Siswa SMAN 3 Semarang Ubah Asap Jadi Oksigen

 
 

Berawal dari ketidaknyamannya saat berada di sekitar orang yang merokok, Afdi dan Maulana kemudian mencoba mencari solusi. Bukan melarang orang merokok, tapi mengubah asap yang mengganggu itu menjadi oksigen yang bermanfaat.

DUA siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Semarang, Hermawan Maulana (16) dan Zihrama Afdi (17), berhasil menciptakan alat untuk memisahkan CO2 (Carbon dioksida) menjadi C (carbon) dan O2 (Oksigen).

Afdi merupakan sulung dari dua bersaudara dari pasangan wiraswastawan Abdul Hafid dan Ninik Budi. Adapun Hermawan Maulana adalah bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Suwaji dan Seti Jawati Noegraeni. Ia lahir di Pekanbaru, 24 Mei 1996.

Mereka berdua berhasil menciptakan alat bernama T-Box (Thunder Box) ini, yang mampu berfungsi mengubah asap rokok menjadi Oksigen. Hasilnya, mereka berhasil menyabet medali emas International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2012 di Bangkok, pada awal Juli lalu.

"Inspirasi berasal dari lingkungan saya di Purwodadi. Lingkungan di sekitar saya banyak perokok dan saya merasa terganggu asap dan baunya, " kata Zihrama Afdi, ketika ditemui di SMAN 3, beberapa hari lalu. Kondisi yang sama juga dirasakan Hermawan Maulana.

Mereka kemudian mencari solusi, agar asap rokok yang ada di sekitarnya tak lagi berbahaya, begitu juga bagi perokok yang berada di smoking room, juga menjadi betah. Ide itu lalu mereka konsultasikan paa Agus Priyatno, guru biologi di SMAN 3 Semarang. Setelah berdiskusi beberapa kali, mereka pun menemukan konsep sederhana untuk mengurai CO2 menjadi O2 (oksigen).

Setelah menemukan formula, mereka membuat proposal penelitian dan mengikutsertakan ke Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2011, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Mei lalu.

Saat membuat prototype penelitian itu, alat ajaib itu mereka namakan Carbofil Application. Penelitian mereka pun masuk ke jajaran tujuh besar dan pemenangnya adalah karya dari SMA lain, yang meneliti pemberian makan ayam melalui SMS (pesan pendek).

Meski tidak menang, rupanya LIPI tertarik pada hasil karya Hermawan Maulana dan Zihrama Afdi ini. "Lalu LIPI panggil kami untuk mengkikuti ajang serupa di Bangkok. Kata orang LIPI, penelitian kami satu-satunya yang cocok dengan tema perubahan iklim, " imbuh Afdi.

Kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Prototype karya yang disertakan pada LKIR 2011, kemudian mereka sempurnakan. Untuk ajang IEYI 2012 di Bangkok, mereka menggunakan power supply yang mampu mengubah daya listrik dari 220 Volt menjadi 2.000 Volt. Konsep sederhana pada awal ide pun berhasil mereka terapkan lebih sempurna.

Maulana menjelaskan, setelah peralatan siap, mereka mensimulasikan di smoking room. Peralatan ciptaan mereka, diletakkan di lantai dan atap kawasan perokok. Peralatan bagian bawah mereka gunakan untuk menyerap asap. Asap kemudian dilarikan ke melewati listrik tegangan tinggi. Saat itulah, PCB positif dan negatif bertemu, hingga mengeluarkan percikan yang disebut plasma. "Plasma itulah yang menguraikan CO2, " tambah Maulana.

Saat terurai, lanjutnya, karbon (C) yang terpisah dari CO2 itu menjadi padat yang kemudian menempel di elektroda di PCB. Sedangkan oksigen (O2) masih berbentuk gas menuju kotak yang dipasang di bagian atas smooking room.

Di dalam kotak bagian atas itu ditempatkan penyaring yang kemudian menghasilkan oksigen untuk dialirkan ke dalam ruangan perokok. "Tujuan kami supaya perokok bisa betah di smoking room, kalau begitu kan tidak mengganggu orang lain, " kata Maulana.

Guru pembimbing mereka, Agus Priyatno menambahkan, untuk membuat alat tersebut membutuhkan waktu setahun dua bulan, dengan biaya hanya sekitar Rp 200 ribu. "Kalau untuk ukuran smoking room di tempat umum, bisa diterapkan dengan menambah daya atau memperbesar alat, " kata Agus.

Agus menjelaskan, alat tersebut tidak hanya bisa digunakan di smoking room, tapi juga bisa digunakan di pabrik untuk mengurai CO2 yang keluar dari ceobong asap mereka.

Istabudi, Dosen Teknik Kimia Undip, menyebut cara kerja yang dipakai dua siswa SMAN 3 itu menggunakan teknologi plasma. Cara kerjanya adalah memisahkan iakatan kimia antara C (carbon) dan Oksida melalui elektron bertegangan tinggi dengan berarus kecil.

Teknologi plasma bisa dimanfaatkan untuk membunuh kuman atau bakteri, membuat ozon dari udara, dan seperti yang dipraktikkan siswa SMAN 3, membersihkan asap rokok. "Tidak hanya asap rokok, asap karena batu bara pun bisa bersih, " tambah Istabudi.

Selain itu, kegunaan terbesar teknologi plasma adalah bisa mensintesa suatu zat dengan energi lebih kecil. Tanpa perlu memanaskan, suatu zat lain bisa terbentuk. Hal itu jauh lebih murah daripada membuat zat lain dengan memanasi.

Kepala SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo pun merasa bangga pada prestasi kedua anak didiknya. Ia yakin, prestasi tersebut akan melecutkan siswa lain untuk melakukan hal yang sama. "Saya yakin anak Indonesia tidak kalah dengan negara lain, bahkan bisa bersaing di tingkat internasional, " jelasnya. (Bakti Buwono Budiasto)
Sumber : Tribun Jogja, 10 Juli 2012

Diakses : 5217