Tujuh Saran Kebijakan Wujudkan Swasembada Daging Nasional

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Pertumbuhan penduduk terus meningkat seiring dengan isu pemenuhan gizi, ketahanan, dan kemandirian pangan. “Hingga saat ini ketersediaan produksi daging dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional,” tegas Syahruddin, Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahruddin, dalam orasi ilmiahnya berjudul “Perbibitan Sapi Potong Lokal Indonesia Berbasis Bioteknologi Reproduksi Mendorong Percepatan Swasembada Daging Nasional” pada Pengukuhan Profesor Riest, Selasa (6/10).

Profesor Riset ke-150 LIPI ini menyampaikan strategi dan saran kebijakan dalam rangka mewujudkan pencapaian swasembada daging nasional yang harus diacu dan diimplementasikan oleh pemangku kepentingan, yaitu (1) penciptaan bibit unggul melalui breeding dan perbaikan genetik, (2) peningkatan populasi dan mutu genetik melalui reproduksi dan pembiakan, (3) pemenuhan pakan berkualitas sepanjang tahun berbasis bahan baku lokal, (4) pengendalian dan pengontrolan kesehatan hewan dan betina produktif, (5) pasca panen dan pen-golahan untuk menciptakan margin dan nilai (value creation), (6) penerapan regulasi dan kebijakan pemerintah yang kondusif, serta (7) pengembangan SDM peternak.

Pria kelahiran Makassar ini mengatakan bahwa penerapan bioteknologi reproduksi dipadukan dengan teknologi marka genetik dalam seleksi program pemuliabiakan sapi potong dapat mempercepat perolehan bibit unggul. Pemanfaatan bibit unggul akan meningkatkan produktivitas sekaligus populasi sapi. “Implementasi iptek tersebut ke masyarakat ataupun industri peternakan, akan mempercepat pencapaian swasembada daging nasional, secara tidak langsung juga mengedukasi peternak kecil dan stakeholders,” katanya.

Syahruddin menjelaskan, penerapan bioteknologi reproduksi dalam perbibitan sapi telah menghasilkan sapi lulus uji performa serta tersertifikasi SNI, perbaikan penampilan ternak hasil seleksi, dan kelahiran turunan pertama sapi Belgian Blue double muscle di Indonesia. Selain itu, ia menambahkan, kelahiran sapi hasil in vitro fertilisasi dan embrio transfer menggunakan sperma sexing yang pertama di Indonesia merupakan aplikasi teknologi peternakan yang sangat strategis.

“Iptek tentang bioteknologi reproduksi telah dilaksanakan di 21 provinsi di Indonesia dan telah berhasil meningkatkan kelahiran ternak unggul serta peningkatan kapasitas SDM peternak,” jelas Syahruddin. “Hal ini membuktikan bahwa dengan SDM dan iptek yang dimiliki, Indonesia mampu menciptakan bibit unggul, sekaligus meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak lokal melalui penerapan iptek reproduksi peternakan,” terangnya. “Diharapkan, kontribusi ini mampu menjawab tantangan pemenuhan swasembada daging nasional,” tambahnya.

Sebagai penutup orasinya, Syahruddin menegaskan, diperlukan adanya paradigma baru dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional melalui pendataan ternak yang akurat, serta pengelolaan dan pemanfaatan sumber-daya lokal secara optimal. “Pelibatan sumber daya lokal berupa komoditas ternak, alam dan lingkungan, manusia, teknologi dan sosial budaya merupakan unsur penting dalam meningkatkan daya saing peternakan nasional,” rincinya.
 
 “Akademisi, pemerintah, pengusaha, dan masyarakat peternak harus bekerja sama lebih terstruktur dalam perannya masing-masing untuk mempercepat pencapaian swasembada daging nasional. Regulasi yang kondusif dan sinergi dari pemerintah, keterlibatan akademisi dalam menciptakan teknologi dan inovasi, serta peran swasta dan masyarakat dalam hilirisasi hasil riset harus diintegrasikan agar permasalahan penerapan bioteknologi peternakan bisa diatasi,” pungkas Syahruddin. (is/ed:sl).
 


Sivitas Terkait : Dr. Ir. Syahruddin
Diakses : 747