Sumber Pembiayaan Terbatas Akibatkan Produktivitas Petani Rendah

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Pertumbuhan produktivitas usaha tani dalam negeri saat ini masih belum mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan konsumsi nasional. Salah satu faktor utama penyebab rendahnya produktivitas petani adalah keterbatasan akses kredit atau sumber pembiayaan.
 
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yeni Saptia menuturkan bahwa berdasarkan dari hasil penelitian hanya sekitar 15% petani yang sudah mengakses kredit bank, 33% dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sementara, mayoritas petani sekitar 52% masih mengandalkan modal sendiri, koperasi, kerabat, dan lembaga keuangan non bank lainnya.
 
“Kredit bank umum berdasarkan data pada 2015 juga mencatat hanya 9% kredit yang diperuntukkan  bagi sektor pertanian yang menunjukkan minat bank juga masih rendah,” jelasnya dalam Media Briefing bertajuk “Pembiayaan Pertanian di Persimpangan Jalan” yang digelar di Media Center LIPI Jakarta, Selasa (19/9).
 
Permasalahan akses kredit pertanian dan juga minat bank yang kurang ditengarai disebabkan oleh kredit yang tidak tepat sasaran. Kemudian adanya subsidi bunga, dan prosedur birokratis yang dikhawatirkan berimplikasi pada tingginya tingkat kredit bermasalah, target tidak terpenuhi, ataupun kredit yang tidak berkelanjutan.
 
Menurut Yeni, pemerintah perlu melakukan reformasi program kredit khusus sektor pertanian jika ingin meningkatkan akses pembiayaan dan mendorong produktivitas petani. “Pertama terkait proses bisnis. Harus ada skema kredit yang fleksibel, terpercaya, dan terjangkau. Selain itu, penting untuk membuat skema penjaminan kredit pertanian,” jelasnya.
 
Kedua, terkait ketepatsasaran bahwa bila pemerintah memunculkan program kartu tani, maka harus berbasis Information Communication Technology (ICT), dan harus ada perbaikan penyaluran kredit Sarana Produksi Pertanian (Saprotan).
 
Dan ketiga untuk keberlanjutan, harus dipikirkan insentif bagi Lembaga Penyalur kredit, profesionalisme analis kredit, dan peran kelompok tani. “Lalu yang terakhir terkait dampak, maka program kredit yang terintegrasi dengan program konsolidasi lahan perlu juga terintegrasi dengan program pemberdayaan kewirausahaan,” pungkasnya. (msa/ed: pwd)
 
 
Sumber foto ilustrasi berita: pixabay.com

 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Yeni Saptia S.E.M.Si.