2035, JAKARTA DIKEPUNG BENCANA IKLIM

 
 
Suhu makin tinggi, defisit cadangan air tanah, banjir, dan kenaikan permukaan laut menyerbu Ibu Kota

JAKARTA. Jakarta diprediksi akan terkena dampak paling parah akibat perubahan iklim dibanding Depok dan Bogor. Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung bersama American Red Cross dan Palang Merah Indonesia itu menunjukkan pemanasan global akan meningkatkan kerentanan iklim di kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

Ibu Kota bakal menghadapi empat dampak bencana iklim sekaligus pada 2035 suhu diprediksi meningkat 2 derajat Celsius, curah hujan meningkat, cadangan air tanah menurun, dan permukaan air laut meningkat di Jakarta Utara. Menurut Armi Susandi, Ketua Program Studi Meteorologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, empat ancaman bencana tersebut membuat Jakarta menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di Asia Tenggara. Jika tidak dilakukan adaptasi dan mitigasi simultan sejak dini, bukan tidak mungkin keadaan menjadi lebih buruk.

Ancaman banjir,misalnya, tidak hanya berasa] dari Jakarta, tapi juga "kiriman " dari Bogor dan Depok, yang berada di dataran yang lebih tinggi. "Upaya adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, dan swasta di Jakarta harus melibatkan dua daerah di atasnya, "kata Armi saat memaparkan hasil risetnya dalam acara membahas perubahan iklim di perkotaan di Jakarta, 26 Mei 2015.

Armi dan tiga koleganya dari ITB, Saut Sagala, Mamad Tamamadin, dan Dodon Yamin, menggunakan data yang berlimpah untuk menghasilkan kesimpulan tersebut, yakni data curah hujan bulanan di 19 titik pengamatan selama 30 tahun,data temperatur di 7 titik pengamatan selama 30 tahun, peta jenis tanah, serta tata guna lahan di Jakarta, Depok, dan Bogor.

Data populasi penduduk juga dipakai untuk mengembangkan projeksi potensi penurunan cadangan ali tanah atau penurunan permukaan tanah. Proyeksi dilakukan sampai 2035 dengan Interval 5 tahunan. Simulasi kenaikan permukaan laut di Jakarta sampai 2100 menggunakan data Digital Elevation Model IKSAH resolusi tinggi 5 meter. Hanya Jakarta yang diteliti defisit cadangan air tanah dan kenaikan permukaan lautnya.

Dari penelitian yang dilakukan pada 2013 menunjukkan bahwa peningkatan suhu pada 2035 bervariasi di tiap kota. Di Jakarta, misalnya, diproyeksikan naik dua derajat Celsius. Di Depok naik 1,3 derajat Celsius, dan di Bogor 2,5 derajat Celsius. Curah hujan pada saat itu juga akan meningkat 200 milimeter per bulan di Bogor, 40 milimeter di Depok, dan 40 milimeter di Jakarta.

Curah hujan wilayah Bogor cukup tinggi. Selain diakibatkan pengaruh hujan musiman, disebabkan oleh hujan orografi, yakni hujan akibat dari pengangkatan uap oleh gunung. Ada tiga gunung yang melingkupi bagian selatan Bogor, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango. Karena itu, daerah Bogor hampir selalu dibasahi hujan sepanjang tahun.

Salah satu lokasi yang terdampak dari perubahan iklim adalah di bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi Bogor, Depok, dan Jakarta. Bencana banjir di sekitar tiga lokasi itu memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah di wilayah ini, menurut rekomendasi penelitian tersebut, antara lain membangun Infrastruktur pengendali bencana banjir, seperti waduk di kawasan Bogor dan Depok. "Air waduk ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk wilayah DKI Jakarta, "ujar Armi.

Penelitian lainnya, yang dilakukan oleh BBC Media Action pada Februari-Oktober 2012, dengan responden 4.985 orang di tujuh kepulauan di Indonesia, menunjukkan bahwa hanya sepertiga responden yang mendapat informasi memadai ihwal dampak pemilahan iklim.

Menurut peneliti BBC Media Action, Syarifah Dalimunthe, 84 persen responden merasa perubahan iklim itu akan mengancam kesehatan mereka. Sedangkan yang merasa terancam mata pencariannya berjumlah 71 persen. "Responden merespon perubahan itu dengan 15 persen di antaranya mengubah mata pencarian dan 33 persen mengubah gaya hidup, seperti lebih hemat listrik, " kata peneliti yang kini juga bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.


Sumber : Koran Tempo, edisi 4 Juni 2015. Hal: 12

Sivitas Terkait : Syarifah Aini Dalimunthe

Diakses : 597    Dibagikan : 0