Sabun Ramah Lingkungan

 
 

Minyak jelantah dan abu kulit buah kapuk randu berhasil diolah menjadi sabun cair, layaknya sabun mandi cair yang kini bertebaran di pasaran. Hasil penelitian mahasiswa Universitas Diponegoro,

Semarang, ini memenangi kompetisi LIPI untuk Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia tahun 2011.

Ini disebut sabun ramah lingkungan karena menggunakan limbah minyak goreng dan kulit buah kapuk randu, kata Gregorius Rionugroho, mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/10).

Rionugroho bersama Harum Nissa dari jurusan pendidikan yang sama di Undip menjadi pemenang pertama Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-10 bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Kompetisi ini diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 3 Oktober 2011.

Bahan baku minyak goreng merupakan salah satu komponen utama industri sabun. Komponen lainnya disebut basa, yang memiliki unsur kalium hidroksida (KOH), kata Rionugroho.

KOH yang digunakan industri sabun selama ini berbahan sintetis atau kimia. Rionugroho memadukan minyak goreng jelantah dan KOH yang diracik dari abu kulit buah kapuk randu (Ceiba pentandra (I) Gaertn var Indica)

Karsinogenik

Menurut Rionugroho, minyak jelantah yang digunakan berkali-kali mengandung bahan karsinogenik, yaitu bahan berisiko kanker. Industri dan restoran besar menggunakan minyak goreng dalam skala besar.

Penggunaan minyak goreng tak bisa berkelanjutan, sehingga menimbulkan limbah. Limbah minyak goreng masih mengandung asam lemak tinggi.

Minyak jelantah bisa berasal dari jenis minyak jagung, minyak sayur, minyak samin, minyak sawit, dan sebagainya. Di dalamnya ada kandungan asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam linolinat.

Jenis-jenis asam lemak tidak jenuh itu sebagai trigliserida, bahan baku pembuatan sabun cair. Pada skala industri besar, trigliserida diambilkan dari produk samping pengolahan minyak goreng.

Limbah kulit buah kapuk randu sekarang ini juga belum dimanfaatkan optimal. Biasanya dijadikan tambahan kayu bakar, kata Rionugroho.

Proses pembuatan

Abu kulit buah kapuk randu mengandung senyawa kalium karbonat 78,95 persen, kemudian diekstraksi menjadi soda qie dan dilarutkan menjadi kalium hidroksida. Rionugroho mencampurkan minyak jelantah dan kalium hidroksida dengan dipanasi sampai 110 derajat celsius selama satu jam sebagai proses saponifikasi.

Proses saponifikasi ini akan menghasilkan sabun cair dan gliserol, kata dia.

Rionugroho meracik larutan kalium hidroksida dan minyak jelantah dengan perbandingan 4:1. Proses saponifikasi menghasilkan 76,8 persen sabun cair.

Komposisi sabun cair yang berwarna bening kekuning-kuningan itu berada pada lapisan atas. Pada lapisan bawah, sebagai endapannya menjadi gliserol, yang antara lain digunakan sebagai pelicin krim cukur.

Industri sabun menggunakan tambahan unsur garam murni untuk menghasilkan sabun padat. Lalu, ditambahkan pula bahan pewangi dan pewarnanya.

Saat ini, sabun mandi cair justru populer di pasaran. Bentuk cair akan lebih memudahkan kemasan dibawa ke mana-mana. Saya ingin mematenkan temuan ini, kata Rionugroho.

Ia juga telah menyajikan teknologi sederhana pembuatan sabun mandi. Masyarakat pun dapat mengaplikasikannya sendiri.

Pembuatan sabun organik dapat diproduksi menjadi produk unggulan di lokasi penghasil kapuk randu, seperti Pati, Kudus, dan Jepara di Jawa Tengah. Di Jawa Timur juga banyak ditemui di Tulung Agung, Blitar, Pasuruan, dan Banyuwangi.

Di Jawa Barat juga ada perkebunan kapuk randu terbesar di Lebak Wangi dan Bandung.

Secara historis, tanaman kapuk randu berasal dari Afrika Tengah, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Kulit buah kapuk randu yang semula hanyalah limbah, ternyata bisa memberikan nilai tambah menjadi bahan baku sabun ramah lingkungan.

Kompas, 28 Oktober 2011

Diakses : 3841