Smart Microgrid LIPI: Energi Baru Terbarukan Harus Beri Keuntungan untuk Masyarakat

 
 
Serpong, Humas LIPI. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI pada akhir 2016 lalu mencatat rasio elektrifikasi atau tingkat penduduk yang menikmati listrik 100 persen telah mencapai 91,15%. Namun masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik terutama daerah-daerah terpencil. Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik mengembangkan  teknologi smart microgrid untuk pemenuhan kebutuhan listrik untuk skala lokal yang telah  diterapkan di Raja Ampat, Papua dan Ciparay, Jawa Barat. “Teknologi ini  menawarkan sistem kelistrikan skala kecil di wilayah tertentu,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko di Serpong, tangerang Selatan pada Rabu (12/4) lalu.

Menurut Handoko smart microgrid bukan untuk menggantikan keberadaan genset. “Teknologi ini memadukan genset dengan potensi energi baru terbarukan atau EBT seperti biogas, arus air, atau angin sebagai alternatif bahan bakar selain solar,” jelas Handoko.

Smart Microgrid terdiri dari intellegent inverter yang dapat mengkonversi EBT untuk menyuplai beban listrik. “Kelebihan listrik disimpan dalam baterai yang dapat digunakan saat pasokan listrik utama dari PLN mengalami gangguan,” terang Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI, Budi Prawara.

Untuk ketersediaan komponen pendukung seperti baterai, Pusat Penelitian Fisika LIPI telah mengembangkan riset penyimpanan energi. “Kami telah mengembangkan teknologi pendukung untuk material maju seperti baterai lithium, fuel cell, juga magnet permanen,” terang Kepala Pusat Penelitian Fisika LIPI, Bambang Widiyatmoko.

Teknologi yang dikembangkan sejak tahun 2015 ini menggabungkan beberapa pembangkit dari sumber EBT antara lain mikrohidro, biomassa, dan surya dan telah diterapkan di Raja Ampat, Papua dan Ciparay, Jawa Barat.

Di Raja Ampat, teknologi ini telah menghemat 50 persen konsumsi bahan bakar diesel untuk genset Kri Eco Resort. “Kami menggabungkan dengan sel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik selama 24 jam,” jelas Budi.

Sementara di Ciparay,smart microgrid digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas dan listrik di Pondok Pesantren Baiturrahman seluas 35 ribu meter persegi. “Di Ciparay sumber energinya dipasok dari energi mikrohidro dan biogas yang memanfaatkan limbah ternak, kotoran manusia, dan sampah dapur,” terangnya.

Belum sentuh komersialisasi
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Alihuddin Sitompul menjelaskan riset pengembangan EBT seringkali belum menyentuh pada aspek komersialisasi. "Banyak hasil penelitian EBT  terbatas pada forum sendiri, belum dimanfaatkan luas untuk skala bisnis,” kata Alihuddin. Dirinya melanjutkan, pengembangan EBT akhirnya berjalan sendiri-sendiri tanpa dikomunikasikan sehingga tidak ada integrasi antarinstansi.

Lebih lanjut, Alihuddin menjelaskan peluang EBT untuk penyediaan listrik sangat besar. “Apalagi ada Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2016 untuk mendorong percepatan upaya menerangi desa-desa yang belum menikmati listrik,” ujarnya. Pihaknya juga tengah mewacanakan insentif khusus untuk rumah tangga yang menggunakan EBT. “Sedang kita bicarakan dengan Direktorat Jenderal Pajak utuk teknisnya,” tutupnya. (fza/ ed: isr)
 
 
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.