LIPI DORONG 20% PATEN DAPAT DIKOMERSIALISASI

 
 
LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki sedikitnya 500 hasil penelitian yang sudah dipatenkan. Sebanyak 20% di antaranya akan dipamerkan pada ajang Indone-sian Science Expo (ISE), Oktober mendatang.

Menurut Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto, beberapa hasil riset terpilih itu merupakan yang terbaik lantaran dinilai relevan dan berpotensi untuk segera dihilirisasi pihak industri. "Kami harapkan 20% dari yang dipamerkan nantinya bisa berlanjut kontrak dengan industri alias dikomersialisasi," ujarnya saat acara Kick Off ISE 2017 di Jakarta, kemarin.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, target jumlah itu naik signifikan. Ketika ISE pertama kali diadakan pada 2015, hanya ada lima inovasi riset yang dilirik industri.

Meskipun, ungkap Bambang, mayoritas bidang yang diunggulkan hingga kini cenderung sama, yaitu pangan, transportasi, kesehatan, dan energi. Bidang lain seperti maritim juga terus ditingkatkan.

"Untuk mempercepat proses hilirisasi itu, yang penting sebenarnya hitung-hitungan harga produk dan investasi. Itu yang paling sering ditanyakan industri," tukasnya.

Ketika menyadari hal tersebut, LIPI sudah mempersiapkan kajian tekno ekonomi untuk setiap hasil inovasi riset yang diunggulkan. Jadi, apabila ada industri yang tertarik, sudah siap hasil perhitungannya.

Semangat kompetisi

Namun, tidak terlepas dari itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang juga bertindak selaku Ketua ISE 2017 Laksana Tri Handoko menekankan pentingnya daya saing penelitian.

Melalui ajang ISE 2017, para peneliti di Tanah Air diajak untuk berani berkompetisi dengan peneliti asing. Harapannya, ke depan, semangat kompetisi itu akan mendorong hasil penelitian yang lebih baik.

"Ini pertama kalinya kita adakan kompetisi terbuka untuk peneliti kita bersaing dengan peneliti dari luar. Saya pikir kita enggak kalah," cetusnya.

Menurut Handoko, yang tak kalah penting ialah semangat menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Apalagi, dewasa ini jumlah peneliti baik di Indonesia maupun dunia sudah semakin sedikit.

Minat generasi muda untuk menjadi seorang peneliti cenderung minim. Handoko menilai hal itu terjadi lantaran masyarakat awam kurang diberikan edukasi dan pengetahuan tentang pentingnya sains.

"Acara yang akan kita gelar nanti di Balai Kartini tanggal 23-26 Oktober itu dijamin akan memberikan pengalaman baru bagi masyarakat untuk lebih mengenal ilmu pengetahuan," pungkasnya.

Perbanyak inovasi

Di lain hal, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir mendorong program studi sains dan teknologi diperbanyak. "Tujuannya mendorong inovasi Indonesia semakin meningkat," ujar Nasir seusai membuka Forum Rektor Indonesia di Jakarta, kemarin.

Menristek Dikti mengatakan, jika inovasi sudah meningkat, akan tercipta lapangan pekerjaan. Kemenristek Dikti pun mendorong adanya inovasi di empat bidang, yaitu kema-ritiman, energi, pariwisata, dan pertanian.

Di sisi lain. Nasir mengatakan pada 2017 pihaknya melakukan moratorium program studi sosial karena program tersebut sudah terlalu banyak.

Sumber : Media Indonesia, edisi 03 Februari 2017. Hal: 21

Sivitas Terkait : Prof.Dr.Ir. Bambang Subiyanto M.Agr.
Diakses : 59    Dibagikan :