Upaya Peneliti Lawan COVID-19 dari Segi Pencegahan hingga Pengobatan

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Hingga saat ini Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenrterian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) masih terus melakukan upaya mendukung percepatan penanganan pandemi COVID-19. Seluruh tim peneliti Kemenristek/BRIN diarahkan untuk membantu mencegah, mendeteksi, dan merespon secara cepat dalam penanggulangan penyakit Covid-19 melalui riset dan inovasi di bidang pencegahan (vaksin dan suplemen), diagnosis, pengobatan, dan teknologi/alat kesehatan terkait Covid-19.

Menteri riset dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro, menyebut bahwa konsorsium riset adalah inisiatif dari Kemenristek/BRIN untuk mendukung upaya para peneliti dan perekayasa dari segala pihak. “Upaya para peneliti adalah bagaimana kita keluar dengan inovasi yang membuat kita dapat berhadapan dengan COVID-19 dari segi pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan teknologi atau alat kesehatan,” ujar Bambang pada Dialog Peneliti/Perekayasa Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, melalui live streaming Youtube pada Senin (18/5).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menjadi penerima Program Konsorsium dan Riset COVID-19. Untuk pencegahan, LIPI mengembangkan pembuatan APD proses crosslink berbahan antibakteri pada material kain melalui surface modification dan pembuatan nanomasker untuk proteksi udara tercemar. Sedangkan untuk diagnosis, LIPI mengembangkan deteksi COVID-19 satu langkah dari hasil swab nasopharyngeal pasien dan genome sequencing untuk mendukung pengembangan vaksin.

Untuk inovasi alat kesehatan LIPI membuat mobile ventilator terjangkau sebagai alat bantu pernafasan dan sebagai masker pelindung diri dan sistem pengawasan individu berbasis wearable device. LIPI juga mengembangkan kandidat vaksin rekombinan protein fusi.

Bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 menganggarkan Rp. 90 Miliar untuk mendanai proposal penelitian terkait COVID-19. Adapun sebanyak Rp. 60.6 Miliar sudah digelontorkan untuk mendanai penelitian 134 proposal penelitian tahap I. Sementara itu pengumpulan proposal penelitian tahap II sudah dibuka kembali dengan batas waktu pengumpulan 2 Juni 2020 melalui e-mail covid19@ristekbrin.go.id.

Bambang mengatakan untuk proposal penelitian tahap II ini diharapkan dapat lebih fokus ke obat herbal, keakuratan tes, dan upaya menjawab masalah kekurangan APD. Bambang juga menegaskan agar penelitian ini ditujukan untuk membantu bangsa Indonesia melawan COVID-19. “Bagi yang sudah menerima dana penelitian diharapkan agar bekerja secara optimal. Bukan untuk mencari yang paling ampuh, tapi apapun yang kita lakukan harus membantu masyarakat mengurangi dampak COVID-19,” pungkas Bambang. (sr)