Radikalisme Tumbuh Subur di Kampus

 
 
Sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Erandhi Saputra KAMPUS perlu menghadirkan ceramah keagamaan dari organisasi massa Islam yang toleran, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Peneliti Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Anas Saidi, mengatakan hal seyogianya perlu digalakkan untuk mengatasi paham radikal yang tumbuh subur di kampus.

"Perlu menghadirkan ceramah keagamaan dari organisasi Islam yang toleran di kampus-kampus. Kalau ini tidak ditangani, 10-20 tahun kita akan bertengkar soal Pancasila. Potensi islamisasi itu potensi menjadi radikal, " tukas Anas di Gedung LIPI, Jakarta, kemarin. Dalam penelitian LIPI pada 2006, ujar Anas, sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Ia menambahkan survei The Pew Research Center pada 2015 menyebutkan 4 persen orang Indonesia mendukung IS.

"Sejatinya, pola radikalisme melalui organisasi eksternal kampus telah dimulai pascare-formasi, " imbuhnya. Dia menambahkan hampir seluruh kader kelompok dengan ideologi Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) atau salafi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan KAMMI, menjadi pimpinan badan eksekutif mahasiswa di universitas ternama di Indonesia.

"Organisasi-organisasi mainstream di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terpinggirkan, " terang dia. Peneliti LIPI lainnya, Endang Turmudi, mengatakan sikap radikalisme sudah mengendap di semua lapisan masyarakat. "Yang paling rentan ialah pelajar atau mahasiswa. Penanaman paham radikal dimulai sejak SMP dengan melakukan kegiatan keagamaan yang aktif dan eksklusif, " sambung Endang.

Di sisi lain, politikus Nas-Dem Tri Murny mengatakan program-program pendidikan toleransi berbasis keagamaan perlu ditekankan, baik formal maupun informal. Pasalnya, fenomena radikalisme dan ekstrimisme beragama kian menguat di masyarakat. "Perlu langkah strategis agar masyarakat beragama di Indonesia menjadi semakin toleran terhadap perbedaan, " kata Tri.

Sementara itu, Executive Director of the Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, menilai ancaman IS alias Islamic State menjadi persoalan regional Asia Tenggara. Jaringan teroris itu kini membentuk sel-sel kecil yang semakin sulit terdeteksi. Robi menyebut pemain utama di kawasan itu ialah Abdul Naim dan Santoso. Abdul Naim yang bergabung dengan IS diketahui menjalin hubungan dengan Santoso yang ia sebut sebagai "komandan ".

Peran Abdul Naim, ujar Robi, juga pemasok dana bagi Santoso, buron teroris yang paling diburu di Indonesia. Santoso ialah amir Mujahidin Indonesia Timur, "Abdul Naim sebagai ahli propaganda dapat dana (dari Timur-Tengah) sebesar Rp5 miliar, lalu diberikan kepada Santoso untuk aktivitasnya, " ujarnya Robi di Gedung habibie Center, Jakarta, Kemarin.
Sumber : Media Indonesia, edisi 19 Februari 2016. Hal: 4

Sivitas Terkait : Anas Saidi

Diakses : 5445