LIPI Temukan Teknologi Deteksi Dini Longsor

 
 

[JAKARTA] Longsor menjadi salah satu jenis bencana paling mematikan dari bencana hidrometeorologi. Untuk mencegah timbulnya korban jiwa, upaya deteksi dini dan peringatan dini perlu dilakukan melalui teknologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengembangkan dua teknologi untuk memitigasi bencana longsor.

Prototipe dua teknologi hasil penelitian LIPI yang dikembangkan sejak tahun 2013 ini bahkan sudah diujicobakan di sejumlah lokasi. Dua teknologi ini adalah LIPI Wiseland dan The Greatest. LIPI Wiseland merupakan suatu sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel. Sedangkan, The Greatest adalah teknologi gravitasi ekstraksi air tanah untuk kestabilan lereng.

Melihat tingginya ancaman tanah longsor ini, LIPI mendorong pemerintah agar melakukan pencegahan tanah longsor dengan memanfaatkan hasil penelitian.

Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, mengatakan, tujuan dari pengembangan LIPI Wiseland adalah untuk menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan andal dalam memantau dan memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas.

"Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal, baik pada lereng alami, potongan maupun timbunan," kata Adrin yang juga pimpinan penelitian LIPI Wiseland dan The Greatest di Jakarta, Sabtu (17/2).

Adrin menyebut LIPI Wiseland mempunyai beberapa keunggulan, antara lain dapat menjangkau daerah pemantauan yang luas berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi, serta memiliki catu daya mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai kering atau lithium.

"Tidak hanya untuk memantau ancaman gerakan tanah/tanah longsor, LIPI Wiseland juga dapat digunakan untuk memantau kondisi keamanan struktur tiang bangunan tinggi seperti jembatan dan gedung bertingkat," paparnya.

Sistem monitoring ini, lanjutnya, telah diimplementasikan di lokasi rawan gerakan tanah di Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung; Jembatan Cisomang ruas tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta; dan Desa Clapar dan Kabupaten Banjarnegara.

Rawan Longsor

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, wilayah rawan longsor berada di sepanjang Bukit Barisan Sumatera, Jawa bagian tengah selatan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. Terdapat 274 kabupaten/kota yang berada di daerah bahaya sedang-tinggi longsor. Jumlah penduduk yang terpapar mencapai 40,9 juta jiwa.

Selama tahun 2018, telah terjadi 275 bencana yang menyebabkan 30 jiwa meninggal dan hilang. Bencana longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia. Sejak 1 Januari hingga 7 Februari 2018 terdapat 19 orang meninggal dunia akibat longsor.

Potensi longsor di Pulau Jawa meluas yaitu di daerah-daerah yang memiliki topografi pegunungan, perbukitan dan di lereng-lereng tebing yang di bawahnya banyak permukiman. Wilayah ini memanjang di Jawa bagian tengah hingga selatan. Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah daerah yang memiliki potensi paling banyak dari ancaman longsor.

Daerah rawan longsor tinggi di Jawa Barat meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Bandung Selatan, Purwakarta, Garut, Sumedang, Kuningan, dan Tasikmalaya. Sedangkan di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Pekalongan, Temanggung, Semarang, Karanganyar, Tegal, Wonogiri, Magelang, Purbalingga dan Boyolali.

Sedangkan di Jawa Timur terutama di Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, Malang, Pacitan, Mojokerto, Jember, Banyuwangi.[R-15]


Sumber : beritasatu.com, 19 Februari 2018

Sivitas Terkait : Dr. Adrin Tohari
Diakses : 346    Dibagikan :