Tanaman Sagu Bantu Restorasi Lahan Gambut

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Kebakaran hebat di lahan gambut telah menjadi ancaman yang rentan terulang setiap tahun. Salah satu solusi untuk mengatasinya adalah melakukan reboisasi, pembentukan hutan di area non hutan, dan agro forestasi dengan menanam tanaman sagu di lahan gambut.
 
“Restorasi lahan gambut sangat penting untuk dilaksanakan, dan tanaman sagu bisa membantu restorasi tersebut karena bisa tumbuh dengan baik di genangan air, sehingga cocok ditanam di lahan gambut,” ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Subiyanto saat membuka Joint Workshop on Utilization of Sago Ecosystem for Peatland Restoration di Gedung Widya Graha LIPI Jakarta, Kamis (11/8).
 
Dengan menanam sagu, lanjut Bambang, masyarakat lokal pun bisa mendapatkan manfaat dari upaya restorasi ini. Pohon sagu akan memiliki produktivitas yang tinggi dalam menghasilkan pati sagu. Selain itu, juga dapat menghasilkan biomassa setelah tutupan kanopi terbentuk, jelasnya.
 
Untuk restorasi tanaman dengan nama latin Metroxylon sagu itu, pemerintah menargetkan mampu merestorasi lahan seluas 200 juta hektar dalam jangka waktu lima tahun. Gambut sendiri tersusun dari tanah hasil dekomposisi tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air. Material organik tersebut terus menumpuk sehingga membentuk lapisan-lapisan dengan ketebalan lebih dari 50 cm.
 
Lahan gambut banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan ini pada dasarnya tidak bisa terbakar secara alami sekalipun pada daerah beriklim kering. Namun pengelolaan yang kurang tepat menyebabkan menurunnya kelembaban udara yang memicu kebakaran.
 
Kajian Bersama
 
Saat ini, LIPI bersama dengan Japan – ASEAN Science, Technology, and Innovation Platform (JASTIP), Kyoto University Jepang, Hokkaido University Jepang, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) Jepang, Japan Peatland Society (JPS) Jepang, serta Ministry of Environment Japan, melakukan kajian bersama terkait restorasi lahan gambut yang ada di Indonesia.
 
Kajian bersama ini diharapkan mengidentifikasi inovasi teknologi spesifik yang dapat diterapkan ke lahan gambut dengan kriteria tertentu. “Dan tentunya kita harus tetap memperhatikan kearifan lokal dalam kerangka konservasi berkelanjutan apabila menggunakan tanaman sagu sebagai bagian dari restorasi,” tekan Bambang.
 
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead menambahkan, salah satu hal penting saat ini adalah bagaimana mempopulerkan tanaman sagu sebagai tanaman yang cocok untuk lahan gambut, serta memiliki nilai ekonomi. “Bila ini sudah populer maka akan menarik investor, usaha kecil menengah, masyarakat, dan juga pemerintah sendiri untuk memanfaatkan tanaman tersebut,” katanya.
 
Mitsuru Osaki dari Hokkaido University Jepang menyambung bahwa apabila ditinjau dari sisi ekonomi, maka lahan gambut per hektarnya dapat ditumbuhi 100 tanaman sagu per tahun, dan setiap tanaman dapat menghasilkan 3 ton pati sagu, serta 100 ton biomassa. “Potensi yang dimiliki tersebut tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (msa/ed:pwd)

Sumber foto: Antara Riau

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof.Dr.Ir. Bambang Subiyanto M.Agr.
Diakses : 7885