Survei: 54 Persen Masyarakat Kurang Paham Isu Iptek

 
 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei Pusat Penelitian Perkembangan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan 54 persen dari 1.829 responden di 10 kota di Indonesia kurang paham isu-isu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Hasil survei yang dilakukan selama empat bulan dan diolah menjadi buku Persepsi Masyarakat Indonesia Terhadap Iptek dalam satu tahun tersebut menunjukkan bahwa harus ada upaya yang lebih besar untuk mendorong masyarakat memahami pentingnya iptek, kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain di Jakarta, Rabu (2/9).

Dari hasil survei yang dilakukan kepada 51 persen perempuan dan 49 persen di Ambon, Balikpapan, Bandung, Batam, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta diketahui pemahaman masyarakat tentang iptek.

Ia mengatakan tiga jawaban besar masyarakat tentang iptek adalah sebagai penemuan besar (76 persen), perbaikan kehidupan masyarakat (62 persen), dan perubahan yang cepat (46 persen).

"Gambaran tersebut di dapat baru dari masyarakat kota, belum tahu hasilnya jika survei juga dilakukan pada masyarakat desa, " ujar dia.

Dari hasil survei itu pula, ia mengatakan diketahui bahwa masyarakat jarang mengunjungi tempat sumber informasi iptek. Hanya dua persen dari responden yang sering pergi ke museum, lima persen ke tempat bersejarah, tujuh persen ke kebun raya, 10 persen ke kebun binatang atau akuarium, dan 18 persen ke perpustakaan.

Sejauh ini, ia mengatakan media massa memiliki peran penting dalam memberi pemahaman terhadap isu-isu iptek.

Dan berdasarkan survei pula diketahui bahwa isu yang paling dipahami masyarakat adalah berkaitan dengan media sosial (96 persen), formalin (88 persen), dan teroris (88 persen).

Sedangkan isu yang paling tidak dipahami masyarakat adalah sistem peringatan dini (22 persen), depresiasi rupiah (21 persen), dan kurikulum tematik (19 persen).

Jika dibandingkan dengan masyarakat Malaysia dan Amerika Serikat (AS), maka masyarakat Indonesia yang sering mengunjungi tempat sumber informasi iptek seperti kebun binatang, museum sejarah, museum iptek, perpustakaan, dan museum senin jauh lebih rendah.

Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Iptek LIPI Trina Fizzanty, tingkat pendidikan tinggi umumnya sangat paham isu iptek, sebaliknya dari SMA/sederajat ke bawah sebagian kurang memahami.

Isu lain dalam buku ini yang menarik dibahas adalah prilaku iptek masyarakat. "Kita jadi tahu bahwa masyarakat Indonesia ternyata sangat jarang mengunjungi museum, perpustakaan dan tempat-tempat rujukan iptek dan sangat aktif menggunakan teknologi informasi untuk jejaring sosial dari pada mencari informasi.

Redaktur : Yudha Manggala P Putra
Sumber : Antara
Sumber : Republika.co.id, 2 September 2015

Sivitas Terkait : Trina Fizzanty

Diakses : 1850