Suplemen Makanan dari Teripang Digemari, Budidaya Teripang Perlu Digalakan

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Belakangan ini, kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat memang terbilang meningkat. Salah satunya berbentuk suplemen makanan. Dan, salah satu suplemen itu adalah dari olahan teripang.
 
Mengapa mulai digemari? Sebab, masyarakat perlahan mulai menghindari makanan praktis dan cepat saji yang menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Mereka membutuhkan suplemen untuk menggantinya, selain mengonsumsi makanan pokok utama yang sehat.
 
Abdullah Rasyid, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menuturkan, situasi pergeseran pola konsumsi inilah yang membuat sebagian masyarakat mulai menggemari jenis olahan teripang. Sebab, teripang memiliki kandungan gizi yang baik untuk tubuh.
 
Alhasil, tingginya minat masyarakat pada olahan teripang, membuat biota laut ini banyak ditangkap dan terancam punah keberadaanya di laut. “Oleh karena itu, sangat diperlukan budidaya yang tepat agar teripang tidak hanya ditangkap dari laut. Lalu, dikeringkan kemudian dijual. Tetapi, harus ada proses berkesinambungan untuk menjamin keterjagaan jumlahnya bagi pemenuhan kebutuhan makanan,” terang Rasyid di Media Center LIPI Jakarta, Kamis (22/2/2018) lalu.


 
Firdaus, peneliti Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI, menyambung bahwa teknologi budidaya teripang sendiri sudah dikembangkan LIPI lewat BBIL.  Satuan kerja ini mengembangkan teknik pembenihan teripang. “Kemudian, kami berupaya mengembangkan teknologi budidaya pembesaran secara bertahap hingga siap konsumsi,” tambahnya.
 
Dia menjelaskan, teknologi pembesaran mencakup budidaya dengan sistem sea ranching dan budidaya tambak. “Kami namakan budidaya TERBARU yakni teknologi budidaya dengan pendekatan multitrofik yang menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp dalam satu tambak,” terangnya.
 
Menurutnya, budidaya TERBARU sangat ramah lingkungan, dan memiliki nilai produktivitas dan nilai ekonomi yang jauh lebih baik. Saat ini penelitian tersebut telah dimanfaatkan berbagai stakeholder, yakni Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat, kelompok pembudidaya tambak di Sekotong, Lombok Barat dan Jerowaru, Lombok Timur serta pihak swasta dan juga BUMN.
 
“Teknologi budidaya TERBARU diharapkan bisa menjaga keseimbangan populasi teripang pasir di alam sekaligus memenuhi kebutuhan pasar dan mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir,” pungkas Firdaus. (lyr/ed:pwd,dig)



 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Abdullah Rasyid S.Si.