Ekstrak Bawang Putih Kurangi Inflamasi Luka

 
 

Selain sebagai antibiotik herbal yang ampuh,bawang putih bisa digunakan untuk perawatan luka.Bahkan,mampu menurunkan peradangan pada luka dan jaringan parut.

Berbeda dengan antibiotik atau antiseptik kebanyakan, bawang putih lanang (bawang putih yang hanya terdiri atas satu siung) selain mengobati luka, juga bisa menurunkan peradangan luka dan tidak menimbulkan jaringan parut. Sementara itu,antibiotik biasa hanya mampu menyembuhkan luka. Hal itu berdasar hasil penelitian mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Brawijaya (Unbraw),Surabaya,Anis Murniati dan Mifetika Lukita Sari.

Mereka meneliti bawang putih (allium sativum L) dari jenis bawang putih lanang. Menurut Anis, ternyata ekstrak bawang putih lanang mampu mempercepat penurunan tanda inflamasi (tanda kemerahan) pada luka. Hal itu berbeda dengan antiseptik lainnya yang bisa menimbulkan jaringan parut, iritasi, dan resistensi terhadap beberapa jenis mikroba.

Saya tertarik meneliti bawang putih karena di dalamnya mengandung zat aktif allicin yang berfungsi sebagai antiinflamasi.Selain itu, akhir-akhir ini banyak musibah yang mengakibatkan luka terkontaminasi, seperti gempa di Yogyakarta atau luka terkontaminasi akibat kecelakaan, ujar Anis. Menurut dia, ada ribuan kasus luka terkontaminasi akibat gempa di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Namun kenyataannya, perawatan yang diberikan terhadap luka itu masih menggunakan povidone iodine 10 persen (kandungan yang ada dalam antiseptik). Padahal, ujar dia, banyak sekali penelitian yang menyatakan povidone iodine 10 persen itu memiliki efek yang kurang baik,atau kandungan zat di dalamnya bersifat korosif sehingga mengakibatkan iritasi yang menyebabkan jaringan parut. Anis menjelaskan,proses untuk penelitian ini yakni dia melakukan ekstraksi terhadap bawang putih, yang mengandung zat allicin yang berguna bagi penyembuhan luka tersebut.Namun, ekstraksi itu hanya ekstraksi kasar, tidak hanya diambil zat allicinnya.

Kemudian, sebagai uji coba, dia menyiapkan tikus putih betina empat kelompok, yang berisi lima ekor tikus putih betina. Beberapa konsentrasi ekstrak bawang putih lanang juga disiapkan, di antaranya konsentrasi 128 mg/ml (kelompok 1),256 mg/ml (kelompok 2), 512 mg/ml (kelompok 3), dan povidone iodene 10 persen (kelompok 4). Tikus itu dicukur terlebih dahulu dan digaris untuk mendapatkan luka yang sama.Lukanya dibuat sama, yaitu 2,5 cm, paparnya.

Kemudian, tikus yang telah dibius itu diberikan garis luka dengan menggunakan pisau bedah, lalu dilakukan penjahitan luka dan perawatan setiap dua kali sehari. Selama delapan hari, Anis memberikan perawatan luka tersebut dengan memperbandingkan antara efek penyembuhan yang ditimbulkan oleh ekstrak bawang putih dengan povidone iodene 10 persen. Setiap hari dilakukan pemotretan guna mengetahui kadar warna merah luka pada tikus putih betina tersebut.

Ketika terjadi peradangan ditandai dengan adanya warna merah,rasa panas,nyeri,dan menurunnya fungsi jaringan. Sementara itu,untuk mengukur warna merah tersebut, dia menggunakan bantuan teknologi komputer. Dari setiap pemotretan,kemudian kami ukur dengan bantuan teknologi komputer. Sebab, kalau hanya menggunakan penglihatan mata biasa,akan sulit terukur.Berbeda dengan menggunakan komputer, akan muncul angka ukuran dari suatu warna, paparnya. Pada hari kedelapan, dia mengukur warna kemerahan luka yang ada pada tikus tersebut.Hasil menunjukkan bahwa rata-rata penurunan intensitas warna kemerahan pada hari kedelapan,kelompok 1 adalah 49,26; kelompok 2 (45,44); kelompok 3 (45,32); dan kelompok 4 (62,96).Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki signifikansi 0, sedangkan ketika diuji pada kelompok 1 dan 2 signifikansi 0,35.

Dia menyimpulkan bahwa perawatan luka terkontaminasi dengan ekstrak bawang putih lanang bisa mempercepat penurunan tanda inflamasi eritema jika dibandingkan povidone iodine 10 persen. Penelitian kami memang untuk perawatan luka delapan hari. Itu lukanya belum sembuh. Biasanya, luka biasa normal itu untuk tikus 21 hari baru sembuh.Namun, dari penelitian kami kemarin, saat 18 19 hari, luka sudah sembuh, paparnya.

Hasil penelitian Anis dan temannya itulah yang akhirnya menjadi juara I lomba Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) untuk kategori ilmu pengetahuan alam (IPA), yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).Karena bentuk keprihatinan Anis atas banyaknya korban luka akibat bencana di Indonesia, tentu hasil penelitian itu akan memberikan kontribusi positif bagi penanganan kesehatan korban bencana jika dikembangkan.

Memang, berdasarkan masukan dari Dewan Juri LIPI,penelitian mereka bisa dikembangkan dalam hal guna mengetahui seluk beluk zat allicin dan kuantitas dosis penggunaannya, yang tentunya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Fungsi bawang putih memang untuk antiinflamasi. Kalau terjadi inflamasi kan normal, memang inflamasi itu dibutuhkan.Apabila terjadi kerusakan, akan mengeluarkan mediator kimia, kemudian akan merangsang pelebaran pembuluh darah.Tujuan pelebaran ini untukmeningkatkansuplaioksigen (O2) dan meningkatkan suplai makanan di daerah situ, jelasnya. Menurut Anis, tanda warna inflamasi akan meningkat apabila ada bakteri. Bawang putih lanang ini juga bisa berfungsi menghambat bakteri.

Dengan demikian,tanda inflamasi tidak memanjang dan secara otomatis menuju tahap berikutnya dalam penyembuhan luka. Meskipun berdasarkan penelusurannya penelitian bawang putih sering dilakukan di luar negeri, hanya bawang putih biasa.Namun, untuk penelitian bawang putih lanang jarang dilakukan. Awalnya, kami mengakses Internet.Penelitian serupa pernah dilakukan di luar, tetapi menggunakan bawang putih biasa, bukan bawang putih lanang. Kalau dari hasil analisisi kandungan,bawang putih lanang dan biasa itu beda, tandasnya.(abdul malik)

Sumber : Seputar Indonesia (1 November 2007)

Diakses : 3896