Tantangan Pengelolaan Mikroplastik di Ekosistem Perairan Darat

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Hingga saat ini, sampah plastik masih menjadi masalah lingkungan dan mendominasi jenis sampah di Indonesia. “Sampah plastik menjadi sebuah dilema dan masalah karena kita masih membutuhkan plastik tetapi kita belum mampu mengelolanya,” ungkap Fauzan Ali, Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI pada Webinar Nasional  Mikroplastik di Ekosistem Perairan Darat: Teknik Identifikasi dan Tantangan Pengelolaan, pada Rabu (23/9).

Dirinya menjelaskan, sifat plastik yang sulit terurai secara alami, ditambah dengan bahan kimia yang terkandung di dalamnya, membuat pengelolaan sampah menjadi tantangan. Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik juga dapat mencemari ekosistem perairan darat seperti sungai, wara, hingga air tanah. “Butuh puluhan, bahkan ratusan tahun, agar sampah plastik dapat terdegradrasi. Bila plastik dibakar akan mengeluarkan racun, bila dibiarkan di alam akan menjadi pecahan-pecahan plastik yang disebut mikroplastik. Hal ini akan merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan hewan, tumbuhan, maupun manusia,” terangnya. 

Fauzan menuturkan bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengurangi penggunaan plastik belum cukup. Upaya tersebut perlu diimbangi dengan dorongan untuk mengubah kebiasaan konsumen dalam mengelola sampah plastik sehingga dapat terbentuk model sirkular dimana sampah plastik dapat kembali menjadi plastik siap guna.

Dede Falahudin, Peneliti Puslit Oseanografi LIPI, menjelaskan terdapat dua sumber mikroplastik, yaitu primary microplastic dan secondary microplastic. Primary microplastic adalah plastik yang dibuat dalam ukuran mikron untuk tujuan komersil, seperti kosmetik dan serat baju. “Sumber mikroplastik sudah banyak ditemukan di benda sehari-hari seperti lulur mandi, pasta gigi, dan sabun cuci muka. Mikroplastik juga terdapat pada serat-serat kain yang kita pakai sehari-hari, kecuali jika seratus persen katun,” rincinya.
 
Sedangkan secondary microplastic merupakan hasil degradasi dari plastik-plastik yang berukuran lebih besar, seperti botol air mineral atau kantung belanja. “Contohnya jika kita belanja ke supermarket menggunakan plastik yang biodegradable, proses degradasi plastik ini akan menyisakan hal yang lebih berbahaya karena akan tergradasi menjadi partikel-partikel kecil yang dinamakan mikroplastik yang dapat mencemari lingkungan,” papar Dede.
 
Dalam kesempatan yang sama, Haerul Hidayaturrahman, Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyarankan perlu adanya standar metodologi pengambilan sampel hingga analisa mikroplastik untuk mengidentifikasi mikroplastik dalam sebuah produk. Analisa ini nantinya dapat digunakan dalam pengambilan kebijakan. “Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan tidak menggunakan mikroplastik dalam produk tertentu dan dapat menerapkan baku mutu plastik yang keluar dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),” harapnya.

Solusi identifikasi sampah plastik coba ditawarkan oleh Riskfardini Annissa Ermawar, Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI. Ia mengungkapkan bahwa iLaB (Integrated Laboratory of Bioproducts) LIPI yang berada di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Cibinong memiliki beberapa peralatan yang dapat mengidentifikasi keberadaan mikroplastik. “iLab memiliki teknologi Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM) dan 3D Raman Spectroscopy, serta beberapa jenis mikroskop lainnya yang dapat digunakan untuk semua stakeholder,” tutup Dini. (yli/ed: sl, drs)
 


Sivitas Terkait : Dr. Ir. Fauzan A. M.Sc.
Diakses : 678