LIPI Dorong Masyarakat Utamakan Produk SNI

 
 

Tangerang Selatan - Harga yang murah dan terjangkau lebih dijadikan pertimbangan pertama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia ketimbang kualitas suatu produk. Hal ini disebabkan karena rendahnya daya beli. Masyarakat pun perlu didorong memiliki budaya mengutamakan mutu produk.

Namun, pemerintah harus pula berperan membuat regulasi yang mewajibkan standardisasi produk atau Standard Nasional Indonesia (SNI) agar konsumen terlindungi. Produk terstandar pun tidak melulu harus selalu mahal harganya.

Kepala Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2 SMTP) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Fanar Syukri mengatakan, memang butuh waktu lama untuk mengubah budaya itu. Jepang pun butuh waktu hampir 30 tahun. Tentunya Indonesia bisa lebih dari itu.

"Kualitas seharusnya tidak bergantung harga. Idealnya berkualitas tapi harganya bisa murah. Sekarang pun ada kecenderungan ke arah sana," katanya di sela-sela Annual Meeting on Testing and Quality (AMTeQ) 2017 di kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (10/10).

AMTeQ 2017 ini merupakan kegiatan yang ke-12 kalinya. Tema dalam gelaran kali ini Penguatan Peran Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Untuk Membangun Kemandirian Bangsa di Era Global.

Saat ini lanjutnya, meski sejumlah kementerian dan lembaga serta swasta memiliki laboratorium pengujian beragam spesifikasi mutu produk, namun jumlahnya tergolong minim. Bahkan sumber daya manusianya juga minim.

Menurutnya, jika pemerintah sudah mendorong dan mewajibkan mutu, maka laboratorium secara otomatis banyak dibangun. Saat ini misalnya P2 SMTP LIPI membuat metode di bidang kelistrikan, LIPI juga punya lab metrologi, BPOM juga ada lab uji mutu obat dan makanan, Kementerian Pertanian untuk mutu benih dan Kementerian Perindustrian juga punya lab pengujian.

"Namun belum semua produk yang diimpor misalnya belum punya infrastruktur pengujian di Indonesia," ucapnya.

Agus menjelaskan, alat kesehatan yang masuk ke Indonesia 90 persennya impor. Pengujian produk dilakukan di negara asal. Namun yang berlaku di internasional, alat tersebut pun akan diuji kembali di negara tujuan. Jepang menerapkan hal itu untuk alat kesehatan dan obat.

Namun di Indonesia, infrastuktur laboratorium terstandar untuk pengujian belum siap. LIPI pun melalui P2 SMTP berupaya mendorong penguatan sistem mutu dan teknologi pengujian agar berdayaguna lebih baik lagi.

Agus mengungkapkan, P2 SMTP LIPI melakukan pengujian berbasis kelistrikan seperti alat elektronik rumah tangga. Sebab pengaruh elektromagnetik juga bisa berbahaya jika tanpa pengujian mutu produk.

Selain itu, P2 SMTP LIPI juga pernah menguji satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yaitu LAPAN A3 yang telah diluncurkan di India beberapa waktu lalu.

"Kita uji paparan matahari dan gelombang elektromagnetik yang dipaparkan dan goncangan sebelum satelit diluncurkan. Kalau mengujinya di luar negeri mahal," katanya.


Sumber : beritasatu.com. 10 Oktober 2017

Sivitas Terkait : Agus Fanar Syukri Ph.D.
Diakses : 135    Dibagikan :