Tahun Ini, LIPI Targetkan Bangun Science Techno Park di Cibinong

 
 
(Cibinong - Humas LIPI). Dalam upaya mendukung pembangunan Science Techno Park (STP) yang menjadi salah satu amanat dalam Nawa Cita, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menargetkan membangun Science Park (SP) di kawasan Cibinong Science Center(CSC), Cibinong, Jawa Barat pada tahun ini. Tujuannya selain menjadi pusat pengembangan dan edukasi iptek juga untuk mempercepat alih teknologi LIPI kepada masyarakat dan komunitas industri.

Hal tersebut dikatakan Dr. Nurul Taufiqu Rochman, Kepala Pusat Inovasi LIPI dalam Lokakarya Nasional: Pematangan Persiapalan Pelaksanaan Program Science and Technoogy Park bertempat di Auditorium Pusinov LIPI pada Rabu (4/2) lalu. Dengan dana 35 miliar rupiah, CSC diharapkan akan menjadi rujukan STP nasional. Dengan luas 180 hektar, CSC memiliki banyak potensi terutama di bidang bioresources untuk menjadi STP yang dapat membantu meningkatkan nilai perekonomian masyarakat, ungkap Nurul.

Selain CSC, LIPI juga akan membangun tujuh Techno Park (TP) di berbagai wilayah di Indonesia antara lain di Samosir, Sumatera Utara; Tasikmalaya, Jawa Barat; Banyumulek dan Mataram, Nusa Tenggara Barat; Enrekang, Sulawesi Selatan; Tual, Maluku; dan Ternate, Maluku Utara. "Setiap daerah tersebut memiliki keunikan bioresources sendiri yang layak dikembangkan. Sebagai contoh potensi teripang dan kerang mutiara di Mataram atau rumput laut di Tual, terang Nurul yang saat ini sedang melakukan inventarisasi hasil-hasil penelitian LIPI.

Lebih lanjut, ia menerangkan perbedaan antara SP dan TP. Science Park merupakan pengembangan dari penelitian dasar ke hilir, sedangkan Techno Park adalah implementasi dari hasil penelitian yang telah dilakukan. "Tapi intinya, keduanya sama-sama kawasan yang diperuntukkan untuk pengembangan iptek yang berperan mendorong komersialisasi ".

Terkait perkembangan yang tengah dilakukan LIPI dalam upaya membangun SP dan TP tersebut, Nurul menjelaskan, Kami sedang mengklasifikasi hasil penelitian LIPI yang sudah memiliki rekam jejak untuk mempercepat alih teknologi ini.

Pihaknya sendiri telah memiliki alat ukur untuk membantu mengidentifikasi nilai komersialisasi dari suatu teknologi. Kami menamakannya Innovation Readiness Level dengan tingkat tertinggi adalah adanya lisensi yaitu apabila hasil teknologi litbang sudah diadopsi industri, ungkapnya.(yos/ed: -)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Nurul Taufiqu Rochman

Diakses : 4051