Riset 5 Kampus tentang Sel Surya Berbasis Pewarna

 
 
SOLO - Sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi (PT) membentuk konsorsium riset sekaligus mengembangkan sel surya berbasis pewarna atau yang dikenal dengan sebutan dye sensitized solar cell (DSSC). Sistem ini diklaim jauh lebih murah dari sel surya berbahan silicon.

Perguruan tinggi yang terlibat dalam konsorsium riset ini adalah Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Ma Chung Malang, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNS, Agus Supriyanto, riset DSSC ini dilatarbelakangi oleh semakin menipisnya cadangan minyak bumi.

"Untuk itu harus segera dicari solusi sumber energi terbaru dengan memanfaatkan energi alternatif yang tersedia melimpah, salah satunya memanfaatkan energi dari sinar matahari, " jelas Agus kepada wartawan, di Ruang Sidang Rektorat UNS, Solo, Jawa Tengah, Rabu (4/12/2013).

Agus mengatakan, upaya mengubah energi matahari menjadi energi listrik yang dapat digunakan sehari-hari membutuhkan teknologi sel surya (solar cell). Saat ini, sel surya yang telah beredar di pasaran masih menggunakan material silikon. Namun harga sel surya berbahan silikon cukup mahal karena tingginya biaya investasi peralatan dan teknologi.

"Karena itu kemudian kami coba kembangkan sel surya berbasis pewarna yang ditemukan oleh Prof. Gratzel pada 1991. Sel surya ini lebih ekonomis dibanding sel surya berbahan silikon, " imbuhnya.

Sel surya berbasis pewarna terdiri dari empat material yaitu substrat, titanium, dye (pewarna alami), dan elektrolit. Titanium dan pewarna alami menjadi komponen penting sel surya berbasis pewarna. Titanium ini berfungsi untuk menyalurkan energi listrik yang sudah diserap, sedangkan pewarna alami berfungsi untuk menyerap sinar matahari. Pewarna alami yang digunakan yakni antosianin yang berasal dari bunga rosella dan klorofil dari alga.

"Saat ini UNS sudah mencoba mengeksplorasi pewarna alami dari berbagai tumbuhan. Seperti alga untuk klorofil, bunga rosella untuk antosianin, bunga mawar dan ragam tumbuhan lainnya, " kata Agus.

Sementara itu, Kabid Bahan dan Komponen Mikroelektronika LIPI Bandung, Dr. Goib Wiranto memaparkan, teknologi sel surya berbasis pewarna alami jauh lebih murah dibandingkan sel surya berbahan silikon. Investasi peralatan dan teknologi sel surya berbahan silikon bisa menghabiskan dana ratusan miliar rupiah.

"Sedangkan dana investasi untuk sel surya berbasis pewarna alami ini tidak sampai satu persen dari total dana sel surya berbahan silikon, " tutur Goib. (rfa)
Sumber : news.okezone.com

Sivitas Terkait : Goib Wiranto

Diakses : 366