Selesaikan Masalah Papua Lewat Dialog

 
 

Penyelesaian masalah kesejahteraan dan potensi disintegrasi di Papua, harus lewat dialog. Semua pihak yang berkepentingan harus diajak duduk bersama agar timbul tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap hasil dialog.

Pandangan ini disampaikan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pemerhati masalah Papua, Muridan S Widjojo, dalam diskusi peluncuran buku Dialog Jakarta-Papua, Sebuah Perspektif Papua, karya Pastor Neles Tebay, di Jakarta, Rabu (18/3). Selama ini, menurut Muridan, pemerintah pusat dan elemen masyarakat Papua tidak pernah duduk bersama. Akhirnya, timbul sikap saling curiga. Dia mencontohkan proses penyusunan UU Otonomi Khusus di Papua yang tidak melibatkan pemerintah pusat dan msyarakat papua.

Akhirnya, UU tersebut dipandang dengan sikap curiga. Pemerintah menganggap UU Otsus sebagai awal menuju disintegrasi, sebaliknya masyarakat yang ingin memisahkan diri menilai, UU Otsus sebagai pengaburan terhadap ide kemerdekaan. UU Otsus dipandang dengan curiga oleh kedua belah pihak, karena mereka tidak dilibatkan dalam penyusunannya sehigga tidak ada rasa saling memiliki, kata Muridan. Dia mengatakan, meskipun isi UU Otsus sangat baik dan ideal, jika dalam penyusunannya pihak-pihak yang berkepentingan tidak dilibatkan maka tidak akan berjalan maksimal.

Isi kadangkala tidak lebih penting daripada orang-orang yang diajak terlibat, tuturnya.

Libatkan Semua Pihak

Oleh karena itu, menurut Muridan, jika kelak ada keperluan merevisi UU Otsus di Papua, upaya itu harus melibatkan semua pihak. Dia membandingkan dengan Aceh, di mana pemerintah dan GAM duduk bersama membicarakan regulasi-regulasi.

Penulis Buku yang juga Rektor Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Neles Tebay mengatakan, selama ini berbagai elemen masyarakat Papua meminta dialog, namun tidak pernah menawarkan konsep dialog dalam bentuk tulisan. Pemerintah pusat juga tidak mempunyai kerangka acuan cara berdialog. Oleh karena itu, bukunya menawarkan kerangka-kerangka untuk berdialog. Dialog, kata Neles, perlu untuk mencegah penyelesaian masalah lewat kekerasan. (vidi vici)

Sumber : Sinar Harapan (19 Maret 2009)

Diakses : 1441