Viral Pesan Gempa Jawa, LIPI Ingatkan untuk Waspada dan Jangan Mudah Panik

 
 

Jakarta, Humas LIPI. Sehubungan dengan viralnya penyebarluasan pesan potensi gempa karena pergerakan lempang Jawa yang beredar luas di masyarakat yang mengatasnamakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Meteorologi, Kilmatologi, dan Geofisika (BMKG), LIPI menginformasikan bahwa link atau tautan berita tersebut merupakan hasil wawancara Berita Satu TV dengan peneliti senior Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja.

Berita tersebut merupakan pendapat ilmiah dari kepakaran seorang peneliti kegempaan dimana sangat terbuka untuk melakukan diskusi ilmiah lebih lanjut. LIPI melihat berita ini sebagai bagian edukasi positif ke masyarakat yang seharusnya tidak dibumbui dengan hal-hal yang cenderung provokatif dan menimbulkan rasa ketakutan di tengah masyarakat luas.

LIPI mengklarifikasi bahwa penambahan kalimat seperti “KIAMAT MAKIN DEKAT. Lombok dalam sehari ini sudah dilanda Gempa sebanyak 3x dengan kekuatan 6,5 - 6,0 - 7,0 SR jika Gempa berkelanjutan hingga besok maka perkiraan BMKG mengenai MEGATHRUST Pulau Jawa sangat mungkin terjadi khsusnya Jakarta yg diperkirakan besarnya mencapai 8,9SR….Perbanyak doa dan tetap waspada”, Hari ini : Gempa hawai 8.2, Gempa jepang di Fiji 8.2, Gempa jepang 6.4, Gempa Lombok 7.0. Smuanya hari ini..Ring of Fire Lempeng bergerak efek domino..muterrrrr seluruh penjuru dunia #TerusBerdoa!!!”, dan “Pisahkan tas yang ada surat2, obat2 anak yg hrs dibawa dlm kondisi emergency mulai sekarang. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Amiin...aamiin” yang viral tersebut adalah bukan pernyataan resmi LIPI.

Menurut Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, pergerakan lempeng jawa adalah kewajaran. “Seluruh lempeng di permukaan bumi juga selalu bergerak karena itu adalah nafas bumi. Lempeng di selatan Jawa bergerak dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun. Kecepatan pergerakan ini jauh lebih kecil dari kecepatan pertumbuhan kuku di jari tangan manusia,” terang Eko.

Dirinya mengungkapkan jika seorang  peneliti mengemukakan potensi ancaman gempa maka hal itu harus dipahami sebagai imbauan untuk selalu waspada. “Gempa belum dapat diprediksi dalam konteks waktu manusia meskipun dapat diprediksi dalam konteks waktu geologi. Maka kita harus terus waspada. Ibaratnya kita gunakan helm jika berkendara di jalanan karena kalau tidak boleh jadi kita bisa celaka karena ditabrak oleh orang lain yang sembrono,” jelas Eko.

Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam pernyataan persnya mengatakan, tidak ada yang salah dengan imbauan LIPI agar masyarakat tetap waspada terhadap peluang terjadinya bencana gempa bumi di Indonesia setiap saat. “Hal ini karena Indonesia terletak berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Fakta ini yang harus dipahami oleh masyarakat”.

Menurut Dwikorita, yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita membangun harmoni hidup bersama dengan gempabumi melalui mitigasi bencana untuk meningkatkan perlindungan dan pertolongan mandiri dalam menghadapi bencana. (fza/ed: dig) 


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Eko Yulianto