guna mengubah energi matahari menjadi energi listrik yang dapat digunakan sehari-hari membutuhkan teknologi sel surya (solar cell). Saat ini, sel surya yang beredar di pasaran masih menggunakan material silikon. Sayang sel surya berbahan silikon harganya cukup mahal, karena investasi peralatan dan teknologinya juga mahal, " katanya kepada wartawan, Rabu (4/12/2013).

Dalam teknologi DSSC yang kini didukung berbagai perguruan tinggi, terdiri dari empat material berupa substrat, titanium, dye (pewarna alami), dan elektrolit. Titanium dan pewarna alami menjadi komponen penting sel surya berbasis pewarna tersebut.

Dia menjelaskan, titanium berfungsi menyalurkan energi listrik yang terserap, sedangkan pewarna alami berfungsi menyerap sinar matahari.

Dr. Agus telah meneliti pewarna alami berupa antosianin yang berasal dari bunga rosella dan klorofil dari alga.

Di UNS, kita sudah mengeksplorasi pewarna alami dari berbagai tumbuhan, seperti alga untuk klorofil, bunga rosella untuk antosianin, bunga mawar dan berbagai tumbuhan lain, tuturnya.

Menyinggung alasan pemilihan bahan baku titanium, dia menyebutkan, karena bahan tersebut tersedia cukup melimpah di Indonesia dan relatif lebih murah dibanding harga silica yang diolah menjadi silikon.

Prosesnya, titanium diperoleh dari pemisahan kandungan besi dan titanium dari ilmenite yang merupakan sisa pembuatan timah di Bangka Belitung.

"Ilmenite mengandung sekitar 70 persen titanium. Di samping itu, titanium juga dapat diperoleh dari pasir besi di kawasan Pandeglang, Jawa Barat. Namun pasir besi ini hanya mengandung sekitar 10 persen titanium, " sambungnya.

Pengembangan sel surya berbasis pewarna itu sendiri, menurut peneliti UNS itu, berasal dari temuan pakar sel surya Prof. Gratzel pada tahun 1991. Sel surya berbahan titanium ternyata lebih ekonomis dibanding sel surya berbahan silikon.

Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Riset IPTEK Energi dan Material Maju Kemenristek, Dr. Syafarudin mengungkapkan, sumber energi matahari yang sangat melimpah di Indonesia harus dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemakmuran dan kemajuan bangsa. Dia menegaskan, posisi Indonesia yang berada di garis katulistiwa memiliki potensi energi matahari sangat besar, rata-rata 4.800 Wh per meter persegi setiap hari.

Potensi paling rendah di wilayah Bogor sebesar 2.500 Wh per meter persegi per hari. Sedangkan potensi paling tinggi di Papua bisa mencapai 5.700 Wh per meter persegi per hari, ujarnya.

Jika energi matahari tersebut dapat terserap 100 persen secara sempurna menggunakan sel surya berbasis pewarna, dia yakin dapat dihasilkan energi listrik 1 kWh per jam. Berdasarkan perhitungan, kebutuhan energi listrik rumah tangga di Indonesia setiap hari rata-rata 5 kWh per jam.

Pada tahap pertama, untuk penelitian masih berbentuk prototipe. Kita berharap kurang dari 10 tahun hasilnya sudah bisa dinikmati. Sekarang masih dalam skala kecil, seperti untuk charger handphone, lampu laboratorium, lampu taman dan sebagainya, tambahnya.

Sementara Kabid Bahan dan Komponen Mikroelektronika LIPI Bandung, Dr. Goib Wiranto, menyatakan, teknologi sel surya berbasis pewarna alami jauh lebih murah dibanding sel surya berbahan silikon. Investasi peralatan dan teknologi sel surya berbahan silikon bisa menghabiskan dana ratusan miliar rupiah. Sedangkan sel surya berbasis pewarna alami perlu biaya di bawah satu persen dari total biaya sel surya berbahan silickn.

Yang dibutuhkan hanya teknologi screen printing atau penyablonan. Jadi siapa saja bisa masuk ke sini, bahkan industri rumah tangga, jelasnya. (Tok Suwarto/A-88)
Sumber : pikiran-rakyat.com

Diakses : 436