Riset dan Ekspedisi Sebagai Bukti Kehadiran Negara di Kawasan Terdepan Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Keberadaan pulau-pulau terdepan merupakan penanda kedaulatan negara di beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Sebagai kawasan strategis nasional, pulau-pulau di kawasan  terdepan juga menyediakan ekosistem alam yang produktif seperti  terumbu karang, padang lamun, mangrove,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko pada pemutaran film dokumenter “Kisah 8 Pulau Terluar” di Jakarta pada Rabu (14/8).

Menurut Handoko, minimnya informasi ilmiah tentang potensi sumber daya alam di kawasan ini mendorong LIPI  melakukan ekspedisi Nusa Manggala. Temuan serta dokumentasi dari ekspedisi yang berlangsung selama bulan Oktober sampai Desember 2018 lalu akan ditayangkan dalam film dokumenter ‘Kisah 8 Pulau Terluar’.

Handoko menjelaskan, ekspedisi ini baru mengeksplorasi 8 dari 111 pulau terluar, ini baru awal. “LIPI juga tengah melakukan pengadaan kapal armada agar nantinya dapat meneruskan eksplorasi hingga 111 pulau,” ungkapnya. Menurut Handoko di sinilah peran LIPI menjadi tugas dari pelaku iptek yang mengawali kegiatan riset dari daerah terdepan.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin, menjelaskan fokus Ekspedisi Nusa Manggala adalah pada penggalian data dan informasi sumber daya alam hayati dan non hayati di kawasan pulau-pulau terdepan  Indonesia. “Hasil ekspedisi ini berupa berupa rekomendasi daftar isu strategis terkait pengelolaan sumber daya pesisir di kawasan pulau terdepan Indonesia, yaitu pengelolaan terkait sumber daya yang bisa dieksplorasi, infrastruktur yang diperlukan, dan sosial budaya masyarakat lokal,” ujar Zainal.  

Anggota Komisi VII DPR RI, Andi Yuliani Paris menyatakan hasil dari ekspedisi ini adalah aset yang harus dijaga. “Biasanya yang seperti ini pihak asing suka. Pesan saya satu jangan sampai diambil alih, kalau bias jika ada penemuan jenis baru  langsung saja dinamai pakai nama penelitinya misalnya,” ujar Andi.

Udhi E. Hernawan, Koordinator Ekspedisi Nusa Manggala sekaligus peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menerangkan, ekspedisi ini terlaksana selama 49 hari . “Jangkauan jarak jelajah lebih dari 6000 kilometer di delapan lokasi di wilayah Papua,” ujar Udhi, Lokasi-lokasi tersebut adalah pulau Yiew, Budd, Fani, Kepulauan Mapia (Brass dan Fanildo), Liki, Bepondi, dan Meossu, serta eksplorasi di satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan Raja Ampat, Papua.(iz, mtr, drs/ed: fz)
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Zainal Arifin M.Sc.