9 Pertanyaan untuk Laksana Tri Handoko: Mengejar Pengakuan Bukan Penghargaan

 
 

DIDUKUNG sang isteri yang berprofesi sebagai wartawan, berikut seluruh keluarganya, Dr Laksana Tri Handoko secara konsisten dan intensif terlibat sekian lama dalam penelitian fisika teori. Baik yang berbasis eksperimen maupun kajian teoritis fundamental. Beberapa penelitian dilakukannya sendiri. Ada juga yang dilakukan dengan kolaborasi bersama fisikawan dunia melalui keterlibatannya dalam riset di laboratorium fisika partikel terkemuka dunia, seperti DESY di Hamburg, Jerman, dan laboratorium fisika teori yang didirikan Nobelis Fisika Abduis Salam, ICTP, di Trieste, Italia. Tak heran ia dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini untuk bidang sains.

Meski sehari-harinya berkutat dengan ilmu yang mensyaratkan inteligensi di atas rata-rata, bukan berarti Laksana, yang dalam situsnya menyatakan akrab disapa Koko, adalah orang yang sulit bercanda. Sebaliknya, ayah dua anak ini mudah tertawa dan sangat rendah hati. Berikut obrolan dengannya seusai ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 dari Freedom Institute bersama Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mulyanto, di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8) lalu.

1. Anda yang paling muda dari semua penerima penghargaan malam ini. Memangnya sejak kapan Anda bergelut di bidang fisika teori

Iya. Saya agak malu juga tadi disandingkan di depan. Pas ditelepon saya sempat berpikir, nggak salah, nih Akhirnya saya riset di internet tentang Freedom Institute dan saya tahu bahwa penghargaan ini sangat serius.

Saya sudah lama mendalami bidang ini (sains). Mungkin karena sejak SMA saya sekolah di luar negeri, jadi bisa memulai lebih cepat. Kalau di Indonesia umumnya memulai di usia 35-an. Dan saya sejak awal memang ambilnya ilmu fisika. Bidang yang jarang disentuh. Makanya tadi saat menerima penghargaan banyak yang bilang bahwa nggak ada yang memahami penjelasan mengenai apa yang saya kerjakan.

2. Bagaimana menjelaskan dengan bahasa sederhana apa yang Anda lakukan dalam penelitian fisika teori

Penelitiannya Gimana ya Begini, kita kan punya yang namanya unsur. Misalnya, ada baju yang terdiri atas unsur pembentuknya. Dan unsur itu terdiri atas unsur kimia natrium atau semacamnya. Yang juga terdiri atas molekul-molekul yang terdiri atas atom. Dan atom terdiri lagi atas ion dan elektron. Lalu orang tahu bahwa inti terdiri atas proton dan neutron. Tapi, ternyata proton terdiri atas sesuatu lagi. Sampai sekarang, itulah yang terakhir. Dan itu ada. Meskipun ada ribuan jenis, itu hanyalah kombinasi dari aneka macam dari 16 partikel fundamental. Nah, itulah yang teorinya sudah ada. Oleh teori itu sudah diprediksi. Dan dikonfirmasi oleh eksperimen. Tinggal satu saja yang belum. Jadi, 16 plus satu. Yang 16 sudah selesai, namun yang satu belum ditemukan. Ini partikel belum selesai. Belum jelas, benar enggak-nya teorinya.

3. Kenapa fisika teori disebut sebagai ilmu yang penerapannya sulit

Karena ini basic science. Masih jauhlah dari aplikasi dalam kehidupan. Kayak dulu, orang menemukan elektron. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun sampai elektron lalu bisa jadi elektronika. Jadi, yang saya teliti masih dasar sekali, yaitu untuk memahami interaksi. Memahami alam semesta. Mungkin masuk ke pelajaran teori fisika, tapi untuk mata pelajaran anak SMA sepertinya belum.

4. Anda terkejut dengan penghargaan ini atau sudah menduga sebelumnya

Saya kaget juga. Karena tiba-tiba mereka telepon. Kayaknya mereka cari tahu sendiri. Saya memang mengetuai riset ini mulai tahun 2003. Kami sempat publikasikan tahun 2005.

5. Makna penghargaan semacam ini buat Anda pribadi

Yang paling penting adalah pengakuannya. Bahwa orang tahu ternyata ada toh komunitas fisika teori selama ini. Pasti tadinya banyak yang nggak ngerti, toh Memang sedikit sekali orang yang meneliti di bidang ini.

6. Kenapa jarang orang yang tertarik dengan fisika teori

Bagaimana mau banyak Kan ini nggak menghasilkan duit, he-he-he. Saya nggak pernah mikir untuk mengejar penghargaan. Saya melakukan ini hanya karena scientific curiosity. Yang mendukung adalah lembaga kita sendiri dengan menyediakan tempat dan sarana. Penelitiannya juga tidak membutuhkan dana besar. Karena, kalau kita menyebut laboratorium dalam ilmu ini, adalah tempat yang penuh dengan kertas-kertas. Modalnya "nasi-pecel " aja. Jadi, cuma isi kepala aja. Tapi, jelas ini menghabiskan waktu. Meskipun saya tetap mengajar di UI.

7. Biasanya ilmuwan adalah orang yang serius dan kaku, tapi Anda pengecualian

Saya nggak serius ya Wah, ini muji atau menghina, nih Ha-ha-ha. Kalau di kampus, saya malah nggak serius, maksudnya lebih santai. Paling hanya pakai kaos saja. Makanya mahasiswa saya banyak. Bisa dilihat di website saya. Mungkin mereka tertarik karena cara mengajar saya menarik, ha-ha-ha.

8. Dengan latar belakang ilmu Anda yang tidak dipahami kebanyakan orang, bagaimana menyiasati komunikasi dengan peraih penghargaan lain

Yang jelas, sama-sama nggak mengerti. Jadi, malah nggak ada problem. Jadi, ya ngobrol aja.

9. Bagaimana komentar Anda atas kehadiran Presiden SBY malam ini

Saya senang jika Presiden tahu ada orang yang mengerjakan hal seperti ini. Itu saja sudah lebih dari cukuplah. Karena, memang tidak banyak orang yang mengerjakan ini, khususnya di Indonesia. Komunitasnya terbilang langka. Dan nggak terlalu diapresiasi juga. Karena dianggap nggak perlu. Artinya, nggak terlalu aplikatif secara langsung. Jadi, lebih susah mendapatkan apresiasi. Ya memang karakteristik ilmunya begitu, mau bagaimana Kalau di negara maju, ini kayak mercusuar. Penguasaan di suatu bidang adalah pencapaian yang jadi kebanggaan. Meskipun nggak ada aplikasinya juga, karena kita kan di level yang sangat ujung. Pioneer sekali.

Penulis : Sjifa Amori
Sumber : Jurnal Nasional (21 Agustus 2008)

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 4412    Dibagikan : 0