Gurihnya Laba Udang Galah

 
 
Pertengahan Juni 2008, Ateh Herdiana menebar 1.500 tokolan udang galah berukuran 5 cm di kolam seluas 300 m . Selang 40 hari dari kolam di samping rumah itu ia menjaring 1.350 udang ukuran konsumsi. Dengan harga Rp52.000/kg (isi 30 ekor) mantan distributor pakan itu mengantongi Rp2,34-juta.

Pembesaran Macrobrachium rosenbergii umumnya memakan waktu 5-6 bulan. Ateh menyingkat waktu pemeliharaan dengan menebar bibit ukuran tokolan 2, panjang 4 cm/ekor atau 4 g/ekor. Peternak lain lazimnya menebar bibit ukuran benur, 1,5-2 cm. Selain itu, Ateh memeliharanya di kolam dengan sistem rumah susun. Dengan begitu kepadatan naik menjadi 7ekor/m2; normal 5 ekor/m .
Rumah susun yang dibuat Ateh bentuknya mirip karamba. Dalam kolam 300 m itu Ateh menaruh 20 rumah susun terbuat dari potongan 64 bambu sepanjang 40 cm. Bambu itu disusun 4 tingkat. Di lubang-lubang bambu itu udang galah tinggal dan bersembunyi saat ganti kulit. Dengan demikian survival rate (SR)-tingkat kelulusan hidup-hingga panen mencapai 90-95 persen.
Memang butuh modal besar untuk membangun rumah susun bambu itu. Untuk 20 rumah susun yang membutuhkan 1.000 potong bambu Ateh merogoh, kocek Rp5-juta-Rp6-juta. Namun, harga itu sebanding dengan daya tahan bambu selama lebih dari 4 tahun, ucap Ateh.
Selama pemeliharaan, Ateh menghabiskan 50 kg pakan buatan untuk 1.000 ekor. Tak hanya itu, setiap hari 0,5 kg keong mas diberikan. Kalau saya hitung, ongkos produksinya sekitar 50 persen dari harga jual, ungkap Ateh. Itu artinya setiap panen pria yang sudah menggeluti udang galah selama 3 tahun itu meraup laba bersih sebesar Rp1,17-juta. Pendapatannya kian menggelembung karena selain kolam di belakang rumah, Ateh mengelola 3 kolam lain yang luasnya 240-250 m dan tak jauh dari rumah di Desa Sukajadi.

Permintaan tinggi

Sukses membudidayakan udang galah di rumah susun juga dirasakan Sukandi di Belitung, Kepulauan Bangka-Belitung. Sudah 2 tahun Sukandi menikmati gurihnya laba dari si bongkok. Sukandi memiliki 9 kolam beragam ukuran: 30 m x 50 m dan 20 m x 50 m. Masing-masing kolam ditebar 30 ekor/m . Setiap kali panen per 4 bulan-bobot minimal 33g/ekor- dijaring 2,7 ton giant fresh water prawn. Dengan harga jual Rp48.000/kg, pengelola Usaha Bersama Bina Warga di Batu Itam, Belitung, itu meraup omzet Rp129,6-juta.
Usaha pembesaran udang galah juga dipilih Yuli di Tegalsari, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Jawa Tengah. Sebanyak 12 kolam-8 kolam ukuran 225 m , 1 kolam (600 m ), 2 kolam (700 m ), dan 1 kolam (900 m )-berumah susun bambu diisi masing-masing 10 ekor/m tokolan 5 cm. Dari total bibit yang ditebar, sebanyak 47.000 ekor dipanen atau setara 1.567 kg. Dengan harga jual Rp52.000/ kg, staf Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional itu menangguk omzet Rp81,484-juta.
Udang galah yang diproduksi Ateh, Sukandi, dan Yuli belum memenuhi permintaan pasar. Paling baru 60 persen dari total permintaan, kata Ateh. Hal itu diamini Asep Saepulloh, kepala Bidang Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Ciamis. Permintaan udang galah dari tahun ke tahun terus meningkat, ujar Asep. Berdasarkan data yang dirangkum DKP Ciamis, permintaan untuk pasar Ciamis saja mencapai 170 ton/tahun. Karena itu pada 2006 pembesaran udang galah menjadi prioritas utama di sana.
Untuk memenuhi permintaan, sampai-sampai DKP mengeluarkan dana Rp1-miliar guna membantu pengembangan udang galah. Pantas luas wilayah budidaya udang galah di daerah itu terus bertambah. Bila pada 2006 seluas 63,13 ha; 2007 naik menjadi 85 ha. Namun, penambahan itu tetap saja belum cukup menutup tingginya permintaan. Yang baru terpenuhi hanya 40 persen.
Bukti lain di Yogyakarta, Purwanto Hadi meski sudah bermitra dengan peternak di Desa Minggir tetap kesulitan memenuhi permintaan 5-6 ton per bulan udang galah konsumsi. Padahal total kolam yang diusahakan seluas 7 ha. Kapasitas produksi maksimal hanya 3 ton per bulan, ujar dosen Arsitektur Landscape di Universitas Atmajaya, Yogyakarta, itu. Padahal, setiap tahun permintaan seputaran Kota Gudeg itu meningkat 5-10 persen.
Lonjakan permintaan sebesar 100 persen terjadi saat hari raya seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Nah, untuk memenuhinya Purwanto mengambil udang galah dari peternak di Ciamis dan Purbalingga. Kelimpungan memenuhi permintaan saat hari raya juga dialami Kelompok Tani Kurnia Jaya di Desa Panumbangan, Ciamis. Menurut Somantri, ketua kelompok tani itu, setiap hari permintaan dari Ciamis dan Bandung mencapai 4 kuintal. Padahal, Yang mampu dikumpulkan dari 50 anggota kelompok hanya 4 kuintal per minggu, ungkapnya.

Diserap restoran

Yang menjadi penyerap terbesar macrobrachium itu adalah restoran. Berbagai menu udang galah seperti udang galah bakar, saus tiram, dan asam manis menjadi favorit pengunjung. Harga per porsi mencapai Rp30.000-Rp32.000 untuk ukuran 250 g tak menyurutkan mereka menyantap udang galah, kata Tri Rahmadi dari Restoran Ledok Gebang. Restoran di Sleman, Jawa Tengah, itu butuh 5 kg/hari.
Pun Pondok Aroma Laut di Jakarta Barat, butuh 4 kg/hari. Yang diminta pengunjung biasanya menu rasa keju, ujar Aseng, karyawan restoran itu. Satu porsi menu udang keju dijual Rp92.000. Setiap minggu Ateh mendapat pesanan dari Rumah Makan Strawberry di Nagrek, Jawa Barat, sebesar 1-2 kuintal; terpasok 70 kg/minggu.
Selain restoran, permintaan datang dari pasar swalayan. Ever Fresh di Pejompongan, Jakarta Pusat, meminta 5 kuintal/minggu udang galah segar. Di luar itu Ateh pernah diminta eksportir sebanyak 1 ton. Untuk lokal saja sulit. Apalagi ekspor, katanya. Begitu pula peternak di Ciamis, pada 2007 mendapat order permintaan sebanyak 240 ton/tahun. Sayang hingga kini belum dapat ditindaklanjuti karena tidak ada barang.
Terbatasnya pasokan membuat beberapa pemilik restoran ikut membesarkan udang galah. Tengok saja Ade di Yogyakarta yang memiliki lahan pembesaran seluas 6 ha. Ada 16 kolam lain yang disewa dari peternak, ujar pemilik Restoran Mang Engking di Kota Pelajar itu. Setiap bulan Ade memanen 1,5-2,5 ton untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Menurutnya permintaan dari tempat lain di Semarang, Malang, dan Jakarta, juga banyak, hampir sama dengan kebutuhan restorannya, tapi belum terpenuhi. Wajarlah dari tataniaga udang galah itu Ade mendapat penghasilan kotor Rp82-juta-Rp130-juta per bulan.

Bibit ramai

Manisnya bisnis udang galah tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak yang khusus memproduksi bibit ikut kelimpahan rezeki. Mereka memproduksi benur mulai dari ukuran 1 cm sampai tokolan 2 berukuran 5 cm. Soal pasar Peternak pendeder tak kesulitan. Semua ukuran pasti ada pasarnya, ucap Wagiman Toyib, ketua Kelompok Mina Usaha Sejahtera di Pamarican, Ciamis.
Kelompok beranggotakan 140 peternak itu mampu memasok 2,1-juta/bulan ukuran benur. Salah satu pendedernya adalah Dani Jatnika yang setiap 45 hari memproduksi 500.000 ekor benur. Berapa pun benur yang dihasilkan pasti terjual. Bahkan ada yang inden, kata Dani. Dengan harga benur Rp40/ekor, Dani mendulang omzet Rp20-juta. Berdasarkan hitung-hitungan, setelah dikurangi modal pembelian larva Rp1-juta-Rp2-juta, Dani mendapat keuntungan bersih senilai Rp5-juta.
Di Semarang, Jawa Tengah, Tribudi Utama melepas 1-juta bibit ukuran tokolan 5 cm ke Boyolali, Lamongan, Ciamis, dan Banjar. Ciamis dan Banjar menyerap 70 persen dari total produksi, ujarnya. Tri mendapatkan benur untuk dibesarkan jadi tokolan dari peternak di Bali yang dibeli seharga Rp38/ekor. Setelah 2 bulan bibit dilepas dengan harga Rp200/ ekor. Biaya produksi murah hanya Rp25-30/ekor, kata Tri. Makanya ia terus berusaha untuk memenuhi permintaan yang mencapai 2-juta tokolan/bulan. Kalau berhasil pasti pundi-pundi alumnus Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada itu kian melambung.

Terhalang musim

Sedikitnya produksi udang galah ternyata bermuara dari kurangnya produksi larva. Rentetannya produksi benur dan tokolan pun terbatas. Menurut Susila SP, kepala Balai Bibit Udang Galah (BBUG) di Bantul, Yogyakarta, dari 4.000-5.000 induk, yang memijah hanya 10 persen setiap 1,5 bulan. Apalagi SR rendah, tidak lebih dari 37,5 persen. Dalam setahun total jenderal produksi larva sebanyak 2,5-juta-3-juta. Angka itu merosot 10-20 persen saat musim hujan, karena suhu turun dari 31 C menjadi 25-280C.
Yus Warseno, mantan kepala BBUG, mengatakan penurunan suhu 10C membuat udang stres sehingga udang malas makan. Dampaknya pakan sisa itu terus menumpuk, sehingga mencemari air. Itu memacu bakteri berkembang biak. Bila dalam waktu 2 hari tidak ditangani, larva-larva akan mati.
Kendala memproduksi larva juga terjadi saat kemarau. Debit air berkurang sehingga peternak tidak bisa memijahkan udang galah. Hal itu yang membuat Anto di Lido, Sukabumi, Jawa Barat, harus merelakan 7 kolam berukuran 8 m x 11 m kosong. Kalaupun air tersedia, tingginya intensitas cahaya matahari mempercepat pertumbuhan lumut. Lumut yang menempel di tubuh menghambat pertumbuhan udang alias membuat kuntet.
Belum lagi harga pakan yang terus merangkak naik mencapai Rp140.000/30 kg. Padahal, untuk membesarkan 1.000 tokolan 5 cm hingga ukuran konsumsi, 30 ekor/kg, butuh 50 kg pakan. Semua itu menghambat peternak untuk memproduksi udang galah. Itulah sebabnya untuk mensiasati harga pakan tinggi, Damiri, peternak pembesar di Yogyakarta, memanfaatkan nasi aking, ampas tahu, dan tiwul sebagai pakan tambahan. Setiap 1 ons pakan campuran diberikan untuk 100 ekor udang, katanya. Malam harinya diberi artemia.
Ditemukannya budidaya rumah susun diharapkan bisa memicu para peternak mengusahakan udang galah. Namun perlu diingat menerapkan sistem itu perlu kehati-hatian. Ateh pernah rugi Rp3-juta pada 2003, gara-gara menggunakan bambu yang baru dibelah. Semua tokolan di kolam dalam waktu 2 hari mati. Itu lantaran lendir dari bambu keluar dan meracuni udang.
Seyogyanya setelah dirangkai, rumah susun dijemur selama 10 hari. Kemudian direndam dalam kolam selama 7 hari sebelum udang dimasukkan. Jika budidaya dilakukan dengan benar, bahkan tidak mungkin gurihnya laba udang galah dalam genggaman. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Andretha Helmina, Tri Susanti, dan Ari Chaidir)

Sumber : Trubus 470 Januari 2009

Diakses : 3615