Horor Di Bukit Sampah

 
 

Longsor bukit sampah di Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Bandung, menewaskan puluhan orang. Leuwigajah tak pernah belajar dari sejarah-ini adalah longsor yang ketiga.

Malam masih perawan. Jarum jam Senin pekan lalu menunjukkan angka 02.00 dini hari. Adi Rohaedi, warga Kampung Cilimus, Desa Batujajar Timur, Kelurahan Leuwigajah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tengah dialun mimpi. Hujan yang menyergap sejak Minggu sore membuat pria 25 tahun itu memilih bersembunyi di balik hangatnya selimut.

Tiba-tiba bumi bergemeretak. Kampung yang sunyi itu menjadi gaduh. Longsor! teriak orang-orang yang ditelan suara gemuruh tanah yang bergerak. Sejurus kemudian lampu padam. Edi terkesiap. Ia sadar rumahnya hanya berjarak satu kilometer dari tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah.

Ia bergegas membangunkan istri dan anaknya dan menarik mereka ke pintu depan. Tapi pintu itu macet. Rupanya sampah telah mengurung bagian depan rumahnya. Dia panik dan berlari dari pintu belakang.

Di kepekatan malam Edi terperangah. Rumah sebelahnya sudah setengahnya tertimbun sampah. Ia berlari di atas sampah yang bergerak. Dentuman tiba-tiba mengagetkannya. Saat ia menengok, sebuah bola api menjilat-jilat angkasa. Di balik pijaran api itu ada bayangan hitam raksasa, yang ternyata gelombang sampah itu meluncur deras menghantam kampungnya.

Orang-orang kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri. Neneng yang keluar sambil menggendong Nendi panik melihat pemandangan yang menyergapnya. Saya mendengar orang-orang menjerit-jerit mencari anaknya, anak kecil menangis. Ada tangan yang menjulur-julur dari sana (tumpukan sampah), katanya. Mereka lolos dari lubang maut.

Drama horor juga dialami Ade, 58 tahun. Saat tanah sudah berderak dia berusaha membuka kamar anaknya. Namun, pintu itu tetap bergeming. Ia akhirnya mendobrak pintu dan mendapati sampah sudah mengubur dua anaknya, Rahanda dan Eni, hingga setinggi leher. Ia pun berjuang menggali sampah-sampah itu cuma dengan jari-jari tangannya. Mereka sempat berlari hanya beberapa saat sebelum rumah mereka dilumat sampah yang bergulung-gulung.

Saat fajar, keluarga ini terperangah. Rumah mereka, berikut 86 rumah lain di Kampung Cilimus, lenyap ditelan sampah. Sekitar 167 penghuninya diperkirakan ikut tertimbun sampah setebal 5-7 meter. Namun, hingga Jumat malam pekan lalu, korban tsunami sampah yang sudah ditemukan baru 76 orang dan masih ada 67 orang yang belum ditemukan. Sampah-sampah itu juga menampar dua rumah di kampung sebelah mereka, yakni Kampung Pojok Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Kedua kampung ini memang berada di mulut TPA Leuwigajah.

Sampah dan Leuwigajah adalah cerita lama. Kawasan seluas 23,6 hektare itu sudah dijadikan tong sampah sejak akhir 1970-an. Pada 1978 saja, ayah saya sudah diangkat menjadi koordinator lokasi ini, kata Dodo Kastijo, koordinator TPA Leuwigajah sejak 1992.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Kebersihan, Awan Gumelar, mengakui Leuwigajah sudah tidak layak lagi untuk pembuangan sampah. Leuwigajah yang berbentuk lembah dan diapit Gunung Pasir Panji dan Gunung Kunci dalam setahun menampung tak kurang dari 1,62 juta meter kubik sampah. Jumlah ini dalam 20 tahun sudah cukup untuk menutupi seperlima wilayah Bandung dengan sampah setinggi satu meter. Saya berharap, TPA dapat dipindahkan ke lokasi lain, kata Awan.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Ade Suhanda Adnawidjaja, Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, umur TPA Leuwigajah hanya tersisa lima tahun lagi. Dia mengakui telah terjadi kekeliruan dalam pengelolaan. Kami melihat sampah di Leuwigajah terkesan dibiarkan, katanya.

Tudingan ini bukannya tanpa alasan. Sistem pengelolaan menggunakan teknologi paling primitif, yaitu open dumping alias ditumpuk begitu saja. Saluran udara yang digunakan untuk membuang gas dari sampah juga tak terurus. Air lindi juga membuat air sumur-sumur warga terasa manis.

Buruknya Pengelolaan juga terlihat dari sampah yang tak lagi dipadatkan dengan tanah sehingga sampah membentuk bukit setinggi 50-60 meter denga luas enam kali lapangan bola. Tebing nyaris tegak lurus memiliki kemiringan 60-70 derajat serta guyuran hujan teru-menerus membuat tumpukan sampah ini rentan ambruk. Bukit inilah yang runtuh sejauh satu kilometer meninggalkan kawah berbentuk setengah lingkaran.

Ahli Geofisika Eksplorasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Edi Utomo, mengatakan, longsor kemungkinan besar terjadi karena material sampah organik dan nonorganik yang belum kompak menyebabkan air masuk di sela-sela sampah yang renggang. Saat tekanan air semakin berat, kestabilan bukit sampah pun hilang. Selain itu juga didorong oleh ledakan akibat gas metana (CH4) dalam jumlah besar yang terperangkap di dalam gundukan sampah. Analoginya sederhana, seperti septic tank yang ditutup rapat-suatu saat bias meledak, katanya (Berita terkait, lihat: Bakteri Pemicu Ledakan di Majalah Tempo, 6 maret 2005).

Sebenarnya cara asal timbun seperti yang dilakukan Bandung itu sudah mulai ditinggalkan kota-kota maju dunia. Singapura, misalnya, memilih membakar sampah dengan suhu tinggi. Jakarta juga telah membangun pengolahan sampah dengan teknologi pemilahan dan pemadatan sampah di Bojong, Klapa Nunggal, Bogor. Bali tak mau ketinggalan dengan mengolah sampah dengan energi listrik (Berita terkait, lihat: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Majalah Tempo, 6 maret 2005). Sayang, inspirasi teknologi mengolah sampah itu tak ada di Bandung, kota yang punya segudang ahli lingkungan.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menganggap ini tragedi memalukan. Soalnya, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Runtuhnya gunung sampah pertama kali terjadi pada 1993 dan kemudian berulang setahun kemudian. Pada musibah kedua inilah sampah menelan delapan rumah namun tidak ada korban jiwa. Ini konyol-bukan bencana alam, tapi bencana buatan manusia, kata Denny Jasmara, Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat. Mereka menuntut pemerintah Bandung lebih serius mengelola sampah. Bila tidak, bukan mustahil memang kelak Bandung jadi lautan sampah. Raju Febrian, Ahmad Fikri, Rana Akbari Fitriawan (Bandung)

Majalah Tempo, 6 Maret 2005, hal. 50-51.

Diakses : 1566