Wujudkan ASN Profesional, Optimis, dan Produktif, SDM BRIN Pelajari Strategi Mengelola Isu dan Manajemen Krisis

 
 
Jakarta, Humas BRIN. Sebagai bentuk upaya mempersiapkan berbagai strategi dan taktik yang akan dilakukan dalam menghadapi perubahan, ASN di lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam hal ini khususnya SDM yang bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebelumnya, perlu mendapatkan pembekalan untuk mewujudkan profil ASN yang Profesional, Optimis, dan Produktif (POP). “Organisasi boleh bertranformasi, namun tugas sebagai ASN BerAKHLAK harus tetap berjalan professional,” terang Nur Tri Aries Suestiningtyas, Plt Sekretaris Utama BRIN dalam sambutanya pada Jumat (3/9/2021).

Kegiatan pelatihan ini menghadirkan pakar di bidang public relations sekaligus Presiden Direktur IPM Public Relations, Maria Wongsonagoro. Pelatihan yang dibagi menjadi dua sesi dalam satu hari ini membahas tema tentang strategi komunikasi krisis dan transformasi dalam lingkup publik internal dan eksternal.

Lima tahap strategi mengelola isu yang dipaparkan Maria yaitu, monitoring dan analisis untuk inventarisir isu, menjalankan proses isu sesuai prosedur, menetapkan strategi komunikasi dan rencana aksi, melaksakan rencana aksi, dan melakukan monitoring dan evaluasi hasil.

Maria menjelaskan bahwa ada beberapa langkah strategi yang harus dilakukan dalam menangani setiap isu yang berkembang. “Strategi yang bisa dilakukan adalah melalui monitoring dan analisa untuk inventaris isu hingga yang terkahir yaitu monitoring dan evaluasi hasil,” ungkapnya.

Dijelasakannya pula, pentingnya pembuatan laporan isu dalam komunikasi krisis. “Pelaporan isu penting untuk dibuat agar setiap isu yang muncul terkait organisasi dapat dipetakan dan ditangani dengan baik. Jangan pernah meremehkan sebuah isu yang muncul,” jelas Maria.

Pada kesempatan yang sama, Maria menerangkan strategi komunikasi krisis dan transformasi di publik eksternal mengatakan bahwa dalam manajemen isu krisis, perlu disiapkan SOP yang berlakukan dan mengaktifkan tim komunikasi krisis. “Krisis bisa terjadi sewaktu-waktu, jadi penting untuk menyiapkan SOP dan tim komunikasi krisis,” kata Maria. Selain itu, public relations dalam tim komunikasi krisis harus siap 24 jam dalam 7 hari. “Mungkin di bagian waktu kita masih malam, namun di bagian waktu lain pagi atau siang hari, jadi tim komunikasi krisis harus siap kapan pun krisis itu terjadi dan memahami manajemen isu yang ada,” jelasnya.

Driszal Fryantoni, Plt Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan BRIN dalam sambutan penutupnya berpesan, para Humas harus terus belajar untuk meningkatkan pengembangan kompetensi yang dimiliki. “Kegiatan ini bagus untuk pengembangan kompetensi kehumasan sehingga bisa memperkuat konsolidasi,” tutupnya.  (vgs/ ed: drs)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 3196