Si Kupu-kupu Malam akan Ramaikan Jalan

 
 
Meski terik matahari saat itu sangat panas, namun antusias masyarakat Bandung tidak surut. Mereka berduyun-duyun berdatangan ke halaman Balai Kota karena ingin menyaksikan langsung mobil buatan bangsa sendiri yang rencananya tidak lama lagi diproyeksikan akan segera diproduksi massal. Masyarakat Bandung menjadi saksi kehebatan karya anak bangsa. Pekan lalu, mobil listrik buatan asli anak Indonesia dijajal langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta di halaman Balai Kota Bandung.

Dalam rangka ujicoba kendaraan massal berbasis listrik, sebanyak enam mobil listrik terpajang berjejer di halaman Balai Kota Bandung. Keenam mobil tersebut diuji dengan berkeliling jalanan Kota Bandung. Dengan rute Jalan Wastukencana, Riau, Simpang Dago, Dayang Sumbi, kembali ke Balai Kota. Ujicoba diperagakan langsung oleh Menristek Gusti Muhammad Hatta bersma Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, Kepala BPLHD Jabar Anang Sudarna, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno, dan Danlanud Husein Kol Pnb I Nyoman Trisantosa. Kesemua pejabat tersebut mengenakan ikat kepala khas Sunda.

Salah satu mobil yang menarik perhatian adalah mobil listrik jenis sport berwarna kuning metalik. Di badan mobil sport listrik ini, ada tulisan Selo electric car sportif by supported Kupu-kupu Malam. Sementara kendaraan lainnya ada dua buah bus dengan nama Ahmadi kapasitas 30 orang, electric car Hevina warna putih model city car, mobil MPV warna putih, dan mobil berbentuk seperti kijang 1 unit. Si kuning yang diberi nama Selo ini cukup menarik perhatian, banyak masyarakat yang sengaja mengabadikannya dengan berfoto di sebelahnya. Mobil dua pintu bergaya sport ini sebelum diujicobakan di luar (jalan raya), terlebih dahulu berkeliling di dalam lingkungan kantor Pemkot Bandung.

Aris Setiawan (37), warga asal kota Bandung mengaku, sudah sejak beberapa hari sebelumnya sudah berniat datang bersama lima temannya. Mereka sangat penasaran dengan mobil buatan Indonesia, sebab selama ini jalanan Indonesia hanya dihiasi oleh mobil-mobil buatan asing. Mobil yang ada saat ini semuanya mobil impor. Indonesia harus bisa buat mobil sendiri, wong ini jalan kita, yang jalan kok malah mobil orang. Kalau Indonesia buat sendiri, Insya Allah nanti saya beli, tutur Aris mendukung.

Senada dengan Aris, Lutfi (42), warga asal Bandung Barat ini kepada Harian Pelita mengaku, dirinya tidak menyangka ternyata ada orang Indonesia yang juga hebat. Ia pun merasa sangat bangga karena ada putra Indonesia yang mampu membuat mobil sendiri. Lucu juga, biasanya mobil itu kan ada suaranya (mesin), ini tidak. Jadi, kayak gimana gitu, ungkapnya ceria.

Dengan penuh semangat, seakan menggurui, Lutfi mengatakan, jika mobil listrik ini tidak segera diproduksi, dikhawatirkan investor asing yang mempunyai dana besar masuk ke Indonesia dan akhirnya mobil listrik ini kembali dikuasai asing. Jangan sampai pasar yang besar di Indonesia ini terus menerus dimanfaatkan negara lain. Semoga saja cepat diproduksi massal, pesan Lutfi.

Kelebihan mobil listrik dari mobil konvensional adalah suaranya yang halus, sedikit getaran, serta rendah bahkan non emisi. Kerena itu, mobil listrik sangat ramah lingkungan serta efisien dalam penggunaan sumberdaya. Agar kendaraan ini segera terwujud, makan diperlukan dukungan masyarakat dan pemerintah yang kuat untuk menggunakan mobil listrik agar kendaran ini bisa diproduksi secara masal. Sehingga, dengan begitu harganya akan lebih terjangkau. Saat ini diakui pembuatan mobil listrik membutuhkan biaya besar karena sifatnya masih untuk pengembangan dan penyempurnaan.

Pembuatan mobil listrik sendiri dengan cara mengintegrasikan lima teknologi kunci, yakni pembuatan motor, baterai, control, platform dan sistem charging. Kemudian diintegrasikan lagi dengan teknologi standar seperti bodi, rem, lampu, ac, power steering dan sebagainya.

Pengembangan mobil listrik ramah lingkungan memiliki tahapan atau TRL (Technology Readiness Level). Mengacu pada tahap-tahap kesiapan teknologi, beberapa prototipe riset mobil listrik berada pada TRL 7 (skala TRL 1 sampai 9). Semakin tinggi tingkatan TRL, maka semakin siap mobil listrik untuk diproduksi massal.

Akan tetapi, untuk mencapai tingkatan dari TRL 7 ke tingkatan selanjutnya, harus dilakukan uji kendaraan mobil listrik secara riil. Dari uji coba secara riil inilah akan terlihat kelebihan dan kekurangan mobil listrik.

Antara tahun 1997 hingga 2005 LIPI telah membuat beberapa mobil listrik untuk kegunaan khusus yang dinamakan Marlip. Pada 2009, LIPI juga menghasilkan beberapa prototipe riset sedan hybrid. Pada 2010, LIPI juga membuat satu mobil hasil konversi dari kendaraan motor bakar ke kendaraan berpenggerak listrik.

Saat ini anak bangsa telah mampu mengembangkan berbagai jenis mobil listrik mulai dari city car, multi purpose van, serta bus. Kendaraan listrik tersebut dihasilkan baik oleh para peneliti di litbang, perekayasa, maupun kalangan industri.

Semua hasil kerja tersebut akan sia-sia jika masyarakat, pemda atau instansi lainnya tidak mau memanfaatkan. Akhirnya Indonesia akan terus jadi pasar produsen dari berbagai negara.

Konseptor Mobil Listrik PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi, mengungkapkan, apapun jenis mobil listrik perlu dukungan semua pihak, terutama dukungan dari pemerintah yang kuat. "Jika tidak, mobil ini tidak akan pernah bisa diproduksi massal ke pasar bebas. Oleh karena itu, dengan dukungan yang kuat, maka proyek ini Insya Allah berjalan dengan baik, ujarnya. (alfian)
Sumber : pelitaonline.com

Diakses : 1236