Tingkatkan Kualitas Kakao, Teknologi Starter Kakao INOKA Jadi Solusi

 
 
Lombok, Humas LIPI. Kakao merupakan salah satu komoditas primadona bagi pasar lokal dan internasional, khususnya untuk bahan baku produk coklat dan turunannya. Meski demikian, nilai jual biji kakau lokal di pasaran masih terbilang rendah karena kualitasnya masih kurang baik.
 
Kualitas kakao yang kurang baik disebabkan masih banyak petani kakao yang tidak melakukan proses fermentasi pada biji kakao yang mereka jual. Sehingga dibeli dengan harga yang sangat murah oleh pihak industri.
 
Tidak hanya itu saja, sebagian petani juga telah melakukan proses fermentasi tradisional tanpa sentuhan teknologi, namun biji kakao yang dihasilkan belum seragam. Akibatnya pihak industri tetap membeli dengan harga biji kakao asalan.
 
Guna memberikan solusi masalah itu, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fahrurozi mempunyai solusi teknologinya. Dia telah berhasil mengembangkan teknologi yang disebut formulasi starter kakao unggul INOKA.
 
Formulasi starter ini didapatkan melalui proses penelitian di laboratorium dan telah terbukti mampu mengoptimalkan proses fermentasi biji kakao. Proses fermentasi yang semula memakan waktu 6-7 hari dapat dipersingkat menjadi 4-5 hari saja.

 
 
Selain itu, biji kakao hasil fermentasi memiliki keunggulan aroma yang lebih baik serta kualitas biji yang seragam. Sehingga biji kakao hasil fermentasi menggunakan starter ini telah sesuai dengan standar mutu biji kakao Standar Nasional Indonesia (SNI).
 
Diseminasi
 
Fahrurozi pun berharap teknologi yang dikembangkannya bisa diadopsi oleh masyarakat petani kakao. Langkah agar teknologi itu bisa sampai ke masyarakat, pihaknya pun bersama Tim LIPI lainnya mendiseminasikan ke berbagai daerah di Indonesia.
 
Salah satu diseminasi tersebut diselenggarakan dalam Program Taman Tekno Banyumulek, Nusa Tenggara Barat (NTB). Program itu merupakan hasil kerjasama antara Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lombok Utara, NTB. Lewat kerja sama ini dilaksanakan kegiatan diseminasi Iptek fermentasi kakao kepada para petani kakao di Lombok Utara.
 
Kerjasama antara dua instansi yang telah berjalan setahun ini pun telah memunculkan senyum di wajah cerah para petani kakao di Desa Genggelang, Lombok Utara. Pasalnya, kualitas biji kakao hasil panen mereka telah meningkat signifikan setelah menerapkan teknologi LIPI.
 
Fakta ini terungkap ketika dilaksanakan kegiatan dengar pendapat antara Kelompok Tani Kopi dan Kakao Desa Genggelang dengan Komisi XI DPR RI, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, serta berbagai stakeholders terkait lainnya. Kegiatan dengar pendapat itu dilaksanakan di Aula Kelompok Petani Kakao ‘Bunga Mekar’, Dusun Senara, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, pada 13 September 2017 lalu.
 
Pada kesempatan tersebut, perwakilan kelompok tani kakao, Pardan, berbagi cerita keberhasilan setelah menerapkan starter INOKA LIPI. “Setelah kami terapkan, biji kakao yang semula berharga jual pada kisaran Rp. 25.000,- hingga Rp. 27.000,- per kilogram kemudian melonjak menjadi Rp. 35.000,- hingga Rp. 40.000,- per kilogram,” ungkapnya.
 
Kenaikan harga tersebut disebabkan biji kopi hasil fermentasi pendampingan LIPI menghasilkan biji kako dengan warna, aroma, tingkat keseragaman dan tingkat kandungan air yang lebih baik. Sebagai perbandingan, pada umumnya biji kakao kualitas premium grade A yang ada di pasaran memiliki jumlah biji kako sebanyak 80 biji/100 gram. Sementara dengan teknologi LIPI, biji kakao yang dihasilkan kelompok tani di Lombok Utara cukup mengumpulkan 62 biji/100 gram untuk mencapai grade A.
 
Artinya, kualitas biji kakao hasil teknologi fermentasi INOKA LIPI telah melampaui grade A yang ada di pasaran. Sehingga kualitas biji kakao Lombok Utara kompetitif dengan biji kakao negara-negara produsen besar kakao dunia lainnya, seperti Brazil, Equador, Pantai Gading, dan Ghana.


 
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi mengapresiasi hasil positif penerapan teknologi kakao LIPI. Dirinya mengajak LIPI untuk bekerjasama teknis lebih lanjut pada tataran lainnya. “Sehingga, kerjasama yang terjalin lebih luas lagi,” tutupnya. (Angga Wijaya HF [Puslit Bioteknologi]/ed: pwd)

Sumber foto ilustrasi berita: pixabay.com

 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr.rer.nat. Fahrurrozi M.Si.