Soedjono dan Sarwono Pahlawan Para Ilmuwan

 
 

Jakarta, Kompas - Dua tokoh keilmuan Tanah Air, Prof Soedjono Djoened Poesponegoro (menteri riset pertama Indonesia) dan Prof Sarwono Prawirohardjo (ketua pertama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), akan diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional. Keduanya merupakan pendiri institusi keilmuan Tanah Air.

Kami akan mendekati pemerintah daerah DKI Jakarta untuk pengusulan gelar pahlawan nasional itu, kata Kepala LIPI Umar Anggara Jenie pada peluncuran dua biografi kedua tokoh tersebut di Jakarta, Selasa (15/9). Buku Tahun Penuh Tantangan Soedjono Djoened Poesponegoro Menteri Riset Pertama di Indonesia ditulis Dhurorudin Mashad, sedangkan Sarwono Prawirohardjo Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia ditulis Asvi Warman Adam.

Menurut Umar, keduanya menjadi calon pahlawan nasional pertama yang diusulkan resmi komunitas keilmuan Indonesia. Pahlawan tak harus datang dari mereka yang berjuang secara fisik di tengah perang, kata dia.

Sebagai dokter, pencapaian keduanya tak perlu diragukan. Soedjono adalah dokter spesialis anak sekaligus pendiri Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tanggal lahirnya diabadikan sebagai tanggal kelahiran IDAI. Ia juga pernah menjabat Ketua Presidium (Rektor) Universitas Indonesia.

Sementara itu, Sarwono merupakan dokter spesialis kebidanan dan kandungan (ginekolog) sekaligus pendiri Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Bidan Indonesia. Ia juga seorang yang berintegritas tinggi, pekerja keras, dan jujur.

Pak Sarwono sukses melindungi LIPI dari tekanan kuat politik aliran pada tahun 1960-an. Saya kira, Presiden Soekarno segan kepada beliau, kata mantan sekretaris Sarwono, yang juga ekonom LIPI, The Kian Wie.

Ciri pengabdian tulus kepada bangsa dan tidak larut dalam politik aliran lekat pada keduanya. Meskipun aktif dalam organisasi Jong Java Sarwono menjabat sebagai ketua pada tahun 1927 dan Soedjono merupakan Wakil Ketua Kongres Pemuda 1928 dari Jong Java keduanya tidak berpihak pada satu kubu politik tertentu.

Dokter keluarga Soekarno

Data yang dikutip Asvi, Sarwono merupakan dokter kepercayaan keluarga Presiden Soekarno. Sarwono yang membantu kelahiran Megawati dan Guruh, kata dia, mengutip iklan kelahiran Dyah Permata Soekarna Poetri alias Megawati Satyawati dari keluarga Soekarno pada harian Suara Merdeka edisi 15 Juli 1947 yang terbit di Tasikmalaya.

Sebagai dokter anak, Soedjono-lah yang berperan saat anak- anak Soekarno tumbuh besar.

Dikatakan Dhurorudin Mashad, kebersamaan keduanya tidak hanya dalam hal kesehatan keluarga Soekarno. Namun, dalam kiprah pembangunan institusi keilmuan Tanah Air.

Soedjono yang menjabat sebagai Menteri Urusan Riset Nasional pada tahun 1962 bekerja sama dengan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) yang diketuai Sarwono. Keduanya menjadi saksi peleburan MIPI dan Lemrenas (Lembaga Riset Nasional) menjadi LIPI, badan pembimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayang, hingga keduanya meninggal, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang bergerak di bawah undang-undang belum juga terbentuk. (GSA)

Kompas (16 September 2009)

Diakses : 555