LIPI Garap Sampah Plastik

 
 

MUTIA RAMADHANI

Indonesia menjadi negara terbesar kedua di dunia pembuang sampah plastik ke laut.

DENPASAR Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan setidaknya tiga inovasi untuk meminimalkan permasalahan lingkungan akibat sampah plastik. Ketiganya adalah plasticizer dari turunan minyak sawit, bioplastik, dan mobile insenerator.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono mengatakan, plastik terbuat dari minyak bumi melalui proses polimerisasi. Akibatnya, ikatan kimia pada polimer tersebut sangat kuat dan sulit diputuskan. Proses penguraian sampah plastik pun membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Penguraian itu semakin sulit karena penambahan bahan-bahan kimia, seperti pelentur (plasticizer), antioksidan, stabilizer, dan kandungan aditif lainnya. "Salah satu inovasi teknologi LIPI menemukan plasticizer turunan minyak sawit yang sifatnya lebih aman untuk plastik," kata Agus kepada Republika, Kamis (3/3).

Plasticizer adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi plastik untuk menambah sifat kelenturan plastik, terutama jenis plastik polivinil klorida (PVC). Beberapa jenis plasticizer yang umum digunakan saat ini adalah turunan phthalate yang bisa menyebabkan gangguan reproduksi dan hormonal pada kesehatan manusia. Penggunaannya sudah dilarang di banyak negara, terutama Uni Eropa.

Inovasi LIPI lainnya adalah bioplastik berbahan dasar tapioka, selulosa, dan poliasam laktat. Bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional sebab sifatnya mudah terurai secara sempurna oleh mikroba dalam tanah atau air.

Teknologi ketiga adalah mobile insenerator. Agus menjelaskan sifat limbah plastik yang ringan, namun volumenya tinggi sehingga tidak ekonomis jika diolah secara terpusat. Jika limbah dibakar di lingkungan terbuka, itu juga berbahaya karena menimbulkan gas dioksin dan furan yang memicu kanker.

Mobile insenerator adalah alat pengolah limbah, termasuk limbah plastik yang bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Pengolahan limbah plastik dengan menggunakan mobile insenerator dapat membantu untuk mengatasi permasalahan limbah plastik yang dikumpulkan pada beberapa tempat. Insenerator ini dapat mengolah sampah plastik tanpa perlu khawatir timbulnya gas dioksin yang berbahaya.

Kepala Bagian Humas LIPI Isrard M menambahkan konsumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kilogram (kg) per tahun dengan pertumbuhan konsumsi 6-7 persen per tahun. Indonesia bahkan sudah menjadi negara terbesar kedua di dunia yang membuang sampah plastiknya ke laut.

"Sampah plastik ini dapat berubah menjadi mikroplastik yang terapung di lautan dengan ukuran lebih kecil dari satu mikron. Bahan ini jelas berbahaya jika sampai masuk ke rantai makanan melalui ikan, biota laut, dan berakhir di tubuh manusia," katanya.

Plastik banyak membuat kehidupan manusia lebih praktis karena sifatnya yang ringan, awet, dan murah dibandingkan kayu, kertas, dan bahan logam. Namun, kata Isrard, penggunaan plastik berlebihan untuk kemasan pangan, peralatan rumah tangga, hingga mainan anakanak bisa merugikan kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup.

Sebelumnya, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sudirman, menyebut, saat ini pemerintah tengah berfokus melakukan sosialisasi dan edukasi penerapan kebijakan plastik berbayar di 23 kota. Tujuannya agar tidak teijadi kesalahpahaman di masyarakat, sekaligus mengedukasi masyarakat agar mengurangi konsumsi plastik ketika berbelanja di swalayan.

"Kita akan melihat keberhasilan kebijakan ini dari berkurangnya jumlah timbulan sampah plastik," katanya, pada Senin (22/2). Pada Juni 2016 akan dilakukan riset untuk mengetahui efektivitas kebijakan tersebut.

Menyoal harga plastik yang dibanderol Rp 200, ia menyebut penetapannya setelah melalui sejumlah kajian agar tidak memberatkan konsumen. Ia menekankan, yang perlu disoroti bukan harga, melainkan edukasi agar masyarakat paham harus membawa kantong belanjanya sendiri. "Yang penting bagaimana gaya hidup berubah kalau belanja ke mal bawa tas belanja," katanya.

Ditanya soal kemungkinan konsumen memilih membayar Rp 200 ketimbang membawa kantung belanja sendiri, ia menyebut hal tersebutlah yang terus menjadi bagian dari edukasi. Setiap kasir swalayan tidak akan langsung memberi kantong plastik. Kasir akan memberi tahu bahwa plastik berbayar dan disarankan agar konsumen membawa kantung belanja sendiri.

ed: muhammad hafil


Sumber : Republika, edisi 4 Maret 2015. Hal: 5

Sivitas Terkait : Dr. Agus Haryono M.Sc.
Diakses : 3947