Terbaik, Keanekaan Hayati Laut di Raja Ampat

 
 

Jayapura, Keanekaan hayati laut di Kepulauan Raja Ampat, Sorong, Papua, dinilai terbaik di Indonesia, termasuk terumbu karangnya. Hasil pengidentifikasian 450 jenis karang, 950 jenis ikan karang, dan 600 jenis moluska oleh para ahli selama dua pekan di Kepulauan Raja Ampat mengungkapkan, ada empat jenis ikan temuan baru dan tujuh jenis karang baru.

Hal itu mengemuka dalam jumpa pers yang dipandu Manajer Program Conservation International (CI) Papua Suer Suryadi di Hotel Yasmin Jayapura, Sabtu (14/4/01). Hadir sebagai pembicara Dr Gerry Allen, peneliti dan ahli ikan karang dari CI, Dr John Veron ahli karang dari Australia, Dr Fred Wells ahli moluska dari Australia, dan Dr Sheila Mckenna (Direktur Marine Rapid Assessment Program/Rapid) CI).

CI bekerja sama dengan Universitas Papua di Manokwari mengadakan penelitian laut di Kepulauan Raja Ampat, khususnya menyangkut ikan, terumbu karang, ikan karang, moluska, dan tingkat kesehatan karang. John Veron menyimpulkan, laut di Kepulauan Raja Ampat adalah kawasan karang terbaik di Indonesia. Ia juga mengusulkan agar Raja Ampat secepat mungkin dijadikan situs warisan dunia untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di sana.

Pada penelitian ini, Veron yang telah menulis sejumlah buku mengenai karang antara lain Corals of The World, bersama Dr Fenner berhasil menemukan 450 jenis karang, tujuh jenis di antaranya baru bagi ilmu pengetahuan dan belum pernah ditemukan di dunia. "Menemukan jenis karang sebanyak itu belum pernah terjadi selama hidup saya. Bahkan belum pernah ada peneliti karang di dunia yang dapat menemukan lebih dari 400 jenis karang dalam satu kali kunjungan, " kata Veron.

Ikan karang

Dr Gerry Allen didampingi La Tanda dari LON LIPI Biak berhasil menemukan 950 jenis ikan karang. Dari jumlah itu, empat jenis tergolong baru bagi dunia, yaitu Eviota; sejenis ikan gobi, Apogon; ikan kardinal (ada dua jenis); dan satu jenis hiu disebut Hemiscylium. Gerry Allen yang ahli ikan karang dan ikan air tawar, telah meneliti ikan selama 25 tahun hampir di seluruh bagian dunia.

Dr Fred Wells, ahli moluska dari Australia yang ikut dalam penelitian itu mengatakan, dalam waktu singkat ia menemukan 600 jenis moluska berbagai ukuran. Dari kondisi yang ada di Raja Ampat, ia yakin terdapat lebih banyak jenis moluska dari yang sudah ditemukan sekarang.

Menurut Dr Sheila McKenna, dari hasil penelitian tim ahli tersebut disimpulkan bahwa kondisi karang di kawasan Raja Ampat dalam keadaan sehat dan bagus, dibandingkan di tempat lain di Indonesia. Kawasan ini perlu dikelola secara profesional, sehingga dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Gugusan Kepulauan Raja Ampat jauh lebih indah dan menyimpan kekayaan keanekaan hayati laut lebih banyak dibanding Pulau Paleo di Filipina yang selama ini mendapat perhatian sangat serius dari dunia internasional.

Pada kesempatan itu, Sheila Mckenna juga menyayangkan soal minimnya pemahaman sebagian besar masyarakat mengenai fungsi terumbu karang. Ia mengatakan, kerusakan terumbu karang terjadi di mana-mana. "Padahal, terumbu karang dapat berfungsi menyembuhkan penyakit kanker setelah melalui proses kimia dan sebagai rumah tinggal ikan-ikan kecil, " paparnya.

Kerusakan terumbu karang juga mendapat perhatian dari Ketua Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Prof Dr Ir Sahala Hutabarat MSc. Pada Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Perikanan Undip di Semarang, Sabtu, ia mengingatkan bahwa daerah terumbu karang memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi ekosistem perairan.

Oleh karena itu, paparnya, kelestarian terumbu karang haruslah terus dijaga dan jangan sampai rusak. "Sebab, kerusakan terumbu karang tidak hanya akan mengakibatkan turunnya produktivitas perairan, tetapi juga mengurangi populasi organisme air lainnya, " kata Hutabarat. (kor/son)

Sumber: Kompas /www.infopapua.com, 21 April 2004

Diakses : 1640